Minggu, 23 Oktober 2016
Deadpool (2016)
Deadpool (2016)
Jujur saja, saya tidak tahu bagaimana
memulai ulasan ini, karena begitu banyak kekacauan luar biasa
menyenangkan di sini yang sedikit banyak juga mengacaukan pikiran saya. Ya, Deadpool
adalah sebuah sajian superhero adaptasi dari komik Marvel yang punya
satu jurusan dengan dunia X-Men. Proyeknya sendiri sebenarnya sudah
direncanakan sejak sedekade silam, jauh sebelum karakter ciptaan Fabian
Nicieza dan Rob Liefeld ini sempat mampir di X-Men Origins: Wolverine
dengan porsi dan penampilan yang bisa dibilang kurang pantas (mulut
terjahit?!). Tetapi baru dua tahun belakangan Fox benar-benar serius
menghadirkan versi live action-nya. Tidak tanggung, Fox
langsung memberi tempat Deadpool dalam universe X-Men mereka ketimbang
hidup dalam kisahnya seorang diri meski sayang dengan bujet yang hanya
sepertiga dari franchise superhero kebanggaan mereka itu. Jadi tidak
usah heran jika kamu akan menemukan banyak sindiran kocak tentang X-Men
di sini.
Tetapi sesungguhnya melabeli Deadpool
sebagai seorang pahlawan super mungkin terasa kurang tepat, meski ia
punya kekuatan lebih dalam hal bertarung baik dengan senjata maupun
tangan kosong, serta kemampuan cepat sembuh ala Wolverine. Kamu mungkin
lebih tepat menjulukinya dengan sebutan “anti-superhero” superhero
karena selera humor dan mulutnya yang setajam dua bilah katana
di punggungnya. Satu hal yang pasti, ini adalah sajian yang superhero
yang hebat dan super duper kocak, jauh melebihi ekspektasi sebelumnya.
Jika kebetulan kamu sudah pernah melihat trailernya lebih dulu,
percayalah, apa yang tersaji di sana hanya secuil kecil dari begitu
banyak kegilaan dan kesenangan yang ditawarkan Deadpool.
Tentu saja sebagai pahlawan ‘baru’ di
dunia per-superhero-an layar lebar, khususnya dalam franchise X-Men,
Deadpool butuh mengenalkan diri pada penonton non fanboy-nya
yang awam tentang dirinya meski sebenarnya tim marketing dari Fox sudah
melakukan pekerjaan fantastis di berbagai media, dari sekedar akun
Twitter, pemilihan poster sampai billboard nyeleneh sampai yang
terakhir ketika melibatkan beberapa punggawa Manchester United dalam
usaha memasarkannya. Ya, kita tetap butuh sebuah origins, dalam kasus ini ada sebuah kisah cinta yang tersaji jauh sebelum ia menjadi film superhero dalam sebuah rangkaian flashback.
Wade Wilson (Ryan Reynolds) ada tentara bayaran yang suatu hari
terlibat hubungan asmara dengan Vanessa Carlysle (Morena Baccarin).
Pertemuan kemudian menjadi cinta, tetapi belum sempat mereka menikmati
kebersamaan lebih lama, Wade didiagnosa mengidap kanker stadium akhir
yang lalu memaksanya pergi meninggalkan Vanessa untuk terlibat dalam
sebuah percobaan dari seorang yang menamakan dirinya Francis Freeman (Ed
Skrein). Bisa ditebak, meski melewati siksaan fisik luar biasa, serum
ciptaan Francis berhasil menyembuhkan Wade dari kankernya, tidak hanya
itu, ia juga memberi Wade kekuatan super termasuk di dalamnya kemampuan
untuk menyembuhkan diri dengan cepat, hanya saja efek sampingnya membuat
tubuh dan wajah Wade menjadi rusak. Dari ini ia kemudian menjadi
Deadpool, vigalante bertopeng yang menuntut balas kepada Francis Freeman yang sudah merusak hidupnya.
Menonton Deadpool berarti kamu
harus mempersiapkan dirimu untuk menghadapi 108 menit penuh kejutan dan
kegilaan yang seperti tanpa batas. Terakhir menonton gelaran superhero
dengan dosis komedi tinggi adalah The Guardian of The Galaxy, tetapi Deadpool
jelas adalah kasus yang berbeda. Siapa yang menyangka bahwa spesialis
spesial efek yang didapuk menjadi sutradara macam Tim Miller ini
bisa memberikan batasan begitu tinggi dalam menghadirkan sajian
superhero komedi, bahkan ini adalah film pertamanya. Miller seperti tahu
benar bagaimana membawa spirit komiknya ke versi live action,
membiarkan Ryan Reynolds bersenang-senang dengan segala aksi heroik
dalam balutan lateks merah ketat plus mulut ‘sampah” guna menebus
kesalahannya di masa lalu ketika ia sempat mengenakan seragam CGI hijau
yang….ah, sudahlah. Sosok Deadpool jelas adalah pusat segalanya, tetapi
tentu saja ia tidak bisa berdiri sendiri tanpa dukungan presentasi apik
yang lagi-lagi sukses dibentuk Miller dalam sebuah konsep yang sama
nyelenehnya dengan karakter utamanya. Dengan banyaknya serbuan joke-joke
segar berhamburan dari lidah tajam Wade Wilson bersama alter egonya, Deadpool
adalah obat tawa mujarab efektif. Di beberapa kesempatan ia bahkan
tidak malu mengolok-olok dirinya sendiri baik sebagai Deadpool maupun
Ryan Reynolds. Beberapa sindiran konyol yang melibatkan
dunia superhero mungkin hanya bekerja maksimal pada mereka yang sering
menonton subgenre ini, misalnya saja ketika ia mengeluh tentang time line
X-men yang membingungkan, atau kepada profesor siapa ia harus bertemu
ketika ditarik paksa oleh Peter Rasputin a.k.a Colossus (Stefan Kapičić)
dan tentu saja masih segudang penuh humor-humor yang muncul di
saat-saat tak terduga yang siap menghajar syaraf tawamu.
Namun meski terlihat konyol dan tidak serius, Miller tidak pernah membuat Deadpool kehilangan sentuhan superhero yang keren. Setiap aksi Deadpool terlihat menawan dengan balutan spesial efek dan beberapa slowmotion yang
meski tidak sampai terlalu bombastis karena keterbatasan biaya produksi
namun hasilnya bisa tepat sasaran dan tidak berlebihan, belum saya
menyebutkan sisi kebrutalan yang juga sukses diekspos Miller dengan
penuh gaya. Ryan Reynolds adalah alasan mengapa karakter Deadpool begitu
hidup dan begitu cerewet. Dari menit pertama ia seperti tidak berhenti ngoceh
di berbagai situasi yang sebenarnya termasuk kasual seperti di dalam
taksi, laundry atau santai di rumah bersama temannya; seorang wanita tua
buta. Reynolds Membombardir penontonnya dengan rentetan one-liner,
ejekan-ejekan, dan metafora aneh yang sedikit banyak sudah membantu
menutupi kekurangan pada plotnya yang sebenarnya klise untuk ukuran film
superhero, termasuk juga kehadiran villain yang tidak hebat-hebat banget.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar