Talak 3 (2016)

 3(2)

Talak 3 sendiri adalah sebuah pernyataan cerai yang terucap dari mulut suami kepada istri sebanyak tiga kali dalam selang waktu tertentu yang efeknya tidak hanya berakibat pada perceraian yang sah secara hukum Islam namun juga kesulitan untuk melakukan rujuk kembali karena sang istri diwajibkan untuk menikah terlebih dahulu dengan orang lain dan melakukan hubungan badan sebelum akhirnya kembali bercerai.

Pertama-tema perlu diketahui bahwa ini bukan sekuel dari Talak 1 dan Talak 2, faktanya memang tidak ada film-film dengan judul macam itu sebelumnya. Lalu, melihat penjelasan tentang hukum talak 3 di atas mungkin ini akan mnejadi  akan terlihat ribet, tetapi tenang saja, tidak ada yang menjabarkan lebih baik soal talak menalak ketimbang seorang Hanung Bramantyo apalagi ketika penjelasan itu dituangkan dalam sebuah komedi romantis, kerja samanya bersama sutradara Mencari Hilal, Ismail Basbeth.

Jarang sebuah romcom memulai segalanya dengan elemen gelap macam perceraian, tetapi film-film komedi Hanung memang tidak pernah biasa. Dalam kasus ini ada Bagas (Vino G. Bastian) yang langsung menjatuhkan talak tiga kepada istrinya tanpa, Risa (Laudya Cynthia Bella) tanpa pernah tahu apa akibat ucapannya itu kelak. Dan benar saja, ketika sebuah proyek wedding expo besar datang dan membutuhkan kerja sama keduanya, Bagas dan Risa bersama bantuan sahabat baik mereka, Bimo (Reza Rahadian) kemudian melakukan segala cara agak bisa rujuk kembali, tetapi tentu saja itu sama sekali tidak mudah mengingat hukum talak tiga yang membuat segalanya menjadi rumit bak benang kusut.

Di satu jam pertamanya Hanung dan Ismail seperti tanpa kompromi langsung menghujani Talak 3 dengan berondongan komedi-komedi segar bermodalkan materi utama menarik tentang seluk beluk dunia perceraian Muslim yang jujur saja, ribet. Hampir semua guyonan berhasil memancing tawa lepas, dari sekedar urusan di KUA yang melibatkan praktik politik uang dan kehadiran sosok pegawai baru bernama Basuki (Dodit Mulyanto),  yang jelas-jelas merupakan versi parodi dari gubernur Jakarta, Basuki Cahaya Purnama yang anti korupsi sampai usaha pencarian muhalil (laki-laki yang menikahi pihak perempuan, melakukan hubungan badan  lalu menceraikannya)

Bukan Hanung namanya jika tidak berdakwah dengan caranya sendiri yang dipenuhi oleh sentilan, hampir  di setiap film-filmnya termasuk yang komedi sekalipun diisi dengan satir sosial dan tentu saja agama. Usaha untuk rujuk kembali memang tidak pernah mudah di hukum Islam, dan jelas Hanung tahu benar soal ini, tetapi meski terkesan ‘nakal’, Hanung tidak pernah merendahkan hukum talak tiga sebaliknya ia lebih memfokuskan pada usaha manusia-manusianya yang sering kali membandel dan tidak tahu aturan, menggampangkan dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.

Jika satu jam pertama komedinya begitu efektif memberi tawa yang nyaris tanpa henti, sisa durasinya seperti sangat bertolak belakang. Entah apa yang terjadi, apa Ismail Basbeth kemudian mengambil alih penuh kemudi Talak 3, membiarkan Hanung beristirahat sejenak setelah capai menghibur penontonnya di paruh pertama, karena Talak 3 kemudian berubah drastis menjadi melodrama  yang super serius ketika karakter Bimo mulai benar-benar masuk dan ‘duduk’ di antara Bagas dan Risa. Bisa ditebak ada elemen cinta segi tiga yang sama rumitnya dengan hukum talak tiga yang kemudian menyedot segala tawa, menggantinya dengan romansa sentimentil “antara aku dan dia” serta amarah, pertikaian dan tangisan.

Bukan berarti wajah baru Talak 3 ini lalu menjadi buruk, tidak sama sekali, malah dari titik ini saya baru mengerti mengapa karakter Bimo yang awalnya tidak terlalu penting untuk diperankan oleh seorang aktor sekaliber Reza Rahardian kemudian menjadi faktor utama yang mengubah segalanya. Bukan berarti komedi romantis tidak bisa serius, namun dalam term romcom dibutuhkan sebuah proses transisi mulus bukan kasar seperti ini, atau yang kata orang Jawa, “njomplang”, yang terjadi kemudian malah seperti dua film yang sama sekali berbeda digabungkan menjadi satu dan hasilnya jadi kurang memuaskan.