The Other Side of the Door (2016)

The-Other-Side-of-the-Door





Mudah saja untuk langsung terpikat dengan premis yang ditawarkan horor Inggris garapan Johannes Roberts (F, Roadkill, Storage 24) ini hanya dengan sekali lirik. The Other Side of the Door mengisahkan keluarga perantauan asal Amerika yang tinggal di Mumbai, India yang harus kehilangan putra mereka, Oliver (Logan Creran),  dalam sebuah kecelakaan lalu lintas.  Maria (Sarah Wayne Callies)  sang ibu adalah orang yang paling terpukul atas tragedi menyedihkan itu sampai-sampai membuatnya depresi berat bahkan setelah berbulan-bulan kemudian.

Melihat kondisi majikannya yang semakin memprihatinkan itu, Piki (Suchitra Pillai-Malik) sang pembantu tergerak untuk menolong dengan menyarankan untuk pergi ke  sebuah kuil pemujaan tua yang terletak di luar kota. Konon dengan melakukan ritual menabur abu jenazah di tempat itu, manusia bisa berkomunikasi dengan yang mati dari balik pintu tertutup, dalam kasus ini setidaknya Maria bisa memberikan ucapan selamat tinggal yang layak buat Oliver namun dengan satu syarat penting, Maria dilarang keras membuka pintu kuil, apapun yang terjadi. Tetapi tentu saja bisa ditebak, Maria melanggar pantangan itu dan ia harus menanggung konsekuensi besar akibat kelancangannya.

Meski menawarkan premis menarik tentang usaha lancang mengusik dunia kematian, dalam hal ini ada cerita tentang seorang ibu yang tidak pernah bisa merelakan anaknya meninggal, bahkan konsepnya pun sedikit banyak mengingatkan pada horor klasik adaptasi novel  Stephen King; Pet Sementary hanya saja ada pergeseran kultur dari Indan yang diwakili dengan tanah pemakaman keramatnya digantikan dengan kuil pemujaan tua India. Praktis, secara pergerakan plot sebenarnya tidak ada yang baru di The Other Side of the Door, kita dengan mudah menebak kemudian karakter Maria akan dengan mudahnya tergoda melanggar pantangan untuk membuka pintu, toh, bahasa-bahasa horor memang sering kali mudah ditebak, jika ada yang mengatakan “jangan dibuka”, “jangan masuk”, “jangan melihat” dan sebagainya , maka karakternya akan melakukan persis kebalikannya. Terasa bodoh memang, tetapi itu seperti menjadi kebodohan wajib’ di dunia horor dalam rangka  menggerakkan naskahnya lebih jauh.

Ya, apa yang terjadi kemudian setelah Maria membuka pintu kuil keremat itu pun gampang diprediksi. Kekuatan mistis dari alam baka kemudian menguntitnya pulang, meneror dirinya, termasuk suaminya, Michael (Jeremy Sisto) dan putrinya Lucy (Sofia Rosinsky). Roberts bersama penulis naskah Ernest Riera menginjeksinya dengan banyak elemen haunted house klasik, dari sekedar benda-benda yang bergerak sendiri sampai penampakan mengerikan dari penunggu kuil dan hantu Oliver. Yang menjadi pertanyaan apakah film ini menakutkan? Jika kamu bukan veteran horor atau mungkin hanya berhati lemah, ya, The Other Side of the Door mampu memberimu sedikit ancaman yang cukup  sekedar menggedor jantungmu. Jika mungkin akhirnya ia menjadi horor yang lembek pun setidaknya melihat kembali penampilan  Sarah Wayne Callies setelah serial Prison Break dan The Walking Dead sedikit banyak memberikan kesenangan tersendiri.

The Other Side of the Door memang dipenuh stereotip horor rumah hantu, namun yang sedikit membuatnya berbeda adalah ketika ia memasang budaya Hindu, India sebagai variasi cerita, termasuk lokasi syuting yang sepenuhnya berada di India. Ada ritual pembakaran mayat dan segala mitos-mitos tentang kematian dan segala konsekuensinya, yang menjadi masalah adalah Roberts tidak memaksimalkan potensinya itu dengan baik. Ia tidak pernah benar-benar menggali potensi kultur dan tetek bengeknya dengan lebih  dalam yang seharusnya bisa menguatkan potensi The Other Side of the Door menjadi horor yang lebih segar dan spesial, sehingga yang terjadi kemudian,  elemen-elemen khusus itu hanya sekedar menjadi  tempelan belaka yang dengan mudah digantikan oleh budaya dari mana saja.



sumber