Pride and Prejudice and Zombies (2016)

Lily James and Bella Heathcote in Screen Gems' PRIDE AND PREJUDICE AND ZOMBIES.

Menonton Pride and Prejudice and Zombies ini bisa diandaikan seperti menikmati nasi goreng dilumur coklat kental, tidak cocok dan tentu saja rasanya tidak enak, tidak peduli jika koki yang menyajikannya sekelas Gordon Ramsey dengan tiga Michellin-nya. Ya, novel Pride and Prejudice-nya Jane Austen bisa dikatakan sebagai salah satu karya tulis terbaik yang pernah ada, sejak dirilis 1813 silam, adaptasinya sudah dibuatkan bolak-balik dari drama radio, panggung dan tentu saja film. Masalahnya menjadi berbeda ketika seorang novelist Amerika bernama Seth Grahame-Smith kemudian “lancang” mengutak-atik kisah aslinya, menambahkan elemen horor berwujud zombie ke dalamnya, seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya juga dalam Abraham Lincoln, Vampire Hunter yang kebetulan juga dibuatkan versi live action-nya 2012 silam.

Dari luar, semuanya masih seperti pada tempatnya, set Inggris lama abad 19, korset-korset ketat dari gadis-gadis cantik keluarga Bennet dan tentu saja, hidangan utama; tarik ulur kisah percintaan antara Elizabeth Bennet (Lily James) dan Mr. Darcy (Sam Riley). Ya, semua seperti pada novel aslinya kecuali kemudian ini bukan diadaptasi dari novel aslinya. Jadi ada wabah zombie mematikan di sini yang mengancam eksistensi umat manusia dan kegalauan cinta kemudian bercampur kengerian yang diakibatkan dari serangan mayat-mayat hidup yang menyebar dengan cepat. Tetapi tenang saja, putri-putri Bennet tidak hanya cantik di luar namun juga punya kemampuan mematikan untuk membasmi para undead.

Tentu saja akan muncul-muncul pertanyaan menarik ketika ada seseorang yang cukup gila mencampur literatur romansa abadi Inggris yang begitu dihormati dengan elemen horor modern macam zombie. “Apakah akan menjadi lucu?”,  “Apakah akan cukup menegangkan?” Dan tentu saja yang paling penting “Apakah berhasil?” Sayang saya harus dengan berat hati menjawab “TIDAK”.

Permasalahannya, ini bukan materi yang cocok untuk disatukan, seperti air dan api, seperti nasi goreng dan cokelat. Mungkin kasus  Abraham Lincoln, Vampire Hunter sedikit berbeda, premis solonya memungkinkan penyelewengan kisah sejarah fiktif tentang seorang Presiden Amerika yang juga berprofesi sebagai pembasmi vampir menjadi sebuah kisah baru yang menghibur. Sementara cinta dan zombie mungkin cukup sulit, meski beberapa film yang punya dua elemen itu pernah ada yang cukup berhasil seperti Warm Bodies atau Life After Beth namun mereka bukan diadaptasi dari novel Jane Austen yang kompleks. Ketiadaan keseimbangan yang memadai antara romansa, komedi  dan horor, tidak ada peleburan yang sempurna antara satu elemen dan elemen lain membuat garapan Burr Steers ini (Igby Goes Down, 17 Again ) terasa compang-camping tak karuan.

Di satu sisi naskah yang juga ditulis Steers terlihat berusaha keras untuk tetap mempertahankan semua identitas novel aslinya bersama segala konflik cinta dan status kemapanan antara Elizabeth dan Mr. Darcy, namun dominasinya begitu besar sampai-sampai membuat porsi zombie nya terasa hanya sebagai pelengkap penderita semata. Ya, kamu bisa saja memotong elemen horornya, dan ia tetap akan bisa berjalan normal layaknya puluhan adaptasi Pride and Prejudice lainnya, tetapi itu bukan pujian, apalagi ternyata dominasi Jane Austen-nya juga tidak bekerja dengan baik, hasilnya, hambar dan membosankan.

Jujur saja, Lily James memang terlihat sangat cantik di sini sama cantiknya ketika ia memerankan sosok upik abu di adaptasi terbaru Cinderella meski berganti warna rambut dan tanpa kereta kencana atau sepatu kaca. Tetapi cantik saja tidak cukup untuk film yang punya dua sisi berbeda. Di satu sisi James tidak cukup tangguh dan seksi sebagai sebuah zombie slayer meski konon karakternya dilatih keras di sebuah biara Shaolin di Tiongkok, sementara di sisi lain ia juga tidak cukup kuat mengemban peran sebagai Elizabeth Bennet dengan segala kegalauan hatinya. Chemistry antara James dan Sam Riley yang tampil terlalu dingin di sepanjang film juga tidak mampu mengangkat sisi romantisnya menjadi lebih baik.