Surat Dari Praha (2016)

 maxresdefault

Setelah pekerjaan luar biasa yang dilakukannya pada Hari Untuk Amanda, Cahaya Dari Timur: Beta Maluku dan Filosofi Kopi, susah untuk kemudian tidak memasang harapan tinggi pada setiap karya terbaru seorang sutradara muda berbakat macam Angga Dwimas Sasongko ini, misalnya seperti yang teranyar, sebuah romansa pahit-manis berbalut tragedi masa lalu yang diberi tajuk Surat Dari Praha.

Kemala Dahayu Larasati atau panggil saja Larasti (Julie Estelle) mesti terbang jauh-jauh ke Praha demi memenuhi wasiat terakhir ibunya; menyerahkan sebuah kotak perhiasan berisi surat-surat  kepada Mahdi Jayasri (Tio Pakusadewo) sekaligus meminta tanda tangan pria tua itu agar rumah berserta isinya bisa secara resmi menjadi miliknya. Masalahnya, Pak Jaya emoh untuk menerima pemberian terakhir sang ibu, termasuk juga menandatangani surat warisan itu. Apa yang terjadi? Siapa sebenarnya Pak Jaya yang penyendiri dan misterius ini?

Ada tulisan “Praha” besar dicetak tebal di judulnya, tentu saja saya tidak pernah menyalahkan penontonnya yang kemudian akan mencap bahwa Surat Dari Praha akan menjadi film ‘jalan-jalan’ lain yang akan lebih banyak mengeksploitir lanskap kota yang menjadi set-nya ketimbang peduli dengan isi ceritanya. Ya, pastinya Angga Dwimas Sasongko tidak ingin terbang jauh ke Praha dengan percuma begitu saja tanpa mengambil gambar-gambar cantik salah satu kota paling indah di Eropa Timur itu, tetapi bukan berarti ia terjebak menjadikan Surat Dari Praha sebagai film wisata dan melupakan fokus dan inti sarinya
Bagaimana narasi cinta dari masa lalu masih terasa menyengat begitu kuat di sini, sangking kuatnya, seiring berjalannya waktu saya pribadi tidak lagi memedulikan di mana lokasi syutingnya, mau di London, di Paris, di Amsterdam atau di Timbuktu sekalipun akan terasa sama saja mengingat dari awal Angga sudah langsung memusatkan segala perhatiannya pada relasi Jaya dan Laras yang kuat dengan segala kisah mereka masing-masing yang tak kalah menariknya.

Pak Jaya adalah laki-laki renta yang menghabiskan masa tuanya di negeri orang sebagai tukang bersih-bersih di sebuah gedung pertunjukan, ia hidup sendiri, hanya di temani oleh Bagong, si Golden Retriever yang sama tuanya. Tidak jarang selepas pulang kerja ia mampir di bar yang kebetulan di jaga oleh mahasiswa arsitek asal Indonesia bernama Dewa (Rio Dewanto). Pertemuannya dengan Larasati yang tidak pernah disangka-sangkanya membuka luka lamanya, apalagi kemudian ia mengetahui fakta bahwa perempuan yang paling dicintainya telah meninggalkan dirinya untuk selamanya. Sementara Larasati sendiri digambarkan sebagai perempuan muda yang jutek, keras kepala dan egois lihat bagimana ia menolak mentah-mentah kehadiran mantan suaminya di pemakaman sang ibu,  atau ketika ia meminta warisan tanpa rasa hormat mengingat baru satu hari ibunya di makamkan. terbang ribuan kilometer ke Praha   hanya dengan satu tujuan, mendapatkan tanda tangan Pak Jaya, pria misterius yang tidak pernah dikenalnya. Ya, hanya satu tanda tangan saja, mudah, dan setelah itu ia bisa kembali ke tanah air dan memperbaiki hidupnya lagi. Masalahnya Larasati tidak pernah mengira bahwa ia akan terjebak di sana lebih lama dan dalam situasi lebih rumit dari perkiraannya. Perlahan ia mulai mengetahui siapa sebenarnya Pak Jaya, mengapa pria tua itu menolaknya dan pemberian ibunya mentah-mentah, hingga fakta yang kemudian mengubah hidupnya selamanya.

Ya, interaksi antara Larasati dan Jaya adalah daya pikat terbesar Surat Dari Praha, susah untuk tidak terpesona melihat bagaimana  mereka sukses menggerakkan naskah garapan Irfan Ramli (Cahaya Dari Timur: Beta Maluku). Keduanya memang bukan pasangan ideal dalam term romansa mengingat perbedaan umur yang terlampau jauh, namun berbagi  orang tercinta membuat keduanya menjadi dekat, tidak hanya dekat namun juga bagaimana kedua manusia bermasalah ini kemudian saling menyembuhkan satu sama lain dari luka-luka pahit masa lalu.  Angga tahu bagaimana memperlakukan karakternya agar bisa tampil senatural mungkin, membiarkan ikatan tumbuh di antara mereka dan juga penontonnya melalui cerita dan  dialog-dialog semi santai namun tidak pernah kehilangan esensinya tentang cinta sejati dan sebuah idealisme yang harus dibayar mahal, sangat mahal. Memang ada unsur politik yang mendasari masa lalu Pak Jaya, namun Angga tidak menjadikannya bahasan  yang sampai berlarut-larut namun diselipkan dalam poris yang cukup untuk mendukung latar belakang karakter Pak Jaya dan motifnya mengapa ia sampai terdampar jauh di Praha.

Kombinasi naskah bagus, penyutradaraan lembut dan penampilan solid dari cast-nya kemudian semakin disempurnakan dengan kualitas musikalitas dari Glenn Fredly yang tak kalah hebatnya dalam membangun romantismenya.  Tidak hanya berakting, baik Julie Estelle dan Tio Pakusadewo turut menyumbangkan suaranya dengan menyanyikan lagu-lagu seperti Sabda Rindu dan Nyali Terakhir yang seperti mewakili pesan tentang kerinduan akan cinta sejati.