Film Indonesia A Copy of My Mind (2016)

 2015 - A Copy of My Mind (still 1)

Butuh kesabaran ekstra untuk benar-benar bisa menikmati film terbaru Joko Anwar ini, kenapa? Pertama, faktanya butuh hampir satu tahun setengah baru bisa dirilis untuk umum setelah sebelumnya sempat mondar-mandir terlebih dahulu di ajang festival film Internasional macam Festival Film Venice 2015 dan Toronto International Film Festival 2015 dan Festival Film Busan, bahkan Piala Citra sendiri sudah mengganjarnya dengan tiga piala sekaligus (Sutradara Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Penata Suara Terbaik) sebelum filmnya sendiri benar-benar keluar di bioskop 12 Februari ini. Kedua, jika mencari misteri, darah, horor atau thriller maka A Copy of My Mind bukan film yang kamu cari, karena percayalah ini adalah film Joko Anwar yang benar-benar berbeda, bahkan dari Janji Joni yang paling ‘normal’ sekalipun, dan sekali lagi, menontonnya dibutuhkan kesabaran lebih untuk mendapatkan hasil maksimal.

Ada kecintaan akan film, DVD bajakan, cinta, seks, kehidupan perkotaan kumuh sampai gejolak politik yang kotor negeri tercinta kita, A Copy of My Mind seperti judulnya seakan-akan menjadi salinan dari pemikiran-pemikiran seorang Joko Anwar yang selama ini sering kita lihat dalam beberapa curhatnya di media sosial, khususnya Twitter. Jadi jika ada yang kemudian mengatakan jika A Copy Of My Mind adalah film Joko Anwar yang paling nggak Joko Anwar itu malah keliru, justru ini adalah film yang Joko Anwar banget, setidaknya itu yang saya rasakan. Berbeda dengan film-film lainnya yang kebanyakan hanya mewakili satu sisi saja akan kecintaannya kepada horor, thriller dan film, A Copy Of My Mind bisa dibilang lebih menyeluruh dan lebih komplit.

Dua karakter utamanya adalah Sari (Tara Basro) dan Alex (Chicco Jerikho), dua manusia yang dihadirkan dengan sangat manusiawi sekali. Sari adalah pegawai dari sebuah salon kecantikan kasta bawah yang hampir setiap hari sepulang kerja menghabiskan waktunya untuk menonton film sambil menyantap mie instan dari kepingan cakram  dibelinya di kios-kios DVD bajakan. Cita-cita Sari juga tidak aneh-aneh, seperti kebanyakan movigoers lainnya, ia hanya ingin punya sebuah home theater bagus untuk mendapatkan pengalaman menonton film-film monster kesukaannya dengan maksimal, atau mungkin home theater terasa sangat mahal untuk ukuran pekerja salon murah, paling tidak ia cukup puas jika DVD yang dibelinya sudah “ori” dengan teks yang tidak ngaco lah. Nah, gara-gara kualitas subtitle yang busuk ini sang takdir lalu mempertemukannya dengan Alex, pria ganteng yang menghabiskan hari-harinya bekerja sebagai pembuat subtitle untuk kemudian ‘ditempelkan’ ke setiap DVD bajakan yang baru masuk.

Jujur saja, ini sebenarnya sebuah romansa yang sederhana, sangat sederhana. Intinya ada dua anak manusia yang dipertemukan nasib dan jatuh cinta, that’s it. Tetapi bukan Joko Anwar donk namanya jika tidak membuatnya sedikit lebih rumit, rumit dalam artian bukan menjadikannya sajian ribet ala Pintu Terlarang atau Modus Anomali lengkap dengan misteri dan teka-tekinya. Rumit di sini lebih berarti ke sebuah variasi yang membedakannya dengan drama-drama sejenis yang pastinya dipenuhi dengan pemikiran dan cara pandang Joko Anwar tentang cinta dan kehidupan. Dengan pendekatan realis, Joko Anwar mencoba sesuatu yang belum pernah ia lakukan sebelumnya. A Copy of My Mind tidak seperti drama-drama Indonesia konvensional lainnya yang mengandalkan sisi melodramatis dan sentimentil berlebih, sebaliknya Joko Anwar membentuk narasinya melalui cara yang lebih membumi, natural, bahkan ia sama sekali tidak menggunakan musik latar untuk memanipulasi emosi penontonnya.

Ya, apa yang terjadi di A Copy of My Mind adalah murni sebuah observasi langsung kepada para karakternya. Seperti tidak ada jarak yang memisahkan antara setiap tokoh dengan penontonnya. Satu hal yang menonjol adalah teknisnya. Kamera dari Ical Tanjung seperti begitu setia, tidak hanya ‘menguntit’ Sara dan Alex dari belakang, namun bagaimana juga ia menangkap sisi lain kota metropolitan yang kumuh, sesak, bising dan suram dalam balutan visual yang ‘kasar’ dan ‘mentah’, termasuk di dalamnya departemen penata suara yang jempolan. Kita bisa mendengar jelas setiap hiruk-pikuk yang terjadi di sekitar karakternya, dari suara pemutar dvd macet sampai hiruk pikuk perkotaan dan adzan Masijd di kejauhan. Dampak yang dihasilkan tentu berdampak besar. Ada sebuah kejujuran yang terpancar dalam setiap pergerakan narasi dan karakternya, tidak ada kebohongan, tidak ada rayuan gombal, setiap dialog yang keluar terasa begitu lepas dan apa adanya, ungkapan cinta tertuang dalam tindakan nyata dan langsung tanpa sebuah proses yang bertele-tele.

Nah, semua ini kemudian diperkuat lagi dengan kekuatan dua cast utamanya. Tara Basro memikat dengan segala pesona pribuminya yang eksotis, kamera seperti tidak pernah lepas menempelnya ke mana-mana, menjadikan dirinya bagian tak terpisahkan dari narasi dan juga penontonnya. Chemistry yang dibentuknya bersama Chico Jericho juga menjadi alasan kenapa A Copy of My Mind bisa begitu berkesan, lihat saja bagaimana interaksi keduanya bisa begitu kuat. Mengganti percakapan cinta usang dengan obrolan tentang bagaimana tips memilih DVD bajakan yang baik dan benar rupanya bisa terasa jauh lebih romantis.

Pada akhirnya ketika ceritanya kemudian berbelok menciptakan sebuah konflik besar dengan balutan thriller politik, toh, Joko Anwar tetap memilih untuk tetap konsisten pada pendekatan sama yang sudah dibentuknya sejak awal. Memang tensinya menjadi sedikit naik namun sekali lagi tidak sampai menjadi kelewat batas,  namun hebatnya, efeknya masih mampu menyentil emosi dengan kuat. Penonton menjadi galau memikirkan bagaimana nasib setiap karakternya setelah konflik terjadi, bahkan setelah kredit akhir datang, perasaan tak enak itu seperti terus menghantuimu.