Rabu, 26 Oktober 2016
Captain America: Civil War (2016)
Captain America: Civil War (2016)
Bukan hanya sekedar berlabel sekuel kedua Captain America dan film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), Captain America: Civil War
jauh lebih besar dari itu ketika dalam materi promosinya ia
tidak sekedar mencoba membawa kisah sang Kapten lebih jauh lagi sebagai
pembuka fase ke-3 MCU namun menawarkan lebih banyak kehadiran pahlawan
super ‘baru’ sebagai penawar kekecewaan yang mungkin sempat kamu rasakan
dalam The Avengers: Age of Ultron.
Memulai segalanya sebagai awal dari fase ketiga MCU, Captain America: Civil War membuka ceritanya dengan efek pasca insiden Sokovia di Avengers: Age of Ultron yang memaksa para pemimpin dunia terpaksa harus mengambil keputusan dengan membatasi gerak-gerik para Earth’s Mightiest Heroes yang
dalam setiap misinya tidak jarang memakan korban jiwa tak bersalah dari
masyarakat sipil, terakhir ketika mereka mengejar Brock Rumlow
a.k.a Crossbones (Frank Grillo) di Lagos, Nigeria. Tentu saja ini
kemudian menjadi situasi rumit yang harus dihadapi para punggawa
Avengers, sang pemimpin, Captain America (Chris Evans) menolak
menandatangani perjanjian Sokovia, sementara Iron Man (Robert Downey
Jr.) memilih untuk ikut dengan cara pemerintah. Menjadi lebih pelik
ketika Steve Rogers harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya,
Bucky “The Winter Soldier” Barnes (Sebastian Stan) menjadi tersangka
utama di balik salah satu kejadian terorisme mematikan di Vienna,
Austria. Sang kapten memilih untuk memberontak dan menyelamatkan Bucky
tentu saja dengan konsekuensi besar, ia harus berhadapan dengan separuh
teman-teman Avengers-nya sendiri. Sementara dari kejauhan ada sosok
misterius Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang punya agenda tersendiri.
Jika dua seri The Avengers menghadirkan konsep good vs evil dengan membawa banyak pahlawan super melawan teror jahat dari luar macam alien atau robot cerdas, maka Captain America: Civil War mencoba tampil lebih ekstrem. Ya, ini adalah pertarungan masif ketika di dalamnya melibatkan aksi superhero vs superhero
seperti yang bolak-balik diperlihatkan dalam beberapa trailler-nya
termasuk salah satu yang paling menghebohkan ketika menampilkan
kehadiran sosok laba-laba merah dengan konsep yang berada dalam wilayah
abu-abu. Ini adalah pertandingan besar antara tim Kapten vs tim Iron Man
yang ironis siapa pun siapa pun yang menang maka dunia tetap kalah.
Tetapi bukan berarti Civil War menjadi Avengers 2.1 dengan hanya mengandalkan satu lusin superhero semata, ini tetap adalah film sang Kapten dan ia tetap menjadi hati dan jiwanya.
Kita tahu Steve Rogers mungkin adalah
manusia dengan kebaikan hati begitu besar dan di sini sekali lagi,
seperti di dua seri pendahulunya ia kembali harus mengambil sebuah
keputusan sulit di situasi yang pelik. Membawa kembali sosok Bucky
setelah peristiwa di The Winter Soldier adalah langkah tepat.
Bucky jelas menjadi sangat personal buat Steve Rogers, ia tidak hanya
sahabat namun juga satu-satunya bagian dari masa lalunya yang masih ada
apalagi di sini sang pujaan hati. Peggy Carter dikisahkan telah tutup
usia. Jadi melindungi Bucky yang notabene adalah buronan paling dicari
adalah sebuah keharusan bagi Steve Rogers.
Tentu saja dibutuhkan alasan kuat
mengapa dua kubu superhero harus terpecah dan saling baku hantam.
Sepintas mungkin yang terlihat terkesan sederhana, semata-mata hanya ada
Captain America yang melindungi teman sekaligus musuh dan saya senang
ternyata duo penulis naskahnya, Christopher Markus dan Stephen
McFeely tidak menggampangkannya begitu saja. Benturan ideologi berbeda
antara tim Kapten dan tim Iron Man dihadirkan dengan alasan yang kuat
dan juga rumit. Di satu sisi Steve Rogers tidak ingin aksi kemanusiaan
mereka dibatasi yang berarti ia tidak bisa beraksi setiap saat tanpa
persetujuan pemerintah, baginya jatuhnya korban sipil dalam sebuah
peperangan melawan kejahatan itu memang tidak bisa dihindarkan.
