Minggu, 23 Oktober 2016
Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)
Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)
It’s happening! Ya, waktu berlalu begitu cepat, tak terasa sudah tiga tahun lamanya sejak Warner Bros mengejutkan jagat per-superhero-an dengan mengumumkan proyek sekuel Man of Steel, kini mimpi basah buat setiap fanboy komik dunia, khususnya DC Comics akhirnya benar-benar kejadian. Batman v Superman: Dawn of Justice sudah datang, membawa segala hype
luar biasa sejak konfrensi pers Zack Snyder di ajang San Diego
Comic-Con Internasional 2013 silam. Snyder mengatakan bahwa seri
lanjutan Man of Steel ini bukan sembarang sekuel, ia akan menjadi
sebuah sekuel nan epik karena untuk pertama kalinya dua raksasa DC
(Superman dan Batman) bertemu dan baku hantam dalam satu universe.
Ya, hype-nya begitu besar diiring dengan harapan yang juga semakin besar. Dari kejutan kemunculan Batman dalam sekuel Superman, casting Ben Affleck sampai Woder Woman-nya Gal Gadot, berita-berita baru tentang BvS selalu menjadi bahan diskusi menarik buat para moviegoers
dunia yang menghitung hari demi hari untuk menunggu kemunculan utuhnya
setelah sebelumnya diberondong trailler-trailler menggiurkan tanpa
pernah benar-benar menyadari bahwa langkah drastis yang diambil Warner
Bros dan Snyder ini adalah sebuah perjudian luar biasa dengan taruhan
yang sama luar biasanya. Efeknya nanti, berhasil atau tidak, tidak
hanya berimbas pada franchise Superman itu sendiri saja namun juga Batman, Justice League dan masa depan adaptasi DC Comics dalam usaha mereka untuk setidaknya bisa mendekati pekerjaan fantastis yang sudah dibuat rivalnya, Marvel dengan MCU-nya yang super solid itu.
Separuh cerita lanjutan Man of Steel dan separuh prolog buat Justice League, BvS memulai segalanya dengan kembali sedikit mengulang origins Batman sebelum kita menyaksikan bagaimana kehancuran Metropolis di klimaks akhir Man of Steel
ternyata berpengaruh besar buat banyak orang, salah satunya adalah
Bruce Wayne (Ben Affleck) yang menyaksikan dengan mata sendiri bagaimana
duel Superman dan Zod memakan begitu banyak korban jiwa. Dari peristiwa
ini Bruce Wayne kemudian melihat bahwa Superman bisa menjadi ancaman
besar buat manusia dan kemudian terobsesi untuk menghentikan sepak
terjang si manusia besi yang dipuja-puja bak Tuhan oleh umat manusia
itu. Masalahnya bukan hanya kehadiran Superman saja yang menjadi
kontroversial, di tempat lain ada ancaman yang sudah menunggu diam-diam,
datang dari sosok milliuner cerdas, Lex Luthor (Jesse Eisenberg).
Kita mengenal Zack Snyder adalah
sutradara yang piawai memanfaatkan CGI dalam mengolah visual artistik
dan adegan-adegan aksi bombastis yang cantik, tetapi sayang ia bukan
pencerita yang baik tidak peduli di belakangnya ada nama-nama besar
macam Chris Terrio (Argo) dan David S. Goyer (trilogi The Dark Knight), jika ada satu filmnya yang paling bagus dalam bercerita mungkin itu adalah Watchman, sisanya ia tidak lebih dari sutradara yang gemar mengeksploitasi layar hijau dan gambar-gambar bagus, termasuk Man of Steel dan BvS
ini. Ya, durasinya yang menyentuh dua jam setengah seharusnya lebih
dari cukup buat Synder untuk menghasilkan sebuah narasi yang bagus.
apalagi ia punya modal premis yang begitu kuat dengan melibatkan dua
superhero paling besar di jagat raya termasuk segala filosofi God vs man-nya, tetapi Snyder tetaplah Snyder, BvS tidak lebih baik dari Man of Steel
dari segi penceritaan. Ini bisa dibilang berantakan, membingungkan dan
tidak bersinergi dengan konsep dan universe-nya. Misalnya saja tentang
Batman yang digambarkan sudah tua, sudah 20 tahun kata Alfred
Pennyworth (Jeremy Irons) namun sepertinya tidak ada yang mengetahui
sepak terjang sang manusia kelelawar itu sama sekali padahal di sini di
gambarkan lokasi Gotham dan Metropolis hanya bersebelahan. Tidak ada
yang tahu bagaimana Lex Luthor bisa tahu segalanya, sampai-sampai mampu
menyusup ke markas Batman hanya untuk mencoret seragam dan
surat-suratnya dan berbagai plot hole lainnya yang lumayan akan menyentil logikamu.
Sisanya, paruh pertama bergerak begitu
lurus dan membosankan dengan karakter-karakter yang berbicara tanpa
dukungan dialog kuat tanpa adanya kedalaman dan interaksi satu sama lain
yang berarti meski potensi untuk membuatnya menjadi lebih kompleks ala The Dark Knight
milik Nolan dengan segala elemen politik, moral dan pencarian jati
diri. Plotnya terasa acak, melompat satu tempat ke tempat lain dengan
kasar, tidak dijahit dengan rapi untuk bisa membentuk sebuah kesatuan
cerita yang solid dan yang satu hal yang pasti, aromanya kelewat serius
dan kelam, ini akan mengecewakan penonton muda yang berharap akan banyak
gelaran seru sejak awal, jadi jangan bandingkan BvS dengan
superhero buatan Marvel yang mampu tampil serius dan santai sama
hebatnya, DC dan Warner Bros masih harus banyak belajar lagi soal ini
untuk bisa memenangkan pertempuran yang berat sebelah ini.
Jika ada kekuatan yang menonjol di sini
mungkin itu berkat casting yang kuat. Awalnya banyak yang memandang
sebelah mata pemilihan Ben Affleck sebagai Batman, tetapi apa yang
terjadi di lapangan berkata lain. Ya, Batman versi Affleck tentu saja
berbeda, ia punya pesona berbeda dengan Batman versi sebelumnya, ia
lebih brutal, lebih kuat secara fisik meski digambarkan usianya sudah
tidak muda lagi, seperti kata Alfred, “Even You’ve too old to die young”, bahkan kalau mau jujur, BvS
terasa lebih berenergi di setiap kemunculan si kelelawar ini namun
bukan berarti kita bisa menyampingkan Henry Cavill dengan Superman-nya.
Faktanya ini masih film Superman dan ia masih menjadi hati terbesar buat
ceritanya. Di atas kertas seharusnya Snyder bisa mengeksplorasi lebih
jauh lagi soal kegalauan sang jagoan, bagaimana ia harus menghadapi
situasi sulit yang membuatnya harus mengambil keputusan berat termasuk
cintanya dengan Louis Lane (Amy Adams), sayang itu tidak terjadi
setidaknya tidak dilakukan dengan baik. Jika Affleck harus mendapat
cibiran ketika pemilihannya sebagai Batman pertama kali, nasib berbeda
yang dialami Gal Gadot yang langsung dipuja-puja meski ada yang
mengatakan dirinya masih kurang montok untuk memerankan karakter Diana
Prince, toh, pemeran Gisele Yashar dalam franchise Fast & Furious ini berhasil menjadi screen stealer di sini. Satu hal yang mengganggu di sini mungkin Lex Luthor-nya Jesse Eisenberg yang annoying. Bukan berarti Eisenberg tidak cocok memerankan sosok villiant masalahnya ia terlalu banyak bicara dan ia bukan Joker dan segala kecerewetannya itu sangat mengesalkan.
Dan seperti yang dilakukannya dalam Man of Steel, Snyder menaruh segala kesenangannya di akhir film, ya, percayalah 30-45 menit akhir itu adalah bagian terbaik BvS,
terutama ketika Woder Woman datang dengan begitu dramatis dan
mengesankan dalam iring-iringan scoring mengelegar Hans Zimmer dan
Junkie Xl, sedikit disayangkan sudah tidak lagi mengejutkan
karena telah diobral di trailer sebelumnya. Adegan pertempuran
klimaksnya luar biasa dahsyat, membuat air liurmu menetes karena takjub,
kemunculan Doomsday benar-benar menghasilkan kerusakan luar biasa bagi
para pahlawan super kita yang harus bahu membahu mengalahkannya. Snyder
tahu benar bagaimana mengolah setiap adegannya dengan bombastis,
menghasilkan sebuah keseruan luar biasa yang sedikit banyak sudah
mengobati kekecewaan di paruh pertamanya, bagi pembaca komiknya tentu
saja sudah bisa sedikit menebak apa yang terjadi di akhir ketika Snyder
memilih memunculkan sosok Doomsday, tetapi saya cukup puas dengan
ending-nya yang emosional dan di saat bersamaan, sudah memberi dasar
kuat buat kehadiran Justice League nanti.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar