Minggu, 23 Oktober 2016
The Finest Hours (2016)
The Finest Hours (2016)
The Finest Hours sesungguhnya punya cukup bekal untuk menjadi tontonan menarik, apalagi ketika melebeli dirinya sebagai sebuah disaster movie yang
diangkat dari peristiwa nyata. Ya, kisah heroik para penjaga pantai
Amerika pemberani dalam usaha mereka menyelamatkan lebih dari 30 awak
kapal tanker minyak SS Pendleton yang terbelah dua karena di hantam
badai nor’easter di lepas pantai New England 64 tahun silam dengan hanya bermodal kapal motor boat penyelamat kecil; CG 36500 mestinya bisa menjadi sajian besar yang menggugah emosi, sayang ia tidak mampu bercerita dengan baik.
Sutradara Craig Gillespie (Lars and the Real Girl, Million Dollar Arm)
bisa saja membuang segala elemen-elemen romansa melodramatis yang
terlalu banyak dan tidak perlu itu, tetapi nyatanya ia sama seperti
karakter Bernard Webber yang memilih untuk melakukan segalanya sesuai dengan buku pedoman, dalam kasus ini buku pedoman Gillespie adalah novel biografi The Finest Hours: The True Story of the U.S. Coast Guard’s Most Daring Sea Rescue buah pena Michael J. Tougias dan Casey Sherman. Hasilnya, 117 menit The Finest Hours terasa begitu sangat panjang dan melelahkan.
Jangan salah, dari segi teknis, The Finest Hours
sama sekali tidak buruk. Gillespie cukup piawai mengolah beberapa
momennya dengan baik besama bantuan CGI yang bagus dan sinematografi
cantik Javier Aguirresarobe. Lihat saja misalnya ketika adegan Bernard
Webber dan timnya nekat mempertaruhkan nyawa berusaha menembus gosong pasir dahysat dengan CG 36500 terasa
begitu mendebarkan. Kamera Aguirresarobe bergerak dinamis menangkap
momen-momennya dramatisnya, baik dari atas maupun bawah laut yang mampu
menghadirkan sisi mencekam tersendiri. Sementara di tempat lain
Gillespie memperlihatkan wajah-wajah putus asa dari kru SS Pendleton
yang terombang-ambing tak menentu di kapal minyak yang buntung separuh.
Dan guna memperkuat melodramanya lebih jauh lagi, ditambahlah sosok
Holliday Grainger sebagai Miriam calon istri Webber yang menunggu cemas.
Cinta, keberanian serta keajaiban dari
sebuah peristiwa nyata bersejarah, begitu banyak benih-benih
melodramatis berpotensi meletupkan emosi, tetapi nyatanya, The Finest Hours
nyaris bergerak terlalu datar dan menjemukan, terlebih di bagian akhir
yang berasa antiklimaks. Tidak peduli setinggi dan sedahsyat apa
gelombang yang menghajar, meski terasa intens di beberapa bagian, namun
karena ketidak becusan Gillespie mengolah emosi dari para cast-nya
membuat kita tidak pernah bisa peduli dengan karakternya, tidak ada
simpati yang hadir meski mereka bertaruh nyawa dan untuk film macam ini.
Ya, faktanya The Finest Hours memang diisi oleh nama-nama
besar macam Chris Pine, Ben Foster, Casey Affleck sampai Erick Bana,
tetapi tidak ada satu pun yang mampu bersinar.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar