Minggu, 23 Oktober 2016
Surat Dari Praha (2016)
Surat Dari Praha (2016)

Setelah pekerjaan luar biasa yang dilakukannya pada Hari Untuk Amanda, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi,
susah untuk kemudian tidak memasang harapan tinggi pada setiap karya
terbaru seorang sutradara muda berbakat macam Angga Dwimas Sasongko ini,
misalnya seperti yang teranyar, sebuah romansa pahit-manis berbalut
tragedi masa lalu yang diberi tajuk Surat Dari Praha.
Kemala Dahayu Larasati atau panggil saja
Larasti (Julie Estelle) mesti terbang jauh-jauh ke Praha demi memenuhi
wasiat terakhir ibunya; menyerahkan sebuah kotak perhiasan berisi
surat-surat kepada Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo) sekaligus meminta
tanda tangan pria tua itu agar rumah berserta isinya bisa secara resmi
menjadi miliknya. Masalahnya, Pak Jaya emoh untuk menerima pemberian
terakhir sang ibu, termasuk juga menandatangani surat warisan itu. Apa
yang terjadi? Siapa sebenarnya Pak Jaya yang penyendiri dan misterius
ini?
Ada tulisan “Praha” besar dicetak
tebal di judulnya, tentu saja saya tidak pernah menyalahkan penontonnya
yang kemudian akan mencap bahwa Surat Dari Praha akan menjadi
film ‘jalan-jalan’ lain yang akan lebih banyak mengeksploitir lanskap
kota yang menjadi set-nya ketimbang peduli dengan isi ceritanya. Ya,
pastinya Angga Dwimas Sasongko tidak ingin terbang jauh ke Praha dengan
percuma begitu saja tanpa mengambil gambar-gambar cantik salah satu kota
paling indah di Eropa Timur itu, tetapi bukan berarti
ia terjebak menjadikan Surat Dari Praha sebagai film wisata dan
melupakan fokus dan inti sarinya
Bagaimana narasi cinta dari masa lalu
masih terasa menyengat begitu kuat di sini, sangking kuatnya, seiring
berjalannya waktu saya pribadi tidak lagi memedulikan di mana lokasi
syutingnya, mau di London, di Paris, di Amsterdam atau di Timbuktu
sekalipun akan terasa sama saja mengingat dari awal Angga sudah langsung
memusatkan segala perhatiannya pada relasi Jaya dan Laras yang kuat
dengan segala kisah mereka masing-masing yang tak kalah menariknya.
Pak Jaya adalah laki-laki renta yang
menghabiskan masa tuanya di negeri orang sebagai tukang bersih-bersih di
sebuah gedung pertunjukan, ia hidup sendiri, hanya di temani oleh
Bagong, si Golden Retriever yang sama tuanya. Tidak jarang selepas
pulang kerja ia mampir di bar yang kebetulan di jaga oleh mahasiswa
arsitek asal Indonesia bernama Dewa (Rio Dewanto). Pertemuannya dengan
Larasati yang tidak pernah disangka-sangkanya membuka luka lamanya,
apalagi kemudian ia mengetahui fakta bahwa perempuan yang paling
dicintainya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sementara
Larasati sendiri digambarkan sebagai perempuan muda yang jutek, keras
kepala dan egois lihat bagimana ia menolak mentah-mentah kehadiran
mantan suaminya di pemakaman sang ibu, atau ketika ia meminta
warisan tanpa rasa hormat mengingat baru satu hari ibunya di
makamkan. terbang ribuan kilometer ke Praha hanya dengan satu tujuan,
mendapatkan tanda tangan Pak Jaya, pria misterius yang tidak pernah
dikenalnya. Ya, hanya satu tanda tangan saja, mudah, dan setelah itu ia
bisa kembali ke tanah air dan memperbaiki hidupnya lagi. Masalahnya
Larasati tidak pernah mengira bahwa ia akan terjebak di sana lebih lama
dan dalam situasi lebih rumit dari perkiraannya. Perlahan ia
mulai mengetahui siapa sebenarnya Pak Jaya, mengapa pria tua itu
menolaknya dan pemberian ibunya mentah-mentah, hingga fakta yang
kemudian mengubah hidupnya selamanya.
Ya, interaksi antara Larasati dan Jaya
adalah daya pikat terbesar Surat Dari Praha, susah untuk tidak terpesona
melihat bagaimana mereka sukses menggerakkan naskah garapan Irfan
Ramli (Cahaya Dari Timur: Beta Maluku). Keduanya memang bukan
pasangan ideal dalam term romansa mengingat perbedaan umur yang
terlampau jauh, namun berbagi orang tercinta membuat keduanya menjadi
dekat, tidak hanya dekat namun juga bagaimana kedua manusia bermasalah
ini kemudian saling menyembuhkan satu sama lain dari luka-luka
pahit masa lalu. Angga tahu bagaimana memperlakukan karakternya agar
bisa tampil senatural mungkin, membiarkan ikatan tumbuh di antara mereka
dan juga penontonnya melalui cerita dan dialog-dialog semi santai
namun tidak pernah kehilangan esensinya tentang cinta sejati dan sebuah
idealisme yang harus dibayar mahal, sangat mahal. Memang ada unsur
politik yang mendasari masa lalu Pak Jaya, namun Angga tidak
menjadikannya bahasan yang sampai berlarut-larut namun diselipkan dalam
poris yang cukup untuk mendukung latar belakang karakter Pak Jaya dan
motifnya mengapa ia sampai terdampar jauh di Praha.
Kombinasi naskah bagus, penyutradaraan
lembut dan penampilan solid dari cast-nya kemudian semakin disempurnakan
dengan kualitas musikalitas dari Glenn Fredly yang tak kalah hebatnya
dalam membangun romantismenya. Tidak hanya berakting, baik Julie
Estelle dan Tio Pakusadewo turut menyumbangkan suaranya dengan
menyanyikan lagu-lagu seperti Sabda Rindu dan Nyali Terakhir yang seperti mewakili pesan tentang kerinduan akan cinta sejati.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar