Sabtu, 29 Oktober 2016
Download GTA V Full Version for Free
Download GTA V Full Version for Free – Dengan grafis yang lebih apik dibandingkan GTA 4, seri kelima ini masih mengusung genre aksi dan petualangan. Meski terdapat misi yang harus diselesaikan, pemain dapat dengan bebas menjelajahi peta permainan. Latar belakang permainan menggunakan peta San Andreas. Selain fitur sudut pandang orang pertama, pemain juga dapat bermain dengan sudut pandang orang ketiga.
Untuk menyelesaikan misi, tokoh utama yang dikendalikan oleh pemain terkadang harus menjelajahi tempat yang jauh. Oleh karena itu, tokoh tersebut dapat menggunakan kendaraan yang tersedia dengan cara mengambilnya. Akan tetapi, sebaiknya pemain berhati-hati karena akan ada konsekuensi apabila melakukan tindakan kejahatan.
Petualangan GTA V Free Download bermula ketika terjadi perampokan besar-besaran 9 tahun lalu. Perampok bernama Michael Townley tersebut kini sudah dibebaskan dan berada di bawah perlindungan saksi. Kemudian dirinya bertemu dan bersahabat baik dengan Franklin Clinton ketika berurusan dengan penjual mobil. Dari sinilah persahabatan mereka mengarah ke petualangan yang lebih menegangkan.
Meskipun Michael sudah berusaha menyembunyikan identitasnya, akan tetapi terungkap pula bahwa dirinya adalah mantan perampok yang handal. Lantas ia kembali ke dunia kriminal dan melakukan perampokan bersama Franklin untuk membayar hutang. Apakah usahanya kali ini akan berhasil dan tidak gagal seperti sebelumnya? Ikuti sendiri keseruannya dengan Download GTA 5.
Info
- Developer: Rockstar North
- Publisher: Rockstar Games
- Series: Grand Theft Auto
- Release date: 14 April 2015
- Genre: Action-adventure
- Mode: Single-player, multiplayer
Screenshots:
.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
System Requirements
- OS: Windows Vista SP2, 7 SP1, 8 / 8.1 (64-bit only)
- CPU: Intel Core 2 Quad @ 2.4GHz / AMD Phenom 9850 Quad-Core
- Graphics: NVIDIA 9800 GT 1GB / AMD HD 4870 1GB (DX 10, 10.1, 11)
- RAM: 4 GB
- Hard Drive: 65 GB free space
- Sound Card: 100% DirectX 10 compatible
Cara instal:
1.Install Socialclub.
2.Ekstrak file GTA 5.
3.Mount yang berekstensi ISO menggunakan PowerISO.
4.Install gamenya.
5.Copy file dari folder crack dan paste di direktori game. Contoh C:\Program Files\Grand Theft Auto V
6.Klik kanan GTAVLauncher.exe, lalu Run as administrator.
7.Gunakan update jika ingin memperbarui game.
1.Install Socialclub.
2.Ekstrak file GTA 5.
3.Mount yang berekstensi ISO menggunakan PowerISO.
4.Install gamenya.
5.Copy file dari folder crack dan paste di direktori game. Contoh C:\Program Files\Grand Theft Auto V
6.Klik kanan GTAVLauncher.exe, lalu Run as administrator.
7.Gunakan update jika ingin memperbarui game.
Download GTA 5 PC
- Full Game: [Uptobox] – [Downace] – [Clicknupload]
- Update v1.36 Incl Money Trainer: [Pastebin]
- Size: 60 GB Full Version
- Password: www.hienzo.com
You may also like...
Download Pro Evolution Soccer 2017 Full Version
Download Pro Evolution Soccer 2017 Full Version – Merupakan kelanjutan dari seri sebelumnya. Berbeda dengan PES 2016, game yang sering disingkat sebagai PES ini dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang sudah berevolusi. Pada umumnya, setiap karakter memiliki kemampuan bermain yang standar. Akan tetapi, pada game ini kemampuan tersebut berkembang dan disesuaikan dengan kemampuan pemain.
Kecerdasan buatan yang canggih tersebut mampu memahami kemampuan yang dimiliki oleh pemain. Fitur kecerdasan buatan semacam ini tidak ditemukan pada permainan bergenre serupa lainnya. Hal ini membuat pertandingan menjadi lebih realistis karena pemain juga berkembang dalam menghadapi lawan dengan kemampuan tertentu.
Pemain dapat melihat karakter yang memiliki penampilan layaknya pemain sepak bola di dunia nyata. Pemain juga dapat mengendalikan arah pergerakan bola dengan cara yang lebih mudah. Beberapa animasi seperti selebrasi atau cara mengoper bola dikembangkan sesuai dengan karakter pemain aslinya.
Tidak hanya para pemain, penjaga gawang yang ada dalam Download PES 2017 rupanya juga mampu melakukan lompatan yang spektakuler untuk menyelamatkan gawang. Animasi dan grafis PES 2017 layak diacungi jempol karena tampil begitu realistis. Game dari Konami ini telah bekerja sama dengan klub sepak bola ternama dunia sehingga membuat permainan menjadi lebih berkesan.
Info
- Developer: Konami Digital Entertainment
- Publisher: Konami Digital Entertainment
- Series: Pro Evolution Soccer
- Release date: 15 September 2016
- Genre: Sports
- Mode: Single-player, multiplayer
- Include: 16 Languages
Screenshots:



System Requirements
- OS: Windows Vista SP2, 7 SP1, 8, 8.1, 10
- CPU: Intel Core 2 Duo @ 1.8 GHz / AMD Athlon X2 240
- Video Card: DirectX 9.0c, 1 GB, Pixel Shader 3.0 (GeForce 8800 / Radeon X1600 / Intel HD Graphics 3000)
- RAM: 1 GB
- Hard Drive: 8 GB free space
- DirectX: Version 9.0c
- Sound Card: DirectX 9.0c
Cara main:
- Mount file iso dengan PowerISO.
- Jalankan setup dan instal.
- Copy isi dari folder Crack dan paste di folder instal PES 2017.
- Klik kanan pada Gamenya lalu run as admin.
- Untuk mengubah text dan audio, atur di menu options.
Download PES 2017
- Game version 1.01.00: [GDrive] – [Downace] – [Kbagi] – [5 Part]
- Crack Fix: [Upfile] – [Openload]
- Size: 9.7 GB Full Version
- Password: www.hienzo.com
You may also like...
Rabu, 26 Oktober 2016
The Witch (2016)

Jika kebanyakan horor konvensional menggantungkan dirinya pada kekuatan jeritan hasil dari parade jump scare, musik dan
penampakan-penampakan mahluk jahat yang mengerikan dengan hanya
menawarkan sedikit lapisan cerita yang dalam maka bersiaplah menyambut The Witch garapan sutradara debutan Robert Eggers yang ya, bisa dibilang sedikit berbeda.
Tidak butuh waktu lama buat The Witch
untuk bisa langsung menarik penontonnya masuk ke dalam sebuah dunia
yang dingin, kusam dan misterius. Mengambil set di New England era
1630-an, satu keluarga religius yang terdiri dari pasangan suami
istri dan keempat anaknya harus terbuang dari kelompoknya karena
perbedaan pandangan, mereka kemudian memilih untuk hidup menyendiri di
pinggir hutan terpencil yang tanpa sepengetahuan mereka ternyata angker
karena dipercaya sebagai tempat bersemayam seorang penyihir jahat.
Memang di atas kertas premisnya
terdengar simpel dan generik. Tema penyihir dan kutukan memang bukan
sesuatu yang asing lagi di dunia horor, lihat saja yang paling saya
ingat dalam beberapa tahun terakhir ini seperti Drag Me to Hell milik Sam raimi yang mengambil pendekatan lebih jenaka, tetapi The Witch milik
Eggers sendiri tidak memberi ruang sedikit pun untuk tawa, ia
seakan-akan menyedot semua kebahagiaan dan menggantinya dengan sesuatu
yang lebih gelap, lebih depresif dari cerita rakyat Ingris lama bersama
banyak gambar-gambar mengganggu yang siap menghantuimu bahkan setelah
kredit akhir muncul.
Kekuatan The Witch adalah
bagaimana Eggers mampu membangun dunianya dengan sangat-sangat kuat
sejak menit-menit pertama ia bergulir. Pemilihan palet warna kelabu
mendominasi visualnya, dikombinasikan dengan scoring garapan Mark
Korven yang menyayat menghasilkan aroma suram pekat. Sementara
pergerakan kameranya yang sepelan alur ceritanya sendiri menghasilkan
efek ‘siksa’ tersendiri, lihat saja ketika Eggers menyorot satu pohon di
hutan gelap itu, seperti tengah memperlihatkan bahwa ada ancaman besar
dari dalam sana yang siap menunggu keluarga malang itu.
The Witch punya lapisan yang rumit ketimbang horor konvensional lain dan perlakukan semi art house yang
pelan bersama segala dialog-dialog berdialek religi mungkin akan
membuat sebagian penontonnya tak nyaman menikmatinya, tetapi ia tidak
lantas menjadi absurd dan tanpa kepastian. Satu hal yang pasti bahwa
teror penyihir hutan itu ada, bisa kita lihat bagaimana sosok tua
mengerikan itu melakukan ritual-ritual seram di sarangnya, masalahnya
keluarga William (Ralph Ineson) tidak pernah melihatnya sendiri meski
mereka tahu persis ada sesuatu di dalam hutan sana yang membuat hasil
panennya busuk dan membuat keluarganya menderita. Bersama istrinya,
Katherine (Kate Dickie), keempat anak-anaknya, Thomasin (Anya
Taylor-Joy), Caleb (Harvey Scrimshaw) dan si kembar Mercy (Ellie
Grainger) dan Jonas (Lucas Dawson), William hanya bisa berlindung pada
fanatisme agamanya. Tetapi teror dari hutan tampak tidak bisa dibendung.
Perlahan namun pasti keluarga William mulai terpecah belah, krisis
kepercayaan mulai melanda menghancurkan bersama kejadian-kejadian aneh
di luar akal sehat.
Thomasin menjadi karakter yang paling
menderita di sini. Dengan status sebagai anak tertua, anak perempuan
pula, ia terjebak dalam situasi pelik di keluarganya. Di satu sisi
Thomasin yang tengah beranjak dewasa bisa menjadi jalan keluar dari
keadaan keluarganya yang mengalami kesulitan dengan menjodohkannya
kepada putra keluarga lain, tetapi kita tahu Thomasin tidak menginginkan
itu yang kemudian membawanya ke situasi lebih buruk lagi ketika ia
mulai disalahkan atas kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya. Yang
menarik, Eggers turut menyelipkan elemen coming of age di
dalamnya dengan segala pergolakan batin Thomasin dan Caleb, sesuatu yang
mungkin terasa aneh untuk sebuah genre horor namun nyatanya ia mampu
bersinergi dengan baik dengan plot utamanya, menjadikan The Witch
sebagai horor yang tidak hanya menakutkan dengan segala aroma hitam
pekat dan premis penyihirnya namun juga bagaimana elemen psikologisnya
bermain dengan cantik.
You may also like...
Eye In The Sky (2016)

Senang rasanya melihat seorang Barkhad
Abdi kembali bermain di sebuah film besar dan tidak berakhir menjadi
sekedar aktor berlebel ‘one hit wonder’ setelah debut luar biasanya di Captain Phillips
2013 silam yang diganjar berbagai penghargaan termasuk menang di ajang
BAFTA dan menjadi nominator Oscar sebagai pemeran pembantu pria terbaik.
Tetapi sesungguhnya Abdi bukan satu-satunya hal menyenangkan yang bisa
kamu dapatkan dalam Eye In The Sky, thriller perang produksi Inggris
garapan sutradara Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, Ender Game) ini, masih ada lusinan kejutan dan kesenangan yang sudah siap menunggumu di kurang lebih 102 menit ke depan.
Kisahnya berpusat pada usaha pemerintah
Inggris dalam sebuah operasi intelijen meringkus sekaligus mencegah
aksi kelompok teroris kelas kakap Al-Shabaab yang tengah melakukan
pertemuan rahasia di Nairobi, Kenya. Operasi yang dipimpin oleh Kolonel
Katherine Powell (Helen Mirren) ini melibatkan beberapa pihak
berkepentingan, dari Letnan Jendral Frank Benson (Alan Rikman) yang
mewakili pemerintahan Inggris, Steve Watts (Aaron Paul), pilot drone
tempur angkatan udara Amerika sampai agen rahasia Kenya, Jama Farah
(Barkhad Abdi).
Di era modern saat ini perang terhadap
terorisme jelas tidak terdengar asing, sudah banyak film yang
bolak-balik mengangkat tema macam ini, bahkan Gavin Hood sendiri
sebelumnya juga pernah membuat satu dalam Rendition, tetapi Eye In The Sky
mungkin akan menjadi sedikit berbeda. Naskah bikinan Guy Hibbert
mencoba bergerak dari sisi lain dari sebuah rantai komando operasi
militer rahasia yang setiap pilihan dan keputusan yang diambil
melibatkan banyak pihak, etika, politik dan yang paling penting, dilema
moral rumit. Jadi ia tidak lantas kemudian menjadi sajian thriller
perang modern dengan segala kecanggihan drone-drone intai tempurnya yang serta merta langsung main serbu saja ala Rambo yang berisik.
Setiap ketegangan berhasil dibangun
dengan sangat baik, ya, seperti yang saya katakan di atas, pilihan dan
keputusan berperan vital dalam menciptakan situasi super intens dengan
waktu yang terus berjalan. Di atas kertas pilihannya sebenarnya mudah,
tinggal lakukan atau tidak, tetapi saya senang bagaimana naskah cerdas
Hibbert tidak membuatnya semudah itu. Hood dan Hibbert memperlakukan
setiap karakternya dengan manusiawi, ada sebuah batasan abu-abu yang
harus dilewati, ini bukan sekedar usaha memberantas atau perang
kepada terorisme semata, ada rasa kemanusiaan, ada rasa takut
sekaligus cemas yang begitu besar di balik keperkasaan mereka
mengendalikan kekuatan perang modern yang canggih, terlihat dari saling
melempar tanggung jawab satu sama lain hanya karena tidak mau sampai
disalahkan jika nantinya sampai berakhir buruk.
Ya, benturan moral, segala kode etik, protokol mengemaskan serta macam-macam konflik internal menjadi sajian utama Eye In The Sky,
jujur, saya belum pernah melihat adegan sederhana seperti momen ketika
menunggu seorang bocah perempuan Nairobi berjualan roti bisa disajikan
dengan begitu mendebarkan sekaligus emosional atau bagaimana ketika
para petinggi-petinggi saling adu argumen tentang prosedur pelaksanaan
operasi yang tak jarang membuat kita tertawa getir. Sementara jajaran cast-nya
juga bermain gemilang dalam menggerakkan naskah dan penyutradaraannya.
Kita tahu lah kualitas aktris senior macam Helen Mirren yang sekali
lagi tampil mengesankan membawakan peran Kolonel Katherine Powell yang
tegas, penuh wibawa namun di saat bersamaan juga sama tidak berdayanya
ketika dihadapkan pada sebuah situasi yang sulit. Sementara mendiang
aktor Alan Rikman juga tampil sama hebatnya sebagai petinggi militer
Inggris Frank Benson di salah satu film terakhirnya. Saya senang ketika
Hood berhasil membagi setiap perannya dengan porsi yang sama pentingnya,
baik Mirren, Rikman, Aaron Paul sampai Barkhad Abdi bergantian
menampilkan penampilan terbaik mereka.
You may also like...
The Huntsman: Winter’s War (2016)
The Huntsman: Winter’s War adalah sebuah kasus yang lucu, kenapa? Ya, untuk sebuah sekuel sekaligus prekuel dari Snow White and the Huntsman yang merupakan adaptasi kisah si Putih Salju alias Snow White
ia nyaris tidak memunculkan tokoh sentral dari dongeng legendaris asal
Jerman milik Grimm bersaudara itu, bahkan di judulnya saja namanya tidak
lagi nongol. Absennya karakter sentral Snow White yang dimainkan oleh
Kristen Stewart di film pertamanya bukan tanpa alasan. Adalah skandal
kasus perselingkuhan yang dilakukan sutradara Rupert Sanders dan Stewart
yang kemudian mengacaukan segalanya.
Sejatinya Sanders dan Stewart sudah
diproyeksikan untuk kembali ke sekuelnya namun terpaksa batal karena
kasus memalukan tersebut. Jadi ada sebuah perjudian hebat yang kemudian
dilakukan Universal dengan tetap melanjutkan proyek sekuel Snow White
meski tanpa mengikutsertakan Kristen Stewart dan Rupert
Sanders, sebagai gantinya, naskahnya kemudian dirombak total,
meminggirkan tokoh Snow White dan lebih memusatkan pada cerita sang
pemburu a.k.a The Huntsman dan kehidupannya sebelum dan sesudah dirinya
bertemu dengan dengan si Putih Salju.
Alkisah jauh sebelum kematiannya di
tangan Snow White, ratu Ravenna (Charlize Theron) adalah istri dari
seorang raja yang kemudian tega dibunuhnya sendiri guna mengapai
kekuasaan lebih besar. Tetapi rupanya hidupnya masih belum tenang ketika
cermin ajaib memberi tahu bahwa kecantikannya terancam oleh kehadiran
bayi perempuan adiknya sendiri, Freya (Emily Blunt). Ravenna kemudian
membunuh bayi Freya dengan menjebak adik iparnya alias suami Freya,
membuat Freya sangat marah sampai-sampai ia lepas kendali dan membunuh
suaminya sendiri. Dari sini Freya berduka kemudian memilih untuk pergi
ke utara, membangun kerajaannya sendiri dengan melatih anak-anak dari
penjuru negeri untuk dijadikan pasukan huntsman nya, termasuk
di dalamnya dua yang terbaik, Eric (Chris Hemsworth) dan Sara (Jessica
Chastain) yang juga kebetulan saling jatuh cinta.
Ya, Universal tahu bahwa kehilangan
tokoh sentral dari dogeng abadi itu merupakan pukulan telak, bahkan
menggantikan naskahnya dengan memusatkan kisahnya pada tokoh sang
pemburu tampan saja tidak lah cukup, beruntung The Huntsman: Winter’s War kedatangan nama-nama besar yang mampu menjadikan magnet besar buat penontonnya untuk masih mau datang dan menontonnya. Ya, casting ‘bintang limanya’ bisa dibilang menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan oleh The Huntsman: Winter’s War karena jujur saja naskah garapan Craig Mazin dan Evan Spiliotopoul yang sedikti banyak langsung mengingatkan saya pada Frozen-nya
Disney tidak bisa dibilang bagus. Ya, mungkin bukan sepenuhnya salah
Mazin dan Spiliotopoul, mungkin ini semua lagi-lagi salah Stewart dan
Sanders karena skandal affair mereka kisahnya terpaksa harus
dirombak sedemikian rupa dari rencana awal dengan segala paksaan
sana-sini yang malah membuat semuanya menjadi berantakan.
Garis waktunya berada pada era sebelum dan sedu Snow White and the Huntsman
dan sesudahnya, menjadi lucu dan aneh ketika di dalamnya para
karakternya sering menyebut-nyebut Snow White tanpa pernah
memperlihatkan sosok sang putri cantik tersebut yang dikabarkan tengah
sakit karena cermin ajaib yang di dalamnya masih bersemayam jiwa gelap
Ravenna. Jadi selama 114 menit durasinya, The Huntsman: Winter’s War
memusatkan segalanya pada sepak terjang sang Eric sang pemburu dalam
usaha menghancurkan cermin ajaib agar tidak sampai jatuh ke tangan yang
salah dan juga kisah cintanya dengan istrinya, Sara.
Kombinasi konsep dongeng modifikasi nanggung, petualangan yang tidak terlalu greget,
romansa gombal dan penyutradaraan ‘lembek’ dari seorang debutan macam
Cedric Nicolas-Troyan yang sebelumnya bertindak sebagai pengawas spesial
efek di film pertamanya memang menjadi luka-luka besar buat The Huntsman: Winter’s War. Ya,
ia bisa saja bertambah buruk jika tidak dibantu oleh pesona jajaran
pemainnya yang tidak hanya bermodalkan nama-nama besar semata namun juga
bermain cukup bagus. Hemsworth mungkin hanya mengulangi peran lamanya
sebagai Eric, the Hunstman yang charming dan tangguh,
ia ditemani oleh Jessica Chastain sebagai Sara yang juga tampil oke
meski karakternya tidak disokong oleh cerita yang kuat. Tetapi kalau mau
jujur, saya pribadi lebih terpesona dengan Emily Blunt sebagai Freya si
ratu es dengan karakterisasi dan background cerita yang lebih
kompleks plus bonusnya, dandanan dan pemilihan kostum yang sama
kerennya. Sementara meski hanya tampil sebentar di awal dan akhir
film, Charlize Theron kembali mengulangi performa mengerikan seperti di
film pertamanya sebagai Ravenna yang kejam.
You may also like...
The Jungle Book (2016)
Novelis asal Inggris Rudyard Kipling
mungkin akan terus tersenyum lebar di dalam kuburnya. Sebelumnya
ia tidak pernah menyangka bahwa ketika pertama kali membuat sebuah kisah
tentang bocah manusia yang dibesarkan serigala di hutan India 1894
silam ternyata bisa begitu sangat populer di masa depan, bahkan setelah
122 tahun kemudian, The Jungle Book masih menjadi salah
satu kisah abadi yang selalu diceritakan kembali dan kembali, menyaingi
ketenaran Tarzan yang punya konsep serupa. Tetapi Kipling sebenarnya
juga patut berterima kasih pada Walt Disney yang sudah menjadikan The Jungle Book franchise
abadi melalui berbagai macam adaptasi, mulai animasi rilisan 1967 yang
begitu populer (sekuelnya dibuat 2003 silam), serial televisi, video game dan tentu saja versi live action-nya yang sebelum kemunculan versi terbarunya tahun ini sudah ada dua pendahulunya dalam Rudyard Kipling’s The Jungle Book (1994) dan The Jungle Book: Mowgli’s Story (1998).
Seperti yang saya katakan di atas, tidak peduli di era mana kamu berada, The Jungle Book
itu abadi termasuk bikinan John Favreau ini yang masih menghadirkan
kisah yang sama, cerita tetang Mowgli (Neel Sethi) bocah manusia yang
diselamatkan Bagheera (Ben Kingsley) si macan kumbang, di besarkan oleh
sekawanan serigala pimpimpan Akela (Giancarlo Esposito) dan Raksha
(Lupita Nyong’o), bersahabat dengan beruang bernama Baloo (Bill
Muray) yang kemudian harus berhadapan dengan Shere Khan (Idris Elba) si
macan Bengal yang jahat.
Ya, secara keseluruhan kisahnya masih
sama seperti animasi 1967 dan versi Rudyard Kipling sendiri jadi ini
bisa dibilang pekerjaan mudah untuk penulis naskah Justin Marks yang
mungkin hanya sedikit melalukan modifikasi. Jika ada yang menonjol di The Jungle Book
versi terbaru ini mungkin terlihat dari sisi teknisnya yang tentu saja
melampaui para pendahulunya. Ya, berbicara soal kualitas teknis, Jon
Favreau benar-benar dimanjakan dengan perkembangan teknologi CGI, 3D photography dan motion capture yang semakin canggih. Dunia artifisial The Jungle Book sukses digambarkan dengan sangat cantik dan detil oleh tangan-tangan hebat dari Moving Picture Company (MPC) dan Weta Digital, baik itu karakter para hewan yang digambarkan begitu hidup (hanya kalah dari Life of Pi)
atau hanya sekedar vegetasi dari pohon-pohon besar dan fauna hutan
hujan India yang eksotis. Semua kebesaran spesial efek itu dibungkus
oleh sinematografi cakep Bil Pope yang mampu menerjemahkan
visi penyutradaraan enerjik dan penuh humor Favreau menjadi sebuah
kesatuan tak terpisahkan dalam usaha untuk menghadirkan sebuah konsep
petualangan keluarga klasik dalam eksekusi yang lebih modern.
Narasinya sederhana dan bersahabat tanpa
substansi macam-macam, humornya lucu dan enak dinikmati semua umur,
petualangannya seru dan mendebarkan, sisi emosionalnya juga cukup
mengena namun jika ada satu hal yang paling menonjol dari The Jungle Book selain visualnya yang ciamik itu adalah jajaran cast
pengisi suaranya. Bukan hanya karena diisi oleh nama-nama besar
saja namun bagaimana mereka memberi jiwa pada karakter-karakternya
dengan sangat baik, lihat saja bagaimana Baloo bisa terasa sangat
bersahabat dalam suara Bill Murray, suara lembut Lupita Nyong’o
membentuk sisi keibuan dari Raksha, nada bijaksana dari Bagheera-nya
Beng Kingsley, Christopher Walken dengan King Louie yang tamak, suara
menggoda nan seksi dari Scarlett Johansson berwujud Kaa yang sayang
hanya tampil sebentar sampai ancaman besar dari sosok harimau Bengal
yang di alih suarakan Idris Elba.
You may also like...
Captain America: Civil War (2016)
Bukan hanya sekedar berlabel sekuel kedua Captain America dan film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), Captain America: Civil War
jauh lebih besar dari itu ketika dalam materi promosinya ia
tidak sekedar mencoba membawa kisah sang Kapten lebih jauh lagi sebagai
pembuka fase ke-3 MCU namun menawarkan lebih banyak kehadiran pahlawan
super ‘baru’ sebagai penawar kekecewaan yang mungkin sempat kamu rasakan
dalam The Avengers: Age of Ultron.
