Zootopia (2016)

 Zootopia_2016-3

Dari live action sampai animasi, ah, sudah tak tahu berapa banyak Disney membuat film tentang hewan-hewan lucu yang bisa berbicara dan bertingkah layaknya manusia. Tidak semuanya sukses memang apalagi ketika dibuatkan versi animasi 3D-nya, misalnya saja The Wild yang rilis hampir berbarengan dengan Madagascar-nya Dreamworks harus yang rela ditampar bolak-balik oleh kritikus maupun penontonnya karena kualitasnya yang buruk, tetapi yang namanya Diseny tentu saja tidak kapok, toh, mereka masih percaya diri animasi dengan karakter hewan masih laku di pasaran, apalagi didukung dengan premis menarik macam Zootpia ini.

Zoo dan Utopia, ya, Zootopia memang tidak jauh-jauh dari konsep dunia utopia buat para hewan di mana semua mamalia telah berevolusi, tidak hanya berjalan dengan kedua kaki, berbicara dan berpikir layaknya manusia namun juga hidup berdampingan dengan damai dari predator buas macam singa sampai tikus tanah. Jagoan utama kita adalah Judy Hopps (Ginnifer Goodwin) kelinci betina kecil idealis dari desa Bunnyburrow yang bercita-cita menjadi polisi di kota metropolis Zootopia. Judy memang pada akhirnya bisa menjadi kelici pertama yang berseragam ZPD (Zootopia Police Department), namun tetap saja status sebagai spesies pengerat selalu membuat Judy diremehkan kesatuannya meski lulus dengan predikat tertinggi. Jadi alih-alih terlibat dalam kasus besar, Judy malah ditugaskan kepala polisi Bogo (Idris Elba) ke bagian lalu lintas sebagai juru tilang parkir sampai pertemuannya dengan Nick Wilde (Jason Bateman) si rubah penipu membuatnya terlibat dalam kasus raibnya 14 mamalia secara misterius.

Zootopia punya semua elemen untuk membuatnya menjadi paket animasi keluarga ala Walt Disney Animation Studios yang menghibur, dari kualitas animasi penuh warna dan detil, cerita from hero to zero ringan penuh inspirasi  sampai ratusan karakter hewan yang unyu bin imut macam si kelinci Judy Hopps yang disuarakan sempurna oleh aktris Ginnifer Goodwin sampai Mr. Big si tikus antartika bos Tundratown. Sutradara Byron Howard, Rich Moore dan Jared Bush memang memosisikan Zootopia sebagai animasi ringan buat para penonton muda, namun bukan berarti penonton yang lebih dewasa tidak dapat menikmatinya.

Naskah garapan Bush bersama Phil Johnston juga disuntikan dengan banyak unsur buddy comedy neo-noir dengan segala misteri dan penyelidikan kasus ala detektif serta twist yang menjadikan Zootopia lebih menantang dari sekedar tontonan animasi anak-anak, terlebih lagi Howard-Moore-Bush turut menyelipkan banyak humor-humor segar dengan referensi dari budaya pop kontemporer termasuk di dalamnya seperti film The Godfather dengan segala sentuhan Marlon Brando-nya yang khas.

Masalahnya, meski punya konsep cukup menarik untuk ukuran animasi ringan, Zootopia tidak punya pesona yang cukup kuat untuk membuatnya bertahan lama di ingatan penontonnya, termasuk di dalamnya, chemistry para karakternya yang tidak cukup kuat untuk sebuah buddy movie . Ya, ia jelas tidak buruk, 108 menit durasinya mampu memberi tontonan keluarga yang menghibur namun setelah kredit akhir bergulir kita dengan cepat melupakannya,   dan dalam beberapa waktu ke depan akan kesulitan untuk mengingatnya kembali. Dan tentu saja seperti hampir semua animasi Disney, Zootopia juga diisi dengan pesan-pesan besar. Bagi penonton kecil mungkin ia akan hanya berakhir sebagai sebuah animasi colorfull ceria kisah petualangan dan persahabatan para mamalia lucu, namun lebih dalam jauh dari pikiran polos para bocah, ada pesan tentang rasial dan bahayanya ketika kita terlalu mudah menghakimi sebuah kelompok tertentu.