Rabu, 26 Oktober 2016
The Mermaid (2016)
The Mermaid (2016)
The Mermaid datang ke bioskop
Indonesia dengan modal penuh kepercayaan diri tingkat tinggi, tidak
hanya karena ia menjadi film besutan sutradara sekaligus
aktor, produser sekaligus komedian legendaris Hong Kong, Stephen Chow
namun juga membawa status perkasa sebagai film terlaris Cina sepanjang
masa dengan keberhasilannya menggondol lebih dari setengah miliar Dolar,
bahkan sejauh ini di 2016 ia hanya kalah dari Deadpool sebagai film dengan berpenghasilan terbesar. Jika menilik dari track record Chow sebagai sutradara yang pernah menghasilkan film-film mega hit macam Shaolin Soccer, Kung Fu Hustle sampai CJ7, kesuksesan The Mermaid
sebenarnya tidaklah sampai terlalu mengejutkan, toh, Chow memang punya
sentuhan emas dalam film-film yang dihasilkannya, meski ia tidak melulu
harus bermain di setiap film yang ditukanginya, sebut saja misalnya Journey to the West: Conquering the Demons dan dalam The Mermaid pun Chow memilih untuk duduk di belakang layar.
Memadukan satir tentang isu lingkungan hidup dalam bungkus komedi dan romansa berlatar dongeng klasik putri duyung, The Mermaid memfokuskan kisahnya pada rencana reklamasi Green Gulf; sebuah
lokasi suaka alam yang dilakukan oleh pengusaha sukses, Liu Xuan (Deng
Chao) bersama patner bisnisnya, Ruolan (Kitty Zhang Yuqi). Mereka
memasang sonar khusus untuk mencegah lumba-lumba kembali ke sana, tanpa
pernah disadari tindakan yang mereka lakukan ternyata juga merusak
lingkungan kehidupan para manusia duyung yang hidup bersembunyi di sana.
Demi menjaga kelangsungan hidup mereka, pimpinan para merpeople;
Octopus (Show Luo) menugaskan anggotanya yang cantik, Shan (Lin Yun)
untuk menggoda dan menjebak Li Xuan masuk perangkap kemudian
membunuhnya. Namun yang terjadi malah keduanya jatuh cinta.
Ya, ini klasik, cerita tentang putri
duyung yang jatuh cinta pada manusia adalah dongeng lama yang kali ini
coba dimodernisasi oleh Stephen Chow bersama kawan-kawan seperjuangannya
macam Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong,
Chan Hing-ka, Tsang Kan-cheung dalam bentuk komedi romantis. Ya, memang
bukan barang baru, tetapi tetap saja konsep fantasi macam ini bisa jadi
sajian menarik jika dikelola dengan benar, sayang saya tidak menyukai
apa yang dilakukan Chow kali ini. Mengapa? Pertama, ia tidak punya
kekuatan bercerita yang solid, ya, saya tahu ini komedi dan tak perlu
lah segala narasi yang serius, tetapi ia bisa melakukannya di Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle,
itu adalah perpaduan antara keseriusan dan komedi yang sempurna meski
harus diakui kualitas CGI nya memang tidak terlalu bagus. Sementara
untuk The Mermaid bisa dibilang berantakan secara keseluruhan.
Dimulai dengan footage-footage ‘mentah’ tentang
kerusakan lingkungan, Chow seperti tengah melakukan kampanye tentang
lingkungan hidup. Setelah itu ia memulai ceritanya dengan canggung
dengan banyak akward moment. Ya, memang dalam perjalanannya
plotnya memang menjadi lebih baik namun bukan berarti secara
keseluruhan filmnya juga menjadi lebih baik. Kedua, karakter-karakternya
lemah, selemah kualitas narasinya. Untuk sebuah romcom, The Mermaid hanya terlalu mendominasi di “com”
nya bersama segala guyonan khas Chow yang absurd, bodoh dan over,
beberapa memang berhasil menusuk syaraf tawamu seperti adegan percobaan
pembunuhan atau momen di kantor polisi itu, tetapi sebagian lagi terasa
garing.
Sementara unsur romansanya dibentuk
secara paksa dan kasar, transisi untuk membangun rasa cinta terasa
kelewat cepat, hanya melalui acara makan ayam panggang dan
bersenang-senang beberapa jam di taman bermain, seakan-akan Chow tidak
terlalu memedulikan bagian ini meski sebenarnya sangat penting untuk
membangun ikatan emosi, bahkan kalau mau jujur, porsi cinta secuil yang
ada di Kung Fu Hustle dengan gadis bisu penjual permen itu jauh
lebih mengena. Dan terakhir soal CGI. Ya, kita tahu Chow senang
bermain-main dengan efek komputer untuk mendukung narasi dan
aksi-aksinya, dan tentu saja berbicara soal kualitasnya sudah
sepantasnya kita tidak membandingkannya dengan apa yang dilakukan
Hollywood, itu terlalu jauh, masalahnya kualitas CGI The Mermaid itu buruk, sangat buruk bahkan untuk sekedar dibandingkan dengan Shaolin Soccer atau Kung Fu Hustle sekalipun yang sebenarnya sudah masuk kategori ‘cukup’ itu.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar