Jack Reacher : Never Go Back (2016)

tom-cruise-jack-reacher-never-go-back-trailer-00
Tom Cruise. Nama besar yang masih menjual hingga tiga dekade lamanya ini tentu dikenal luas sebagai pesohor yang tak segan-segan melakoni banyak adegan aksinya sendiri tanpa bantuan pemain pengganti. Terakhir beraksi dalam seri kelima waralaba Mission Impossible, Rogue Nation , Cruise kini kembali ke sekuel filmnya yang lain, Jack Reacher : Never Go Back. Sekuel dari Jack Reacher, film aksi yang kurang diapresiasi oleh publik Amerika, walaupun tampil tak biasa secara visual dari sutradara, Christopher McQuarrie yang kelak membesut Rogue Nation yang lebih komersil, serta menampilkan sineas auteur Werner Herzog dalam perannya sebagai antagonis yang ganjil. Pun demikian, Jack Reacher cukup laris di pasaran luar Amerika Serikat serta menujukkan angka yang baik dari penjualan home video-nya. Hal ini cukup untuk meyakinkan Paramount memboyong lanjutannya ke layar lebar.



Jack Reacher (Cruise tentu saja) baru saja bersahabat pena (dan telepon) dengan petinggi militer, Major. Susan Turner (Cobie Smulder) yang membantunya dalam sebuah kasus pengungkapan perdagangan manusia. Sesaat setelah berjanji untuk bertemu pertama kalinya, Jack malah mendapati Susan tengah ditahan atas tuduhan pembocoran rahasia militer. Dipicu oleh keyakinan bahwa Susan bersih dari tuduhan tersebut, Jack lalu beraksi, berusaha membongkar konspirasi tingkat tinggi yang sebenarnya melatari kasus tersebut.
Menggeser McQuarrie adalah Edward Zwick, sutradara senior yang pernah menghasilkan film-film epik semacam The Last Samurai (yang juga dibintangi Cruise), Legends of the Fall, Glory, Defiance, hingga Blood Diamond. Dengan resumenya tersebut sebenarnya cukup mengejutkan ketika mendapati bahwa Never Go Back ini tampil begitu old school, sederhana, dengan adegan-adegan aksi dan alur penceritaan yang mengingatkan kita pada film-film aksi lama produksi tahun 90an. Di satu sisi, di tengah era dimana jargon lebih heboh lebih baik menjadi moto wajib film-film aksi, Never Go Back tentu terasa berbeda dari film-film sealirannya terutama sekuel yang sebagian besar selalu disajikan berlebihan dan lebih bombastis dari film pendahulunya. Namun, di satu sisi, Never Go Back juga berasa datar, ketinggalan zaman, dan kurang seru sebagai sajian hiburan. Begitu banyak lubang pada alur ceritanya, dan semuanya terlihat digampangkan dalam naskah tulisan Zwick, Richard Wenk, dan Marshall Herskovitz ini.

Hal positif dari Never Go Back, mungkin ialah akting Cruise yang terlihat sangat manusiawi di luar ketangkasannya sebagai protagonis yang lihai bela diri dan memainkan beragam senjata. Tak hanya berani terlihat mulai menua, Cruise juga berhasil menunjukkan sisi rapuh dan keluar dari tampilan tipikalnya yang selalu tampak bergaya dan berlebihan saat berteriak. Di usianya yang sudah kepala lima ini, Cruise makin terlihat matang dalam peran-peran aksinya belakangan ini, dan dalam Never Go Back bisa dikatakan ia terlihat tenang, simpatik dan lebih matang. Di luar faktor Cruise yang menjadi bintang dan sorotan, Smulder yang kita kenal via peran tangguhnya di Avengers dan serial How I Met Your Mother melanjutkan karakter Maria Hill-nya yang kuat dan tenang di sini, chemistry-nya dengan Cruise juga lumayan, dan untungnya ditampilkan secara platonik dan tidak berakhir sebagai romansa klise. Lalu aktris muda, Danika Yaros, walaupun awalnya cukup menyebalkan saat muncul di layar, berhasil menyuguhkan unsur dramatik yang pas dengan Cruise di penghujung film. Sayangnya, Patrick Heusinger yang kebagian sebagai lakon antagonis mematikan, kurang meyakinkan dan jauh dari tampilan Herzog dan Jai Courtney di Jack Reacher. 

Secara keseluruhan, Never Go Back yang kembali melempar karakter rekaan novelis Lee Child ini ke layar perak, memang tampil sederhana, tidak berlebihan dan kecil serta personal untuk ukuran film aksi bintang besar sekaliber Tom Cruise. Alurnya yang juga generik dan gaya film lawas 90an mungkin menjemukan bagi sebagian penonton. Tapi, di sinilah kita bisa melihat akting bagus Cruise yang semakin matang dan kalem seperti filmnya, sebuah poin positif yang semoga kita dapati di film-film Cruise ke depannya.