Memulai segalanya sebagai awal dari fase ketiga MCU, Captain America: Civil War membuka ceritanya dengan efek pasca insiden Sokovia di Avengers: Age of Ultron yang memaksa para pemimpin dunia terpaksa harus mengambil keputusan dengan membatasi gerak-gerik para Earth’s Mightiest Heroes yang
dalam setiap misinya tidak jarang memakan korban jiwa tak bersalah dari
masyarakat sipil, terakhir ketika mereka mengejar Brock Rumlow
a.k.a Crossbones (Frank Grillo) di Lagos, Nigeria. Tentu saja ini
kemudian menjadi situasi rumit yang harus dihadapi para punggawa
Avengers, sang pemimpin, Captain America (Chris Evans) menolak
menandatangani perjanjian Sokovia, sementara Iron Man (Robert Downey
Jr.) memilih untuk ikut dengan cara pemerintah. Menjadi lebih pelik
ketika Steve Rogers harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya,
Bucky “The Winter Soldier” Barnes (Sebastian Stan) menjadi tersangka
utama di balik salah satu kejadian terorisme mematikan di Vienna,
Austria. Sang kapten memilih untuk memberontak dan menyelamatkan Bucky
tentu saja dengan konsekuensi besar, ia harus berhadapan dengan separuh
teman-teman Avengers-nya sendiri. Sementara dari kejauhan ada sosok
misterius Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang punya agenda tersendiri.
Jika dua seri The Avengers menghadirkan konsep good vs evil dengan membawa banyak pahlawan super melawan teror jahat dari luar macam alien atau robot cerdas, maka Captain America: Civil War mencoba tampil lebih ekstrem. Ya, ini adalah pertarungan masif ketika di dalamnya melibatkan aksi superhero vs superhero
seperti yang bolak-balik diperlihatkan dalam beberapa trailler-nya
termasuk salah satu yang paling menghebohkan ketika menampilkan
kehadiran sosok laba-laba merah dengan konsep yang berada dalam wilayah
abu-abu. Ini adalah pertandingan besar antara tim Kapten vs tim Iron Man
yang ironis siapa pun siapa pun yang menang maka dunia tetap kalah.
Tetapi bukan berarti Civil War menjadi Avengers 2.1 dengan hanya mengandalkan satu lusin superhero semata, ini tetap adalah film sang Kapten dan ia tetap menjadi hati dan jiwanya.
Kita tahu Steve Rogers mungkin adalah
manusia dengan kebaikan hati begitu besar dan di sini sekali lagi,
seperti di dua seri pendahulunya ia kembali harus mengambil sebuah
keputusan sulit di situasi yang pelik. Membawa kembali sosok Bucky
setelah peristiwa di The Winter Soldier adalah langkah tepat.
Bucky jelas menjadi sangat personal buat Steve Rogers, ia tidak hanya
sahabat namun juga satu-satunya bagian dari masa lalunya yang masih ada
apalagi di sini sang pujaan hati. Peggy Carter dikisahkan telah tutup
usia. Jadi melindungi Bucky yang notabene adalah buronan paling dicari
adalah sebuah keharusan bagi Steve Rogers.
Tentu saja dibutuhkan alasan kuat
mengapa dua kubu superhero harus terpecah dan saling baku hantam.
Sepintas mungkin yang terlihat terkesan sederhana, semata-mata hanya ada
Captain America yang melindungi teman sekaligus musuh dan saya senang
ternyata duo penulis naskahnya, Christopher Markus dan Stephen
McFeely tidak menggampangkannya begitu saja. Benturan ideologi berbeda
antara tim Kapten dan tim Iron Man dihadirkan dengan alasan yang kuat
dan juga rumit. Di satu sisi Steve Rogers tidak ingin aksi kemanusiaan
mereka dibatasi yang berarti ia tidak bisa beraksi setiap saat tanpa
persetujuan pemerintah, baginya jatuhnya korban sipil dalam sebuah
peperangan melawan kejahatan itu memang tidak bisa dihindarkan.
Sementara Tony Stark menyetujui langkah pemerintah dan pemimpin dunia
untuk membatasi aksi mereka pasca kejadian di Sovokia yang merenggut
banyak jiwa tak berdosa ini diperkuat dalam sebuah adegan di mana Stark
bertemu dengan ibu dari salah satu korban Sovokia yang menyalahkan aksi
heroiknya di Age of Ultron lalu. Tidak ada yang bisa disalahkan dari keduanya, keduanya punya alasan mereka masing-masing yang membuat momen pembukaan Civil War menjadi kuat. Argumen moral tentang perbedaan dalam menyingkapi collateral damage kemudian
berujung konflik horizontal kemudian menjadi tak terelakkan. Hubungan
antara Steve dan Tony benar-benar mendapat ujian berat di sini, penonton
akan disuguhkan sebuah bromance antara Rogers dan Bucky sementar di
tempat lain juga menjadi saksi pertentangan batin Tony Stark dengan
segala masa lalu tentang nasib kedua orang tuanya.
Ya, Civil War memang punya
konsep menarik ketika menawarkan benturan internal antara sesama
superhero dengan segala motifnya, tetapi kalau mau jujur, dari segi
penceritaan ia hanya sedikit lebih baik dari Age of Ultron dan masih jauh berada di bawah salah satu seri terbaik MCU; Captain America: The Winter Soldier yang begitu intens dan solid. Setelah first act yang cukup kuat Civil War kehilangan konsistensi dalam upayanya penceritaannya dan kemudian menderita banyak di sepertiga akhir yang kebanting telak
setelah momentum puncak dalam pertarungan luar biasa di landasan
pesawat terbang meski harus diakui juga itu sebuah akhir yang cukup
emosional. Ya, beberapa kejutan berupa kemunculan para anggota baru
Avengers macam Black Panther (Chadwick Boseman) dan yang paling
ditunggu, Spider-Man (Tom Holland) sedikit banyak mampu membiaskan
kondisi plotnya yang agak kacau termasuk kehadiran villain misterius Helmut Zemo yang dimainkan Daniel Bruhl yang sayangnya berakhir dengan motif terlalu simpel.
Berbicara soal adegan di airport tadi, Civil War di bawah arahan Anthony Russo dan Joe Russo yang kembali dipercaya setelah pekerjaan bagus mereka di The Winter Soldier sukses menghadirkan sekuen pertarungan terbaik sejauh ini dalam sejarah adaptasi superhero layar lebar. Setiap set-pieces
dihadirkan duo Russo dengan fantastis, humor, aksi dan spesial efek
melebur menjadi sebuah kesatuan kesenangan yang diharapkan tidak pernah
berakhir, setiap karakter yang terlibat mendapatkan sinarnya
masing-masing. Melihat bagaimana Spider-Man “baru” bergabung dengan
penuh gaya menghajar Falcon dan Bucky itu tak terlukiskan dengan
kata-kata, terkaman garang Black Panther memberi asupan segar sampai
puncaknya aksi Ant-Man bersama kejutan besar jelas adalah mimpi basah
yang akhirnya benar-benar terwujud tidak hanya buat para penggemar komik
namun siapa saja yang mencintai film superhero. Tidak diragukan lagi,
momen itu akan selalu dikenang oleh peontonnya selama bertahun-tahun
kemudian.
Spider-Man jelas adalah salah satu daya tarik terbesar buat Civil War setelah
Marvel menegaskan rumor yang beredar dalam sebuah trailer yang sempat
menghebohkan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Menariknya, Civil War bukan sekedar ajang come back sekelebatan buat Spidey untuk sekedar mencuri perisai si Kapten setelah Sony memutuskan untuk sekali lagi me-reboot salah satu franchise favoritnya
itu namun menjadi luar biasa ketika duo Russo memberi porsi cerita
tersendiri buat Peter Parker baru dalam wujud Tom Holland dengan segala
pesona bocah ABG yang luar biasa cerewet bersama kehadiran bibi May yang
ehmm….jauh lebih cant, eh, muda. Tetapi tidak hanya Spidey yang
mendapatkan kesempatan untuk tampil debut, T’Challa a.k.a Black Panther
yang dimainkan Chadwick Boseman pun turut mencuri perhatian bersama
kemunculannya yang elegan. Popularitasnya yang harus diakui masih kalah
dengan Spider-Man malah menghadirkan sisi misterius tersendiri yang
membuat penonton awam tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, apalagi ia
mampu tampil mengesankan di sini dengan kostum keren dan adegan aksi
yang memukau.
You may also like...
10 Cloverfield Lane (2016)
Meski punya konsep tentang invasi alien yang menarik dan dipuja-puji oleh para kritikus, faktanya Cloverfield garapan Matt Reeves 2008 silam bukan jenis film yang mudah dinikmati karena penyajian ala found footage-nya yang membuat separuh penontonnya pusing dan mual-mual karena efek shaky
kameranya yang begitu ‘mentah’. Tetapi jika bisa selamat melewati
teknis dan editing ‘kasarnya’ yang memabukan, kamu mungkin akan sepakat
seperti saya bahwa Cloverfield memang adalah salah satu thriller fiksi ilmiah kecil yang jenius dan paling mendebarkan yang pernah ada.
Bahkan setelah rilisnya Cloverfield
pembicaraan soal sekuelnya sudah muncul di permukaan meski kenyataannya
hanya sekedar menjadi omong-omong semata. Sanking antusiasnya
mengharapkan seri lanjutan Cloverfield, sampai-sampai banyak penonton yang berspekulasi bahwa Super 8-nya J.J Abrams adalah sekuel Cloverfield, tentu saja kemudian dibantah mentah-mentah oleh sutradara Star Wars: The Force Awakens itu. Tetapi penantian panjang itu berakhir sudah setelah di awal tahun ini Paramount Pictures mengumumkan judul resminya, 10 Cloverfield Lane yang dibarengi dengan trailer dan marketing viral ala Cloverfield yang mengusik rasa penasaran.
Tetapi kenyataannya, 10 Cloverfield Lane bukanlah sekuel Cloverfield,
bahkan J.J Abrams yang kembali duduk di bangku produsernya pun
menegaskan demikian meski ia tidak menampik bahwa film garapan sutradara
debutan Dan Trachtenberg ini berbagi DNA yang sama termasuk dunia
alternatif yang sama dengan Cloverfield-nya Reeves. Mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai spin-off atau sidequel
mengingat narasinya yang bukan seperti lanjutan namun bekerja sebagai
pondasi yang juga berjalan beriringan dengan peristiwa yang terjadi
dalam Cloverfield.
Jadi tidak ada penampakan kaiju seperti
di film pertamanya. Tembok-tembok besar pencakar langit New York yang
porak poranda digantikan dengan pemandangan pinggir kota yang sunyi,
memperlihatkan sosok Mary Elizabeth Winstead dalam wujud Michelle tengah
mengendarai mobilnya, pergi jauh dari kehidupan lamanya, meninggalkan
kekasihnya, Ben (Bradley Cooper) yang memohon-mohon untuk kembali lewat
pengeras suara iPhone-nya. Tetapi jauh sebelum ia sampai di
tempat tujuan yang entah di mana, mobil Michelle mengalami kecelakaan
hebat yang juga menjadi salah satu opening credit paling keren yang pernah ada.
Dari sini cerita dimulai. Singkatnya,
Michelle kemudian diselamatkan oleh Howard (John Goodman) dan dibawa ke
bunker bawah tanahnya. Howard menjelaskan bahwa ada serangan misterius
mematikan yang tengah menghancurkan dunia, membuat udara di luar
sana tercemar oleh limbah beracun mematikan. Michelle tidak sendiri di
sana, ada tetangga Howard, Emmet (John Gallagher, Jr.) yang juga
beruntung bisa berada di bunker yang mungkin paling nyaman di dunia itu.
Ya, bunker Howard mungkin sangat nyaman, aman dan hangat, jauh dari
ancaman mengerikan dari luar, tetapi siapa sangka teror malah datang
dari dalam yang kemudian memaksa Michelle harus memutar otak agar bisa
keluar dari sana.
10 Cloverfield Lane memang meminjam universe dan premis dasar tentang kiamat alien dari abangnya, Cloverfield sebagai pondasi ceritanya, tetapi jujur saja ini seperti dua film yang benar-benar berbeda. Kita mengenal Cloverfield dengan gaya mocku horornya yang mencekam dan memabukan, di sini, di 10 Cloverfield Lane, Dan Trachtenberg melakukan pendekatan lebih bersahabat dengan membuang jauh-jauh pengunaan shaky cam-nya,
kembali ke sudut pandang orang ketiga, memodifikasi konsep sci-finya
menjadi thriller home invasioan ruang sempit yang mencekam. Ya, 10 Cloverfield Lane memang kehilangan penyajian yang membuat Cloverfield selalu diingat tetapi bukan berarti ia lantas kehilangan taji dan ciri khasnya sendiri.
Saya suka bagaimana Trachtenberg
mengolah naskah buatan Josh Campbell dan Matt Stuecken dengan sangat
berkelas, mengalihkan perhatian kita sejenak dari dunia luar Cloverfield
yang tidak jelas nasibnya, memfokuskan segalanya ke bunker nyaman milik
Howard yang dipenuhi dengan banyak pertanyaan, misteri dan
ketidakpastian dan juga tekanan tingkat tinggi yang dibangun perlahan
namun dengan pasti akan mencekikmu nanti bersama atmosfer klaustrofobik
menyesakan yang sangat efektif menggedor jantungmu sampai akhir nanti.
Saya suka bagaimana Trachtenberg membangun segalanya dengan solid sejak
awal. Membuka filmnya dengan opening yang keren, menghadirkan misterinya
yang langsung menyentil rasa penasaranmu dan yang paling utama adalah
bagaimana dengan jenius ia memaksimalkan sumber dayanya yang sangat
terbatas, perlu diketahui, bujet 10 Cloverfield Lane ini lebih kecil ketimbang Cloverfield yang sebenarnya juga sudah sangat minim itu, tetapi sekali lagi Trachtenberg membuktikan bahwa biaya produksi bukan segalanya.
Satu hal lain yang menonjol dalam 10 Cloverfield Lane selain kualitas narasi dan penyutradaraan yang ‘menyimpang’ adalah casting-nya
yang sempurna. Ia hanya punya tiga orang pemain utama, dan semua
bermain fantastis. Kudos terutama patut diberikan kepada aktor senior
John Goodman dalam salah satu penampilan terbaiknya. Berperan sebagai
Howard sang penyelamat, Goodman bisa menghadirkan sebuah kompleksitas
karakter yang menarik. Di satu sisi ia menimbulkan kecurigaan dengan
segala tindakan pencegahan yang sedikit berlebihan, tetapi ia punya
alasan bagus untuk itu dan jawaban buat semua pertanyaan, tetapi di sisi
lain susah untuk tidak menaruh curiga kepadanya meski terlihat lembut
dan sangat peduli, karakter Howard bisa menjadi sangat menyeramkan.
Sementara Mary Elizabeth Winstead sukses menjadi heroin tangguh yang manusiawi meski di thrid act-nya
ia tampak terlalu hebat. Secara keseluruhan Winstead mampu memadukan
kekuatan emosi, rasa was-was dan kecerdasan berpikir yang berhasil di
bawakannya dengan baik, relasinya bersama John Gallagher, Jr. memberikan
sisi emosional tersendiri, terutama ketika Trachtenberg memberi sesi curhat intim buat keduanya guna memberi kedekatan lebih kepada penontonnya yang tentu saja menghasilkan efek peduli yang lebih kuat.
You may also like...
Kung Fu Panda 3 (2016)

Dibanding Pixar, Dreamworks bisa
dibilang lebih sukses ketika berurusan dengan sekuel-sekuel animasinya
tanpa kehilangan pesonanya, lihat Shrek yang masih sukses meski sudah menyentuh empat seri lalu juga ada wara laba Madagascar juga mencapai tahap trilogi dan tentu saja franchise Kung Fu Panda yang akhirnya menelurkan seri ketiganya setelah lima tahun absen. Ya, berbicara soal Kung Fu Panda
berarti kita akan berbicara soal animasi yang seru, lucu dan keren
bersama begitu banyak hewan-hewan yang mampu tampil imut dan garang di
saat bersamaan. Jarang ada animasi barat yang sarat dengan segala
pernak-pernik oriental, baik budaya termasuk bela dirinya yang mampu
digarap dengan keseimbangan sempurna antara humor dan aksi, dan Kung Fu Panda
berhasil melakukannya dengan sangat baik, jadi tidak heran jika ia
menjadi salah satu animasi yang paling diantisipasi di setiap kemunculan
seri terbarunya, baik itu animasi pendek maupun film panjangnya.
Jujur, Kung Fu Panda 3
sebenarnya tidak menawarkan sebuah pola yang baru. Ia masih dalam jalur
penceritaan yang sama dengan para pendahulunya, Ada konflik baru,
tantangan baru dan tentu saja musuh baru serta bagaimana Po berjibaku
dengan dirinya sendiri untuk menjadi sosok pendekar yang lebih baik. Ya,
menarik memang jika berbicara soal Po si panda gendut ini, bagaimana
tim penulisnya mampu mengeksplorasi karakter dan latar belakang cerita
hidupnya yang secara tidak langsung sudah membentuk benang merah di
setiap serinya. Seri pertamanya Po belajar menjadi pahlawan baru, seri
keduanya bagaimana ia mempertajam kemampuannya dan di seri ketiganya ini
secara garis besar adalah bagaimana ia menjadi guru bagi Furious Five
yang juga sahabat-sahabatnya, namun sekali lagi benang merah dari masa
lalu Po kembali datang dalam wujud panda bernama Li Shan (Bryan
Cranston) yang tidak lain tidak bukan adalah ayah kandung Po yang
kemudian mengajaknya pulang ke desa rahasia para panda. Sementara di
alam baka, musuh lama Grand Master Oogway (Randall Duk Kim), Kai (J. K.
Simmons) bangkit kembali dari alam kematian setelah berhasil mencuri chi dari arwah-arwah pendekar hebat, termasuk Master Oogway sendiri.
Seperti yang saya katakan di atas, kekuatan utama dari Kung Fu Panda sejak kemunculan perdananya 2008 silam adalah perpaduan olahan humor kocak dari dialog sampai fisik, aksi martial arts
spektakuler dan pemilihan karakter yang kuat dan kombinasi itu yang
lagi-lagi kita dapatkan di seri ketiganya ini yang kembali dipegang
Jennifer Yuh Nelson bersama Alessandro Carloni terlepas dari narasinya
yang sedikit lemah dan terkesan mengulang kembali pakem di seri
sebelumnya. Kualitas animasinya masih sama bagusnya dengan yang
sudah-sudah, baik itu CGI maupun gambaran tangan, termasuk di
dalamnya detail karakter maupun lingkungannya, keduanya ditambah dengan
scoring Hans Zimmer yang
menjadi perpaduan apik dalam menggambarkan perjalanan Po yang untuk ke
sekian kalinya lagi-lagi haris mencari jati dirinya.
Jika ada satu hal lain yang saya suka tentang Kung Fu Panda
selain koreografi dan humornya, itu adalah kualitas voice over dari
para pengisi suaranya. Hampir semua aktor dan aktris pengisi suara dari
dua seri sebelumnya kembali meneruskan pekerjaan bagus mereka. Jack
Black masih menjadi daya tarik utama Kung Fu Panda 3, ia menjadi jiwa
dan raga buat karakter Po dengan suara sempurna dan tentu saja dengan
segala guyonannya yang hampir semua didominasinya. Sayang penyakit lama Kung Fu Panda
masih kambuh ketika ia tidak benar-benar bisa memaksimalkan nama-nama
besar macam Angelina Jolie, Lucy Liu, Seth Rogen, David Cross sampai
Jackie Chan yang terkesan sekedar hanya menjual nama besar dengan dialog
yang mungkin tidak mencapai separuh halaman. Yang menarik adalah
bagaimana pengaruh besar Angelina Jolie yang sampai-sampai ia bisa
melibatkan anak-anaknya untuk turut mengisi suara para panda kecil di
sini, dari Pax , Knox Jolie-Pitt, Zahara sampai Shiloh Jolie-Pitt. Tentu
saja sekuel baru tentu ada karakter baru, kali ini Kung Fu Panda 3
turut menghadirkan J.K Simmons sebagai Kai si kerbau, villain
utama yang garang, Kate Hudson yang kebagian peran kecil sebagai panda
betina Mei Mei dan Jean-Claude Van Damme dalam wujud si Master Croc yang
nyaris tanpa dialog.
You may also like...
The Mermaid (2016)
The Mermaid datang ke bioskop
Indonesia dengan modal penuh kepercayaan diri tingkat tinggi, tidak
hanya karena ia menjadi film besutan sutradara sekaligus
aktor, produser sekaligus komedian legendaris Hong Kong, Stephen Chow
namun juga membawa status perkasa sebagai film terlaris Cina sepanjang
masa dengan keberhasilannya menggondol lebih dari setengah miliar Dolar,
bahkan sejauh ini di 2016 ia hanya kalah dari Deadpool sebagai film dengan berpenghasilan terbesar. Jika menilik dari track record Chow sebagai sutradara yang pernah menghasilkan film-film mega hit macam Shaolin Soccer, Kung Fu Hustle sampai CJ7, kesuksesan The Mermaid
sebenarnya tidaklah sampai terlalu mengejutkan, toh, Chow memang punya
sentuhan emas dalam film-film yang dihasilkannya, meski ia tidak melulu
harus bermain di setiap film yang ditukanginya, sebut saja misalnya Journey to the West: Conquering the Demons dan dalam The Mermaid pun Chow memilih untuk duduk di belakang layar.
Memadukan satir tentang isu lingkungan hidup dalam bungkus komedi dan romansa berlatar dongeng klasik putri duyung, The Mermaid memfokuskan kisahnya pada rencana reklamasi Green Gulf; sebuah
lokasi suaka alam yang dilakukan oleh pengusaha sukses, Liu Xuan (Deng
Chao) bersama patner bisnisnya, Ruolan (Kitty Zhang Yuqi). Mereka
memasang sonar khusus untuk mencegah lumba-lumba kembali ke sana, tanpa
pernah disadari tindakan yang mereka lakukan ternyata juga merusak
lingkungan kehidupan para manusia duyung yang hidup bersembunyi di sana.
Demi menjaga kelangsungan hidup mereka, pimpinan para merpeople;
Octopus (Show Luo) menugaskan anggotanya yang cantik, Shan (Lin Yun)
untuk menggoda dan menjebak Li Xuan masuk perangkap kemudian
membunuhnya. Namun yang terjadi malah keduanya jatuh cinta.
Ya, ini klasik, cerita tentang putri
duyung yang jatuh cinta pada manusia adalah dongeng lama yang kali ini
coba dimodernisasi oleh Stephen Chow bersama kawan-kawan seperjuangannya
macam Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong,
Chan Hing-ka, Tsang Kan-cheung dalam bentuk komedi romantis. Ya, memang
bukan barang baru, tetapi tetap saja konsep fantasi macam ini bisa jadi
sajian menarik jika dikelola dengan benar, sayang saya tidak menyukai
apa yang dilakukan Chow kali ini. Mengapa? Pertama, ia tidak punya
kekuatan bercerita yang solid, ya, saya tahu ini komedi dan tak perlu
lah segala narasi yang serius, tetapi ia bisa melakukannya di Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle,
itu adalah perpaduan antara keseriusan dan komedi yang sempurna meski
harus diakui kualitas CGI nya memang tidak terlalu bagus. Sementara
untuk The Mermaid bisa dibilang berantakan secara keseluruhan.
Dimulai dengan footage-footage ‘mentah’ tentang
kerusakan lingkungan, Chow seperti tengah melakukan kampanye tentang
lingkungan hidup. Setelah itu ia memulai ceritanya dengan canggung
dengan banyak akward moment. Ya, memang dalam perjalanannya
plotnya memang menjadi lebih baik namun bukan berarti secara
keseluruhan filmnya juga menjadi lebih baik. Kedua, karakter-karakternya
lemah, selemah kualitas narasinya. Untuk sebuah romcom, The Mermaid hanya terlalu mendominasi di “com”
nya bersama segala guyonan khas Chow yang absurd, bodoh dan over,
beberapa memang berhasil menusuk syaraf tawamu seperti adegan percobaan
pembunuhan atau momen di kantor polisi itu, tetapi sebagian lagi terasa
garing.
Sementara unsur romansanya dibentuk
secara paksa dan kasar, transisi untuk membangun rasa cinta terasa
kelewat cepat, hanya melalui acara makan ayam panggang dan
bersenang-senang beberapa jam di taman bermain, seakan-akan Chow tidak
terlalu memedulikan bagian ini meski sebenarnya sangat penting untuk
membangun ikatan emosi, bahkan kalau mau jujur, porsi cinta secuil yang
ada di Kung Fu Hustle dengan gadis bisu penjual permen itu jauh
lebih mengena. Dan terakhir soal CGI. Ya, kita tahu Chow senang
bermain-main dengan efek komputer untuk mendukung narasi dan
aksi-aksinya, dan tentu saja berbicara soal kualitasnya sudah
sepantasnya kita tidak membandingkannya dengan apa yang dilakukan
Hollywood, itu terlalu jauh, masalahnya kualitas CGI The Mermaid itu buruk, sangat buruk bahkan untuk sekedar dibandingkan dengan Shaolin Soccer atau Kung Fu Hustle sekalipun yang sebenarnya sudah masuk kategori ‘cukup’ itu.
You may also like...
The Divergent Series: Allegiant (2016)

The Hunger Games, The Divergent, Maze Runner dan kawan-kawannya, ya, ada begitu banyak adaptasi sci-fi young adult berseliweran di layar lebar akhir-akhir ini dengan kandungan tema dan cerita yang beda-beda tipis satu sama lain, cerita tentang sosok muda terpilih penyelamat umat manusia dari kehancuran dengan set dunia distopia dan segala variasinya dari pemerintahan otoriter, pembagian kelompok manusia sampai penggunaan labirin raksasa untuk mencari manusia-manusia terpilih, tetapi sekali lagi, mereka semua sama saja. Untuk kasus The Divergent mungkin ia adalah yang paling lemah dari tiga franchise besar YA di atas, ia tidak punya maze raksasa yang mengerikan, ia tidak punya Jennifer Lawrence yang memesona, ya, tidak ada sesuatu yang spesial sebenarnya di cerita The Divergent yang sampai-sampai memaksa otak tua saya bekerja lebih keras untuk mengingat apa yang terjadi di seri sebelumnya: Insurgent.
Dalam Allegiant, Tris (Shailene
Woodley), kekasihnya Four (Theo James) dan kawan-kawannya untuk pertama
kalinya berhasil melewati tembok besar yang mengurung Chicago. Di luar
sana ia menemukan kehancuran luar biasa akibat perang masa lalu dan juga
kejutan besar berupa komunitas berteknologi canggih yang mengawasi
setiap pergerakannya. Dari sini Tris harus dihadapi dengan pilihan sulit
untuk berpihak kepada siapa? Apakah kelompok pemberontak di dalam
tembok pimpinan Evelyn Johnson-Eaton (Naomi Watts) atau faksi luar
tembok yang punya agenda tersembunyi tersendiri.
“Saya enjoy kok nontonnya” Kata penonton yang mengaku tidak mengikuti novelnya, khususnya novel ketiga The Divergent ini. Buat saya susah untuk menikmati Allegiant, sekedar informasi saya juga bukan pembaca novel Veronica Roth ini. Allegiant bisa dibilang adalah seri terburuk dari saga YA yang sebenarnya juga tidak pernah bagus-bagus amat dari kemunculan pertamanya 2014 silam. Ya, harus diakui secara skala, Allegiant
jauh lebih besar dari dua pendahulunya, dengan set dunia lebih besar
dan lebih banyak manusia yang terlibat. Tetapi lebih besar bukan berarti
lebih baik. Allegiant menderita banyak di narasinya yang
kacau balau, berantakan atau apalah istilah lain yang bisa kamu berikan.
Komentar dari penonton yang sudah membaca novelnya mengatakan bahwa
narasi Allegiant versi live action itu ‘lancang’, ia
seperti mencoba berjalan sendiri dengan banyak melakukan modifikasi
cerita sana-sini yang sayangnya tidak digarap matang, efeknya malah
membuat narasi dua seri pertamanya seperti menjadi bagian yang tidak nyambung.
Belum lagi saya menyebut beberapa kebodohan sana-sini seperti salah
satu yang paling kelihatan adalah beberapa keputusan Tris yang konyol
ketika selalu melibatkan karakter Peter Hayes-nya Miles Teller yang
sudah terbukti bolak-balik menusuk dari belakang atau menaruh
kepercayaan berlebih kepada David yang jelas-jelas adalah bad guy, saya masih belum menyebut drama cinta antara Tris dan Four (Theo James ) yang….ah, sudahlah……
Tentu saja dengan skala lebih besar ada rentetan aksi yang lebih besar pula di Allegiant bersama segala kosmetik CGI-nya, masalahnya seberapa besar usaha sutradara Robert Schwentke untuk
memaksimalkan tensinya, sektor ini juga berakhir sama payahnya dengan
kualitas cerita dan karakternya, sama-sama tidak menarik dan
kacau, meski harus diakui kali ini ada lebih banyak teknologi canggih
baru yang belum pernah ada di seri-seri sebelumnya tetapi lagi-lagi
semua terlihat palsu dan plastik, coba saja lihat gelembung kuning itu,
meh!
You may also like...
Last Shift (2015)
Dalam dunia horor tidak ada itu istilah
tempat paling aman, bahkan bangunan tangguh seperti kantor polisi pun
bisa didapuk sebagai salah satu tempat paling angker, seperti misalnya
yang terjadi dalam horor indie; Last Shift garapan sutradara Dread, Anthony DiBlasi ini.
Malam itu, polwan Jessica Loren (Juliana
Harkavy) yang gugup baru saja memulai debutnya sebagai seorang polisi
demi melanjutkan perjuangan sang ayah yang tewas dalam tugas. Tugasnya
sebenarnya terbilang mudah, sangat mudah malah. Ia hanya diperintahkan
untuk menunggu sebuah kantor polisi yang telah nyaris kosong dan
pemidahan barang terakhir ke gedung baru dilakukan malam itu di saat ia
berjaga. Masalahnya Jessica yang malang tidak pernah mengetahui apa yang
bakal dihadapinya nanti. Sesuatu yang jahat, sangat jahat sudah
menantinya di sana.
Last Shift sebenarnya punya konsep horor haunted house usang,
menjadi menarik ketika DiBlasi mencoba melakukan penyegaran dengan
sedikit memodifikasinya di sana-sini seperti yang jelas terlihat ketika
ia memindahkan TKP-nya yang biasanya didominasi rumah-rumah atau tempat
tinggal ke kantor polisi. Ya, sedikit perubahan set namun hasilnya bisa
sangat efektif karena bagaimana kemudian DiBlasi juga berhasil
memadukannya dengan kombinasi serangan psikologis, ancaman supranatural
dan teror klaustrofobik yang hadir dari setiap ruang sempit di kantor
polisi tersebut.
Tidak banyak mengumbar basa-basi, Last Shift langsung
bergerak cepat menuju ke pokok permasalahannya, memperlihatkan
bagaimana polwan kita bertugas di malam pertamanya, bagaimana panggilan
telepon misterius dari seorang gadis yang ketakutan itu seharusnya
sudah secara otomatis teralihkan ke kantor baru kemudian memecah
heningnya malam. Dari sini teror pun dimulai. Jessica tentu saja tidak
pernah menyangka apa yang akan ia hadapi di sana. Awalnya segala
kegaduhan yang terjadi dikarenakan ada gelandangan aneh yang menyusup,
namun perlahan tensi keganjilan mulai meningkat.
DiBlasi sukses menghadirkan sebuah pengalaman berbeda menonton horor rumah hantu. Secara keseluruhan Last Shift
punya kadar kengerian dan ketegangan yang digarap dengan sangat baik.
Aroma sesak bercampur misteri pekat kemudian menyelimuti 90 menit
durasinya bersama pergerakan kamera yang pintar dan scoring
eerie yang menyayat. Aktivitas paranormal jahat perlahan namun
pasti menunjukkan jati dirinya tanpa malu-malu meski pada beberapa
bagian terkesan repetitif dan babak ketiga yang terasa terlalu diobral,
namun hebatnya, ia tidak pernah kehilangan momentumnya dan beberapa
kejutan mengerikan akan membuatmu merinding disko. Entah kebetulan atau
tidak, beberapa adegan seramnya terlihat seperti terinspirasi dari J-horror legendaris macam The Ring dan Ju-On yang dimodikasi sedemikian rupa.
Tentu saja sebagai sebuah horor ruang sempit tidak hanya dibutuhkan penyutradaraan dan naskah kuat namun juga casting yang prima, dan aktris yang pernah hadir di dua episode The Walking Dead,
Juliana Harkavy tidak hanya punya modal paras cantik yang enak untuk
dilihat namun juga bagaimana kemampuannya mengisi karakter Jessica Loren
dengan baik menjadikan nilai lebih buat Last Shift. DiBlasi dan cowriter-nya,
Scott Poiley tidak semata-mata hanya menjadikan karakter Jessica Loren
sebagai objek ‘bully’ kosong dari para penunggu gedung, namun mengaitkan
narasinya langsung ke tokoh utamanya mampu memberikan sebuah motif kuat
dari mengapa ia memilih menjadi polisi menggantikan mendiang sang ayah
yang juga menjadi alasan mengapa ia ‘betah’ berlama-lama di sana.
You may also like...
Gods of Egypt (2016)

Gods of Egypt sebenarnya sudah
dengan sangat gamblang dalam setiap trailernya menunjukkan bahwa dirinya
bukanlah jenis film yang pantas kamu anggap serius, apalagi bahan untuk
mendalami mitologi Mesir kuno. Tidak ada ceritanya dalam lembaran buku
sejarah mana pun dewa-dewa Mesir hidup berdampingan dengan manusia,
memiliki darah emas dengan fisik lebih besar dan mampu bertransformasi
menjadi binatang besi layaknya robot-robot Transformers. Ya, secara
kualitas di atas kertas Gods of Egypt itu buruk, ia punya
naskah buruk, akting buruk, eksekusi buruk dan spesial efek buruk.
Tetapi terkadang jika kamu sudah menurunkan harapanmu sampai titik yang
terendah jauh-jauh hari, Gods of Egypt bisa menyenangkan untuk ditonton untuk sekedar melepas penat, ya, paling tidak, ia lebih enjoyable ketimbang koleganya sesama film aksi petualangan fantasi mitologi macam Clash of The Titans dan sekuelnya, Wrath of the Titans,
Semua dewa-dewi Mesir yang ditampilkan
di sini memang ada dalam buku-buku sejarah yang pernah kamu baca, dari
Dewa matahari; Ra, Osiris, Horus, Set, Thoth sampai Anubis penguasa alam
baka, tetapi dunia Gods of Egypt garapan Alex Proyas (The Crow, Dark City, I, Robot, Knowing) ini
bisa dibilang sedikit berbeda ketika menggunakan set dunia alternatif
Mesir kuno yang diberi sentuhan modern. Dikisahkan Horus (Nikolaj Coster-Waldau),
si penguasa udara tengah bersiap untuk dilantik menjadi raja Mesir baru
menggantikan ayahnya, Osiris (Bryan Brown) namun siapa sangka di tengah
kemeriahan pesta besar peralihan kekuasaan itu, Set (Gerard Butler)
adik Osiris datang dengan agendanya sendiri; menghadirkan kekacauan luar
biasa guna merebut singgasana sang calon raja baru. Hasilnya, Osiris
terbunuh, sementara Horus kalah dalam sebuah pertarungan, tidak hanya
kehilangan posisinya sebagai raja, ia juga harus merelakan kedua matanya
di ambil paksa Set dan menerima hukuman diasingkan. Dari sini, siapa
sangka nasib Mesir dan para dewa ternyata bergantung pada sosok manusia
bernama Bek (Brenton Thwaits).
Jujur, premis yang ditawarkan Gods of Egypt memang jauh dari mitologinya, namun susah untuk menyangkal bahwa modifikasi elemen Shakespearean klasik dengan
segala perebutan kekuasaan antar anggota keluarga kerajaan para
dewa-dewi yang tersaji dalam ranah fantasi ini menarik. Sayang konsep
hanya sebatas konsep, karena di lapangan duo penulisnya, Matt Sazama dan
Burk Sharpless gagal menghadirkan sebuah kedalaman cerita yang cukup
untuk membuat penontonnya bisa terikat dan peduli dengan nasib para
karakternya. Ya, mengecewakan memang melihat sebuah potensi menarik
terbuang percuma begitu saja dengan segala presentasi yang serba kacau,
bahkan spesial efek vaganza yang menjadi daya tarik utamanya selain dua
aktor utamanya yang terlihat cakep menggunakan pedang dan sandal juga
jauh dari luar biasa. Bayangkan, dengan bujet yang menyentuh 140 juta
Dolar, kualitas CGI Gods of Egypt hanya sedikit lebih baik dari sinetron laga naga Indosiar, bahkan CGI dari video game next gen saja masih jauh lebih keren. Oke, mungkin saja kamu bisa mengesampingkan kualitas cerita mediokernya, toh, kita tahu bahwa Gods of Egypt
diciptakan bukan buat bersaing mendapatkan penghargaan Oscar buat
naskah terbaik 2017 nanti, masalahnya, adegan aksi yang diharapkan
ternyata juga tidak terlalu perkasa. Kamu bisa memasukkan Gods of Egypt
dalam kategori film tanpa otak yang berisik, di satu sisi melihat
segala kehebohan dan kekacauan yang dihasilkan bisa menjadi sebuah
tontonan menghibur berskala besar namun di sisi lain ia tidak jarang
terlihat murahan dan konyol, tak jarang kita menertawakan segala
kebodohan narasi dan karakternya, belum lagi beberapa visual
efeknya yang kasar, seperti proses transformasi yang buruk dan
pertarungan yang jauh dari kata mengesankan, ya, beruntung ia masih
punya cukup stok pemanis yang efektif dari misalnya Courtney Eaton
sebagai Zaha yang cantik atau Chadwick Boseman yang mampu menghadirkan
eksotisnya dewi Thoth, ya, setidaknya buat kaum adam yang menonton.
You may also like...
Minggu, 23 Oktober 2016
The Other Side of the Door (2016)

Mudah saja untuk langsung terpikat dengan premis yang ditawarkan horor Inggris garapan Johannes Roberts (F, Roadkill, Storage 24) ini hanya dengan sekali lirik. The Other Side of the Door
mengisahkan keluarga perantauan asal Amerika yang tinggal di Mumbai,
India yang harus kehilangan putra mereka, Oliver (Logan Creran), dalam
sebuah kecelakaan lalu lintas. Maria (Sarah Wayne Callies) sang ibu
adalah orang yang paling terpukul atas tragedi menyedihkan itu
sampai-sampai membuatnya depresi berat bahkan setelah berbulan-bulan
kemudian.
Melihat kondisi majikannya yang semakin
memprihatinkan itu, Piki (Suchitra Pillai-Malik) sang pembantu tergerak
untuk menolong dengan menyarankan untuk pergi ke sebuah kuil pemujaan
tua yang terletak di luar kota. Konon dengan melakukan ritual menabur
abu jenazah di tempat itu, manusia bisa berkomunikasi dengan yang mati
dari balik pintu tertutup, dalam kasus ini setidaknya Maria bisa
memberikan ucapan selamat tinggal yang layak buat Oliver namun dengan
satu syarat penting, Maria dilarang keras membuka pintu kuil, apapun
yang terjadi. Tetapi tentu saja bisa ditebak, Maria melanggar pantangan
itu dan ia harus menanggung konsekuensi besar akibat kelancangannya.
Meski menawarkan premis menarik tentang
usaha lancang mengusik dunia kematian, dalam hal ini ada cerita
tentang seorang ibu yang tidak pernah bisa merelakan anaknya meninggal,
bahkan konsepnya pun sedikit banyak mengingatkan pada horor klasik
adaptasi novel Stephen King; Pet Sementary hanya saja ada
pergeseran kultur dari Indan yang diwakili dengan tanah pemakaman
keramatnya digantikan dengan kuil pemujaan tua India. Praktis, secara
pergerakan plot sebenarnya tidak ada yang baru di The Other Side of the Door,
kita dengan mudah menebak kemudian karakter Maria akan dengan mudahnya
tergoda melanggar pantangan untuk membuka pintu, toh, bahasa-bahasa
horor memang sering kali mudah ditebak, jika ada yang mengatakan “jangan
dibuka”, “jangan masuk”, “jangan melihat” dan sebagainya , maka
karakternya akan melakukan persis kebalikannya. Terasa bodoh memang,
tetapi itu seperti menjadi kebodohan wajib’ di dunia horor dalam rangka
menggerakkan naskahnya lebih jauh.
Ya, apa yang terjadi kemudian setelah
Maria membuka pintu kuil keremat itu pun gampang
diprediksi. Kekuatan mistis dari alam baka kemudian menguntitnya pulang,
meneror dirinya, termasuk suaminya, Michael (Jeremy Sisto) dan putrinya
Lucy (Sofia Rosinsky). Roberts bersama penulis naskah Ernest Riera
menginjeksinya dengan banyak elemen haunted house klasik, dari
sekedar benda-benda yang bergerak sendiri sampai penampakan mengerikan
dari penunggu kuil dan hantu Oliver. Yang menjadi pertanyaan apakah film
ini menakutkan? Jika kamu bukan veteran horor atau mungkin
hanya berhati lemah, ya, The Other Side of the Door mampu
memberimu sedikit ancaman yang cukup sekedar menggedor jantungmu. Jika
mungkin akhirnya ia menjadi horor yang lembek pun setidaknya melihat
kembali penampilan Sarah Wayne Callies setelah serial Prison Break dan The Walking Dead sedikit banyak memberikan kesenangan tersendiri.
The Other Side of the Door memang
dipenuh stereotip horor rumah hantu, namun yang sedikit membuatnya
berbeda adalah ketika ia memasang budaya Hindu, India sebagai variasi
cerita, termasuk lokasi syuting yang sepenuhnya berada di India. Ada
ritual pembakaran mayat dan segala mitos-mitos tentang kematian dan
segala konsekuensinya, yang menjadi masalah adalah Roberts tidak
memaksimalkan potensinya itu dengan baik. Ia tidak pernah benar-benar
menggali potensi kultur dan tetek bengeknya dengan lebih dalam yang
seharusnya bisa menguatkan potensi The Other Side of the Door
menjadi horor yang lebih segar dan spesial, sehingga yang terjadi
kemudian, elemen-elemen khusus itu hanya sekedar menjadi tempelan
belaka yang dengan mudah digantikan oleh budaya dari mana saja.
sumber
You may also like...
Langganan:
Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)