Sementara Tony Stark menyetujui langkah pemerintah dan pemimpin dunia
untuk membatasi aksi mereka pasca kejadian di Sovokia yang merenggut
banyak jiwa tak berdosa ini diperkuat dalam sebuah adegan di mana Stark
bertemu dengan ibu dari salah satu korban Sovokia yang menyalahkan aksi
heroiknya di Age of Ultron lalu. Tidak ada yang bisa disalahkan dari keduanya, keduanya punya alasan mereka masing-masing yang membuat momen pembukaan Civil War menjadi kuat. Argumen moral tentang perbedaan dalam menyingkapi collateral damage kemudian
berujung konflik horizontal kemudian menjadi tak terelakkan. Hubungan
antara Steve dan Tony benar-benar mendapat ujian berat di sini, penonton
akan disuguhkan sebuah bromance antara Rogers dan Bucky sementar di
tempat lain juga menjadi saksi pertentangan batin Tony Stark dengan
segala masa lalu tentang nasib kedua orang tuanya.
Ya, Civil War memang punya
konsep menarik ketika menawarkan benturan internal antara sesama
superhero dengan segala motifnya, tetapi kalau mau jujur, dari segi
penceritaan ia hanya sedikit lebih baik dari Age of Ultron dan masih jauh berada di bawah salah satu seri terbaik MCU; Captain America: The Winter Soldier yang begitu intens dan solid. Setelah first act yang cukup kuat Civil War kehilangan konsistensi dalam upayanya penceritaannya dan kemudian menderita banyak di sepertiga akhir yang kebanting telak
setelah momentum puncak dalam pertarungan luar biasa di landasan
pesawat terbang meski harus diakui juga itu sebuah akhir yang cukup
emosional. Ya, beberapa kejutan berupa kemunculan para anggota baru
Avengers macam Black Panther (Chadwick Boseman) dan yang paling
ditunggu, Spider-Man (Tom Holland) sedikit banyak mampu membiaskan
kondisi plotnya yang agak kacau termasuk kehadiran villain misterius Helmut Zemo yang dimainkan Daniel Bruhl yang sayangnya berakhir dengan motif terlalu simpel.
Berbicara soal adegan di airport tadi, Civil War di bawah arahan Anthony Russo dan Joe Russo yang kembali dipercaya setelah pekerjaan bagus mereka di The Winter Soldier sukses menghadirkan sekuen pertarungan terbaik sejauh ini dalam sejarah adaptasi superhero layar lebar. Setiap set-pieces
dihadirkan duo Russo dengan fantastis, humor, aksi dan spesial efek
melebur menjadi sebuah kesatuan kesenangan yang diharapkan tidak pernah
berakhir, setiap karakter yang terlibat mendapatkan sinarnya
masing-masing. Melihat bagaimana Spider-Man “baru” bergabung dengan
penuh gaya menghajar Falcon dan Bucky itu tak terlukiskan dengan
kata-kata, terkaman garang Black Panther memberi asupan segar sampai
puncaknya aksi Ant-Man bersama kejutan besar jelas adalah mimpi basah
yang akhirnya benar-benar terwujud tidak hanya buat para penggemar komik
namun siapa saja yang mencintai film superhero. Tidak diragukan lagi,
momen itu akan selalu dikenang oleh peontonnya selama bertahun-tahun
kemudian.
Spider-Man jelas adalah salah satu daya tarik terbesar buat Civil War setelah
Marvel menegaskan rumor yang beredar dalam sebuah trailer yang sempat
menghebohkan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Menariknya, Civil War bukan sekedar ajang come back sekelebatan buat Spidey untuk sekedar mencuri perisai si Kapten setelah Sony memutuskan untuk sekali lagi me-reboot salah satu franchise favoritnya
itu namun menjadi luar biasa ketika duo Russo memberi porsi cerita
tersendiri buat Peter Parker baru dalam wujud Tom Holland dengan segala
pesona bocah ABG yang luar biasa cerewet bersama kehadiran bibi May yang
ehmm….jauh lebih cant, eh, muda. Tetapi tidak hanya Spidey yang
mendapatkan kesempatan untuk tampil debut, T’Challa a.k.a Black Panther
yang dimainkan Chadwick Boseman pun turut mencuri perhatian bersama
kemunculannya yang elegan. Popularitasnya yang harus diakui masih kalah
dengan Spider-Man malah menghadirkan sisi misterius tersendiri yang
membuat penonton awam tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, apalagi ia
mampu tampil mengesankan di sini dengan kostum keren dan adegan aksi
yang memukau.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar