Eye In The Sky (2016)

 iVKB91oDAo65vDpOttwzyHKxN2t

Senang rasanya melihat seorang Barkhad Abdi kembali bermain di sebuah film besar dan tidak berakhir menjadi sekedar aktor berlebel ‘one hit wonder’ setelah debut luar biasanya di Captain Phillips 2013 silam yang diganjar berbagai penghargaan termasuk menang di ajang BAFTA dan menjadi nominator Oscar sebagai pemeran pembantu pria terbaik. Tetapi sesungguhnya Abdi bukan satu-satunya hal menyenangkan yang bisa kamu dapatkan dalam Eye In The Sky, thriller perang produksi Inggris garapan sutradara Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, Ender Game) ini, masih ada lusinan kejutan dan kesenangan yang sudah siap menunggumu di kurang lebih 102 menit ke depan.

Kisahnya berpusat pada usaha pemerintah Inggris dalam sebuah operasi  intelijen meringkus sekaligus mencegah aksi kelompok teroris kelas kakap Al-Shabaab yang tengah melakukan pertemuan rahasia di Nairobi, Kenya. Operasi yang dipimpin oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren) ini melibatkan beberapa pihak berkepentingan, dari Letnan Jendral Frank Benson (Alan Rikman) yang mewakili pemerintahan Inggris, Steve Watts (Aaron Paul), pilot drone tempur angkatan udara Amerika sampai agen rahasia Kenya, Jama Farah (Barkhad Abdi).

Di era modern saat ini perang terhadap terorisme jelas tidak terdengar asing, sudah banyak film yang bolak-balik mengangkat tema macam ini, bahkan Gavin Hood sendiri sebelumnya juga pernah membuat satu dalam Rendition, tetapi Eye In The Sky mungkin akan menjadi sedikit berbeda. Naskah bikinan Guy Hibbert mencoba bergerak dari sisi lain dari sebuah rantai komando operasi militer rahasia yang setiap pilihan dan keputusan yang diambil melibatkan banyak pihak, etika, politik dan yang paling penting, dilema moral rumit. Jadi ia tidak lantas kemudian menjadi sajian thriller perang modern dengan segala kecanggihan drone-drone intai tempurnya yang serta merta langsung main serbu saja ala Rambo yang berisik.

Setiap ketegangan berhasil dibangun dengan sangat baik, ya, seperti yang saya katakan di atas, pilihan dan keputusan berperan vital dalam menciptakan situasi super intens dengan waktu yang terus berjalan. Di atas kertas pilihannya sebenarnya mudah, tinggal lakukan atau tidak, tetapi saya senang bagaimana naskah cerdas Hibbert tidak membuatnya semudah itu. Hood dan Hibbert memperlakukan setiap karakternya dengan manusiawi, ada sebuah batasan abu-abu yang harus dilewati, ini bukan sekedar usaha memberantas atau perang kepada terorisme semata, ada rasa kemanusiaan,  ada rasa takut sekaligus cemas yang begitu besar di balik keperkasaan mereka mengendalikan kekuatan perang modern yang canggih, terlihat dari saling melempar tanggung jawab satu sama lain hanya karena tidak mau sampai disalahkan jika nantinya sampai berakhir buruk.

Ya, benturan moral, segala kode etik, protokol mengemaskan serta macam-macam konflik internal menjadi sajian utama Eye In The Sky, jujur, saya belum pernah melihat adegan  sederhana seperti momen ketika menunggu seorang bocah perempuan Nairobi  berjualan roti bisa disajikan dengan begitu mendebarkan sekaligus emosional atau bagaimana ketika para petinggi-petinggi saling adu argumen tentang prosedur pelaksanaan operasi yang tak jarang membuat kita tertawa getir. Sementara jajaran cast-nya juga bermain  gemilang dalam menggerakkan naskah dan penyutradaraannya. Kita tahu lah kualitas aktris senior macam Helen Mirren yang sekali lagi tampil mengesankan membawakan peran Kolonel Katherine Powell yang tegas, penuh wibawa namun di saat bersamaan juga sama tidak berdayanya ketika dihadapkan pada sebuah situasi yang sulit. Sementara mendiang aktor Alan Rikman juga tampil sama hebatnya sebagai petinggi militer Inggris Frank Benson di salah satu film terakhirnya. Saya senang ketika Hood berhasil membagi setiap perannya dengan porsi yang sama pentingnya, baik Mirren, Rikman, Aaron Paul sampai Barkhad Abdi bergantian menampilkan penampilan terbaik mereka.