Minggu, 23 Oktober 2016
Pride and Prejudice and Zombies (2016)
Pride and Prejudice and Zombies (2016)
Menonton Pride and Prejudice and Zombies
ini bisa diandaikan seperti menikmati nasi goreng dilumur coklat
kental, tidak cocok dan tentu saja rasanya tidak enak, tidak peduli jika
koki yang menyajikannya sekelas Gordon Ramsey dengan tiga
Michellin-nya. Ya, novel Pride and Prejudice-nya Jane Austen
bisa dikatakan sebagai salah satu karya tulis terbaik yang pernah ada,
sejak dirilis 1813 silam, adaptasinya sudah dibuatkan bolak-balik dari
drama radio, panggung dan tentu saja film. Masalahnya menjadi berbeda
ketika seorang novelist Amerika bernama Seth Grahame-Smith kemudian
“lancang” mengutak-atik kisah aslinya, menambahkan elemen horor berwujud
zombie ke dalamnya, seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya juga
dalam Abraham Lincoln, Vampire Hunter yang kebetulan juga dibuatkan versi live action-nya 2012 silam.
Dari luar, semuanya masih seperti pada
tempatnya, set Inggris lama abad 19, korset-korset ketat dari
gadis-gadis cantik keluarga Bennet dan tentu saja, hidangan utama; tarik
ulur kisah percintaan antara Elizabeth Bennet (Lily James) dan Mr.
Darcy (Sam Riley). Ya, semua seperti pada novel aslinya kecuali kemudian
ini bukan diadaptasi dari novel aslinya. Jadi ada wabah zombie
mematikan di sini yang mengancam eksistensi umat manusia
dan kegalauan cinta kemudian bercampur kengerian yang diakibatkan dari
serangan mayat-mayat hidup yang menyebar dengan cepat. Tetapi tenang
saja, putri-putri Bennet tidak hanya cantik di luar namun juga punya
kemampuan mematikan untuk membasmi para undead.
Tentu saja akan muncul-muncul pertanyaan
menarik ketika ada seseorang yang cukup gila mencampur literatur
romansa abadi Inggris yang begitu dihormati dengan elemen horor modern
macam zombie. “Apakah akan menjadi lucu?”, “Apakah akan cukup
menegangkan?” Dan tentu saja yang paling penting “Apakah berhasil?”
Sayang saya harus dengan berat hati menjawab “TIDAK”.
Permasalahannya, ini bukan materi yang
cocok untuk disatukan, seperti air dan api, seperti nasi goreng dan
cokelat. Mungkin kasus Abraham Lincoln, Vampire Hunter sedikit berbeda, premis solonya memungkinkan
penyelewengan kisah sejarah fiktif tentang seorang Presiden Amerika
yang juga berprofesi sebagai pembasmi vampir menjadi sebuah kisah baru
yang menghibur. Sementara cinta dan zombie mungkin cukup sulit, meski
beberapa film yang punya dua elemen itu pernah ada yang cukup berhasil
seperti Warm Bodies atau Life After Beth namun mereka bukan diadaptasi dari novel Jane Austen yang kompleks. Ketiadaan
keseimbangan yang memadai antara romansa, komedi dan horor, tidak ada
peleburan yang sempurna antara satu elemen dan elemen lain membuat
garapan Burr Steers ini (Igby Goes Down, 17 Again ) terasa compang-camping tak karuan.
Di satu sisi naskah yang juga ditulis
Steers terlihat berusaha keras untuk tetap mempertahankan semua
identitas novel aslinya bersama segala konflik cinta dan status
kemapanan antara Elizabeth dan Mr. Darcy, namun dominasinya begitu besar
sampai-sampai membuat porsi zombie nya terasa hanya sebagai pelengkap
penderita semata. Ya, kamu bisa saja memotong elemen horornya, dan ia
tetap akan bisa berjalan normal layaknya puluhan adaptasi Pride and Prejudice
lainnya, tetapi itu bukan pujian, apalagi ternyata dominasi Jane
Austen-nya juga tidak bekerja dengan baik, hasilnya, hambar dan
membosankan.
Jujur saja, Lily James memang terlihat
sangat cantik di sini sama cantiknya ketika ia memerankan sosok upik abu
di adaptasi terbaru Cinderella meski berganti warna rambut dan tanpa
kereta kencana atau sepatu kaca. Tetapi cantik saja tidak cukup untuk
film yang punya dua sisi berbeda. Di satu sisi James tidak cukup tangguh
dan seksi sebagai sebuah zombie slayer meski konon karakternya
dilatih keras di sebuah biara Shaolin di Tiongkok, sementara di sisi
lain ia juga tidak cukup kuat mengemban peran sebagai Elizabeth Bennet
dengan segala kegalauan hatinya. Chemistry antara James dan Sam Riley
yang tampil terlalu dingin di sepanjang film juga tidak mampu mengangkat
sisi romantisnya menjadi lebih baik.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar