Minggu, 23 Oktober 2016
Film Indonesia A Copy of My Mind (2016)
Film Indonesia A Copy of My Mind (2016)

Butuh kesabaran ekstra untuk benar-benar
bisa menikmati film terbaru Joko Anwar ini, kenapa? Pertama,
faktanya butuh hampir satu tahun setengah baru bisa dirilis untuk umum
setelah sebelumnya sempat mondar-mandir terlebih dahulu di ajang
festival film Internasional macam Festival Film Venice 2015 dan Toronto
International Film Festival 2015 dan Festival Film Busan, bahkan Piala
Citra sendiri sudah mengganjarnya dengan tiga piala sekaligus (Sutradara
Terbaik, Pemeran Utama Wanita Terbaik dan Penata Suara Terbaik) sebelum
filmnya sendiri benar-benar keluar di bioskop 12 Februari ini. Kedua,
jika mencari misteri, darah, horor atau thriller maka A Copy of My Mind bukan film yang kamu cari, karena percayalah ini adalah film Joko Anwar yang benar-benar berbeda, bahkan dari Janji Joni yang paling ‘normal’ sekalipun, dan sekali lagi, menontonnya dibutuhkan kesabaran lebih untuk mendapatkan hasil maksimal.
Ada kecintaan akan film, DVD bajakan,
cinta, seks, kehidupan perkotaan kumuh sampai gejolak politik yang kotor
negeri tercinta kita, A Copy of My Mind seperti judulnya
seakan-akan menjadi salinan dari pemikiran-pemikiran seorang Joko Anwar
yang selama ini sering kita lihat dalam beberapa curhatnya di media
sosial, khususnya Twitter. Jadi jika ada yang kemudian mengatakan jika A Copy Of My Mind adalah film Joko Anwar yang paling nggak
Joko Anwar itu malah keliru, justru ini adalah film yang Joko Anwar
banget, setidaknya itu yang saya rasakan. Berbeda dengan film-film
lainnya yang kebanyakan hanya mewakili satu sisi saja akan kecintaannya
kepada horor, thriller dan film, A Copy Of My Mind bisa dibilang lebih menyeluruh dan lebih komplit.
Dua karakter utamanya adalah Sari (Tara
Basro) dan Alex (Chicco Jerikho), dua manusia yang dihadirkan dengan
sangat manusiawi sekali. Sari adalah pegawai dari sebuah salon
kecantikan kasta bawah yang hampir setiap hari sepulang
kerja menghabiskan waktunya untuk menonton film sambil menyantap mie
instan dari kepingan cakram dibelinya di kios-kios DVD bajakan.
Cita-cita Sari juga tidak aneh-aneh, seperti kebanyakan movigoers
lainnya, ia hanya ingin punya sebuah home theater bagus untuk mendapatkan pengalaman menonton film-film monster kesukaannya dengan maksimal, atau mungkin home theater
terasa sangat mahal untuk ukuran pekerja salon murah, paling tidak ia
cukup puas jika DVD yang dibelinya sudah “ori” dengan teks yang tidak ngaco lah. Nah, gara-gara kualitas subtitle
yang busuk ini sang takdir lalu mempertemukannya dengan Alex, pria
ganteng yang menghabiskan hari-harinya bekerja sebagai pembuat subtitle untuk kemudian ‘ditempelkan’ ke setiap DVD bajakan yang baru masuk.
Jujur saja, ini sebenarnya sebuah
romansa yang sederhana, sangat sederhana. Intinya ada dua anak manusia
yang dipertemukan nasib dan jatuh cinta, that’s it. Tetapi bukan Joko Anwar donk namanya jika tidak membuatnya sedikit lebih rumit, rumit dalam artian bukan menjadikannya sajian ribet ala Pintu Terlarang atau Modus Anomali lengkap
dengan misteri dan teka-tekinya. Rumit di sini lebih berarti ke sebuah
variasi yang membedakannya dengan drama-drama sejenis yang pastinya
dipenuhi dengan pemikiran dan cara pandang Joko Anwar tentang cinta dan
kehidupan. Dengan pendekatan realis, Joko Anwar mencoba sesuatu yang
belum pernah ia lakukan sebelumnya. A Copy of My Mind tidak
seperti drama-drama Indonesia konvensional lainnya yang mengandalkan
sisi melodramatis dan sentimentil berlebih, sebaliknya Joko Anwar
membentuk narasinya melalui cara yang lebih membumi, natural, bahkan ia
sama sekali tidak menggunakan musik latar untuk memanipulasi emosi
penontonnya.
Ya, apa yang terjadi di A Copy of My Mind
adalah murni sebuah observasi langsung kepada para karakternya. Seperti
tidak ada jarak yang memisahkan antara setiap tokoh dengan penontonnya.
Satu hal yang menonjol adalah teknisnya. Kamera dari Ical Tanjung
seperti begitu setia, tidak hanya ‘menguntit’ Sara dan Alex dari
belakang, namun bagaimana juga ia menangkap sisi lain kota metropolitan
yang kumuh, sesak, bising dan suram dalam balutan visual yang ‘kasar’
dan ‘mentah’, termasuk di dalamnya departemen penata suara yang
jempolan. Kita bisa mendengar jelas setiap hiruk-pikuk yang terjadi di
sekitar karakternya, dari suara pemutar dvd macet sampai hiruk pikuk
perkotaan dan adzan Masijd di kejauhan. Dampak yang dihasilkan tentu
berdampak besar. Ada sebuah kejujuran yang terpancar dalam setiap
pergerakan narasi dan karakternya, tidak ada kebohongan, tidak ada
rayuan gombal, setiap dialog yang keluar terasa begitu lepas dan apa
adanya, ungkapan cinta tertuang dalam tindakan nyata dan langsung tanpa
sebuah proses yang bertele-tele.
Nah, semua ini kemudian diperkuat lagi
dengan kekuatan dua cast utamanya. Tara Basro memikat dengan segala
pesona pribuminya yang eksotis, kamera seperti tidak pernah lepas
menempelnya ke mana-mana, menjadikan dirinya bagian tak
terpisahkan dari narasi dan juga penontonnya. Chemistry yang dibentuknya
bersama Chico Jericho juga menjadi alasan kenapa A Copy of My Mind
bisa begitu berkesan, lihat saja bagaimana interaksi keduanya bisa
begitu kuat. Mengganti percakapan cinta usang dengan obrolan tentang
bagaimana tips memilih DVD bajakan yang baik dan benar rupanya bisa
terasa jauh lebih romantis.
Pada akhirnya ketika ceritanya kemudian
berbelok menciptakan sebuah konflik besar dengan balutan thriller
politik, toh, Joko Anwar tetap memilih untuk tetap konsisten pada
pendekatan sama yang sudah dibentuknya sejak awal. Memang tensinya
menjadi sedikit naik namun sekali lagi tidak sampai menjadi kelewat
batas, namun hebatnya, efeknya masih mampu menyentil emosi dengan kuat.
Penonton menjadi galau memikirkan bagaimana nasib setiap karakternya
setelah konflik terjadi, bahkan setelah kredit akhir datang, perasaan
tak enak itu seperti terus menghantuimu.
You may also like...
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Recent Posts
Labels
10 peringkat teratas
(1)
7 Kejadian Langka dan Spektakuler di Seluruh Dunia
(42)
Biografi
(6)
Download Game
(3)
edit blog
(1)
komputer
(3)
Review
(23)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar