The Boy (2016)

 The-Boy_2016-19

Tahun baru dibuka dengan dua horor supranatural yang kebetulan sama-sama dibintangi oleh dua aktris dari dua serial paling populer di televisi. Ada jebolan The Game of Thrones, Natalie Dormer yang membintangi The Forest yang hasilnya, MEH! Kini giliran bintang The Walking Dead, Lauren Cohan mencoba peruntungannya di layar lebar sebagai tokoh sentral setelah sebelumnya hanya menjadi karakter penggembira di beberapa film macam Casanova dan Death Race 2.

The Boy yang sebelumnya sempat diberi judul The Inhabitant ini punya premis horor klasik, menggabungkan cerita rumah hantu dan  ancaman boneka setan. Mungkin sepintas premisnya tidak akan jauh-jauh dari koleganya macam franchise populer Child’s Play dengan Chucky-nya atau yang terbaru, Annabelle. Tetapi menjadi menarik ketika sutradara William Brent Bell (Wer, The Devil Inside) mencoba sedikit  memodifikasinya menjadi sajian horor misteri yang (awalnya) menarik.

Lauren Cohan adalah Greta, perempuan muda asal Amerika yang mendapatkan pekerjaan sementara untuk mengurus anak dari keluarga tua di sebuah desa terpecil di Inggris. Sebelum pergi, suami-istri Heelshire (Jim Norton, Diana Hardcastle) memberitahu Greta beberapa peraturan khusus untuk merawat Bhrams putra delapan tahun mereka. Yang mengejutkan Greta adalah fakta bahwa Bhrams bukan manusia, ia adalah sosok boneka keramik yang diperlakukan layaknya bocah laki-laki oleh orang tuanya, termasuk mengajaknya berbicara, makan malam, menggendongnya ke sana kemari dan memanjakannya seperti anak manusia normal. Meski Greta menjalankan tugasnya dengan baik menjaga kediaman keluarga Heelshire namun ia memilih untuk tidak memedulikan peraturan-peraturan aneh yang diberikan pasangan Heelshire untuk merawat Bharms. Dan dalam term horor kamu pasti tahu akibat yang terjadi jika memilih untuk membandel; Mimpi Buruk!

Mudah untuk terlarut cepat dalam The Boy ketika Bell mengajak penontonnya untuk langsung tercebur dalam kubangan misterinya yang sudah dibangun kuat sejak awal. Tidak sulit untuk menebak ada yang salah dengan rumah tua dan boneka bocah pucat itu ketika kejadian-kejadian aneh mulai muncul dari sekedar suara-suara aneh, mimpi buruk sampai Bhrams yang berpindah sendiri. Tetapi sayangnya meski digarap dengan tata artistik dan visual gotik yang berhasil memancarkan aroma creepy, secara keseluruhan Bell gagal menjalankan tugasnya untuk menjadikan The Boy sebagai horor yang meneror. Ya, ia tidak seram untuk horor yang menawarkan konsep boneka yang hidup dan bergerak karena pada kenyataannya sang boneka sendiri tidak memberi ancaman nyata baik dari sisi fisik maupun supranatural. Bharms memang seperti bergerak sendiri termasuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tetapi kita berada di dalam posisi yang sama dengan karakter Greta yang tidak pernah melihat prosesnya sendiri. Ada sih beberapa momen yang menakutkan tetapi porsinya hanya secuil, sisanya lebih banyak dihiasi dengan jump scare medioker dan formula horor konvensional yang membosankan termasuk adegan mimpi yang repetitif.

Dalam perjalanannya misteri yang tampak menjanjikan di awal film berangsur-angsur menguap dan kehilangan daya cengkeramannya. Jangan salah, dari segi akting Lauren Cohan sendiri tampil baik, sama ketika Natalie Dormer menjadi bintang di The Forest, namun sayang Bell membuat karakternya menjadi terlihat bodoh dengan pemilihan dialog dan pengambilan keputusan yang konyol. Sementara pencarian petunjuk dan penemuan fakta-fakta dari masa lalu seperti menjadi terbuang percuma ketika twist yang dihadirkan Bell malah berakhir antiklimaks.