Minggu, 23 Oktober 2016
The Boy (2016)
The Boy (2016)

Tahun baru dibuka dengan dua horor
supranatural yang kebetulan sama-sama dibintangi oleh dua aktris dari
dua serial paling populer di televisi. Ada jebolan The Game of Thrones, Natalie Dormer yang membintangi The Forest yang hasilnya, MEH! Kini giliran bintang The Walking Dead,
Lauren Cohan mencoba peruntungannya di layar lebar sebagai tokoh
sentral setelah sebelumnya hanya menjadi karakter penggembira di
beberapa film macam Casanova dan Death Race 2.
The Boy yang sebelumnya sempat diberi judul The Inhabitant
ini punya premis horor klasik, menggabungkan cerita rumah hantu dan
ancaman boneka setan. Mungkin sepintas premisnya tidak akan jauh-jauh
dari koleganya macam franchise populer Child’s Play dengan Chucky-nya atau yang terbaru, Annabelle. Tetapi menjadi menarik ketika sutradara William Brent Bell (Wer, The Devil Inside) mencoba sedikit memodifikasinya menjadi sajian horor misteri yang (awalnya) menarik.
Lauren Cohan adalah Greta, perempuan
muda asal Amerika yang mendapatkan pekerjaan sementara untuk
mengurus anak dari keluarga tua di sebuah desa terpecil di Inggris.
Sebelum pergi, suami-istri Heelshire (Jim Norton, Diana Hardcastle)
memberitahu Greta beberapa peraturan khusus untuk merawat Bhrams putra
delapan tahun mereka. Yang mengejutkan Greta adalah fakta bahwa Bhrams
bukan manusia, ia adalah sosok boneka keramik yang diperlakukan layaknya
bocah laki-laki oleh orang tuanya, termasuk mengajaknya berbicara,
makan malam, menggendongnya ke sana kemari dan memanjakannya seperti
anak manusia normal. Meski Greta menjalankan tugasnya dengan baik
menjaga kediaman keluarga Heelshire namun ia memilih untuk tidak
memedulikan peraturan-peraturan aneh yang diberikan pasangan Heelshire
untuk merawat Bharms. Dan dalam term horor kamu pasti tahu akibat yang terjadi jika memilih untuk membandel; Mimpi Buruk!
Mudah untuk terlarut cepat dalam The Boy
ketika Bell mengajak penontonnya untuk langsung tercebur dalam
kubangan misterinya yang sudah dibangun kuat sejak awal. Tidak sulit
untuk menebak ada yang salah dengan rumah tua dan boneka bocah pucat itu
ketika kejadian-kejadian aneh mulai muncul dari sekedar suara-suara
aneh, mimpi buruk sampai Bhrams yang berpindah sendiri. Tetapi sayangnya
meski digarap dengan tata artistik dan visual gotik yang berhasil
memancarkan aroma creepy, secara keseluruhan Bell gagal menjalankan tugasnya untuk menjadikan The Boy
sebagai horor yang meneror. Ya, ia tidak seram untuk horor yang
menawarkan konsep boneka yang hidup dan bergerak karena pada
kenyataannya sang boneka sendiri tidak memberi ancaman nyata baik dari
sisi fisik maupun supranatural. Bharms memang seperti bergerak sendiri
termasuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi kita berada
di dalam posisi yang sama dengan karakter Greta yang tidak pernah
melihat prosesnya sendiri. Ada sih beberapa momen yang menakutkan tetapi
porsinya hanya secuil, sisanya lebih banyak dihiasi dengan jump scare medioker dan formula horor konvensional yang membosankan termasuk adegan mimpi yang repetitif.
Dalam perjalanannya misteri yang tampak
menjanjikan di awal film berangsur-angsur menguap
dan kehilangan daya cengkeramannya. Jangan salah, dari segi
akting Lauren Cohan sendiri tampil baik, sama ketika Natalie Dormer
menjadi bintang di The Forest, namun sayang Bell
membuat karakternya menjadi terlihat bodoh dengan pemilihan dialog dan
pengambilan keputusan yang konyol. Sementara pencarian petunjuk dan
penemuan fakta-fakta dari masa lalu seperti menjadi terbuang percuma
ketika twist yang dihadirkan Bell malah berakhir antiklimaks.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar