Rabu, 26 Oktober 2016
The Jungle Book (2016)
The Jungle Book (2016)
Novelis asal Inggris Rudyard Kipling
mungkin akan terus tersenyum lebar di dalam kuburnya. Sebelumnya
ia tidak pernah menyangka bahwa ketika pertama kali membuat sebuah kisah
tentang bocah manusia yang dibesarkan serigala di hutan India 1894
silam ternyata bisa begitu sangat populer di masa depan, bahkan setelah
122 tahun kemudian, The Jungle Book masih menjadi salah
satu kisah abadi yang selalu diceritakan kembali dan kembali, menyaingi
ketenaran Tarzan yang punya konsep serupa. Tetapi Kipling sebenarnya
juga patut berterima kasih pada Walt Disney yang sudah menjadikan The Jungle Book franchise
abadi melalui berbagai macam adaptasi, mulai animasi rilisan 1967 yang
begitu populer (sekuelnya dibuat 2003 silam), serial televisi, video game dan tentu saja versi live action-nya yang sebelum kemunculan versi terbarunya tahun ini sudah ada dua pendahulunya dalam Rudyard Kipling’s The Jungle Book (1994) dan The Jungle Book: Mowgli’s Story (1998).
Seperti yang saya katakan di atas, tidak peduli di era mana kamu berada, The Jungle Book
itu abadi termasuk bikinan John Favreau ini yang masih menghadirkan
kisah yang sama, cerita tetang Mowgli (Neel Sethi) bocah manusia yang
diselamatkan Bagheera (Ben Kingsley) si macan kumbang, di besarkan oleh
sekawanan serigala pimpimpan Akela (Giancarlo Esposito) dan Raksha
(Lupita Nyong’o), bersahabat dengan beruang bernama Baloo (Bill
Muray) yang kemudian harus berhadapan dengan Shere Khan (Idris Elba) si
macan Bengal yang jahat.
Ya, secara keseluruhan kisahnya masih
sama seperti animasi 1967 dan versi Rudyard Kipling sendiri jadi ini
bisa dibilang pekerjaan mudah untuk penulis naskah Justin Marks yang
mungkin hanya sedikit melalukan modifikasi. Jika ada yang menonjol di The Jungle Book
versi terbaru ini mungkin terlihat dari sisi teknisnya yang tentu saja
melampaui para pendahulunya. Ya, berbicara soal kualitas teknis, Jon
Favreau benar-benar dimanjakan dengan perkembangan teknologi CGI, 3D photography dan motion capture yang semakin canggih. Dunia artifisial The Jungle Book sukses digambarkan dengan sangat cantik dan detil oleh tangan-tangan hebat dari Moving Picture Company (MPC) dan Weta Digital, baik itu karakter para hewan yang digambarkan begitu hidup (hanya kalah dari Life of Pi)
atau hanya sekedar vegetasi dari pohon-pohon besar dan fauna hutan
hujan India yang eksotis. Semua kebesaran spesial efek itu dibungkus
oleh sinematografi cakep Bil Pope yang mampu menerjemahkan
visi penyutradaraan enerjik dan penuh humor Favreau menjadi sebuah
kesatuan tak terpisahkan dalam usaha untuk menghadirkan sebuah konsep
petualangan keluarga klasik dalam eksekusi yang lebih modern.
Narasinya sederhana dan bersahabat tanpa
substansi macam-macam, humornya lucu dan enak dinikmati semua umur,
petualangannya seru dan mendebarkan, sisi emosionalnya juga cukup
mengena namun jika ada satu hal yang paling menonjol dari The Jungle Book selain visualnya yang ciamik itu adalah jajaran cast
pengisi suaranya. Bukan hanya karena diisi oleh nama-nama besar
saja namun bagaimana mereka memberi jiwa pada karakter-karakternya
dengan sangat baik, lihat saja bagaimana Baloo bisa terasa sangat
bersahabat dalam suara Bill Murray, suara lembut Lupita Nyong’o
membentuk sisi keibuan dari Raksha, nada bijaksana dari Bagheera-nya
Beng Kingsley, Christopher Walken dengan King Louie yang tamak, suara
menggoda nan seksi dari Scarlett Johansson berwujud Kaa yang sayang
hanya tampil sebentar sampai ancaman besar dari sosok harimau Bengal
yang di alih suarakan Idris Elba.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar