Sabtu, 26 November 2016

Assassin’s Creed 3 PC Game Free Download

Assassin Creed 3 diatur dalam dunia yang terbuka dan disajikan dari sudut pandang third-person dengan fokus utama pada penggunaan Desmond, Connor combat, kemampuan untuk mengalahkan target dan menjelajahi lingkungan.
Menceritakan sejarah fiksi peristiwa dunia nyata dan mengikuti perjuangan berabad-abad antara Assassins yang memperjuangkan perdamaian untuk kebebasan, dan Templar yang menginginkan perdamaian untuk menguasai.
Game aksi petualangan Assassin Creed III ini dikembangkan oleh Ubisoft Montreal dan diterbitkan oleh Ubisoft untuk PlayStation 3, Xbox 360, Wii U dan Microsoft Windows.
Assassin's Creed 3
Minimum system requirements:
  • Processor: Intel Core 2 Duo E6700 2.66GHz / AMD Athlon 64 X2 Dual Core 6000+
  • RAM: 2 GB
  • VGA: 512 VRAM – GeForce 8600 GT 512MB GDDR3 / Radeon HD 3870
  • DirectX: DX 10
  • OS: Windows Vista SP2 / 7 SP1 / 8 (32 dan 64bit)
  • HDD: 17 GB atau lebih
Cara main:
  1. Jalankan setup.exe
  2. Instal sampai komplit.
  3. Buka AC3SP.exe pada direktori game.
Download
  • Assassin’s Creed 3 Game:  [6 Part]
  • Size: 5.3 GB Full Version
  • Password: www.hienzo.com

sumber 

Sabtu, 29 Oktober 2016

Download GTA V Full Version for Free

Download GTA V Full Version for Free – Dengan grafis yang lebih apik dibandingkan GTA 4, seri kelima ini masih mengusung genre aksi dan petualangan. Meski terdapat misi yang harus diselesaikan, pemain dapat dengan bebas menjelajahi peta permainan. Latar belakang permainan menggunakan peta San Andreas. Selain fitur sudut pandang orang pertama, pemain juga dapat bermain dengan sudut pandang orang ketiga.
Free Download GTA V PC Game
Untuk menyelesaikan misi, tokoh utama yang dikendalikan oleh pemain terkadang harus menjelajahi tempat yang jauh. Oleh karena itu, tokoh tersebut dapat menggunakan kendaraan yang tersedia dengan cara mengambilnya. Akan tetapi, sebaiknya pemain berhati-hati karena akan ada konsekuensi apabila melakukan tindakan kejahatan.
Petualangan GTA V Free Download bermula ketika terjadi perampokan besar-besaran 9 tahun lalu. Perampok bernama Michael Townley tersebut kini sudah dibebaskan dan berada di bawah perlindungan saksi. Kemudian dirinya bertemu dan bersahabat baik dengan Franklin Clinton ketika berurusan dengan penjual mobil. Dari sinilah persahabatan mereka mengarah ke petualangan yang lebih menegangkan.
Meskipun Michael sudah berusaha menyembunyikan identitasnya, akan tetapi terungkap pula bahwa dirinya adalah mantan perampok yang handal. Lantas ia kembali ke dunia kriminal dan melakukan perampokan bersama Franklin untuk membayar hutang. Apakah usahanya kali ini akan berhasil dan tidak gagal seperti sebelumnya? Ikuti sendiri keseruannya dengan Download GTA 5.
Info
  • Developer: Rockstar North
  • Publisher: Rockstar Games
  • Series: Grand Theft Auto
  • Release date: 14 April 2015
  • Genre: Action-adventure
  • Mode: Single-player, multiplayer
Screenshots:
Download GTA 5 PC
Grand Theft Auto V Full Version
System Requirements
  • OS: Windows Vista SP2, 7 SP1, 8 / 8.1 (64-bit only)
  • CPU: Intel Core 2 Quad @ 2.4GHz / AMD Phenom 9850 Quad-Core
  • Graphics: NVIDIA 9800 GT 1GB / AMD HD 4870 1GB (DX 10, 10.1, 11)
  • RAM: 4 GB
  • Hard Drive: 65 GB free space
  • Sound Card: 100% DirectX 10 compatible
Cara instal:
1.Install Socialclub.
2.Ekstrak file GTA 5.
3.Mount yang berekstensi ISO menggunakan PowerISO.
4.Install gamenya.
5.Copy file dari folder crack dan paste di direktori game. Contoh C:\Program Files\Grand Theft Auto V
6.Klik kanan GTAVLauncher.exe, lalu Run as administrator.
7.Gunakan update jika ingin memperbarui game.

Download GTA 5 PC

sumber 

Download Pro Evolution Soccer 2017 Full Version

Download Pro Evolution Soccer 2017 Full Version – Merupakan kelanjutan dari seri sebelumnya. Berbeda dengan PES 2016, game yang sering disingkat sebagai PES ini dilengkapi dengan kecerdasan buatan yang sudah berevolusi. Pada umumnya, setiap karakter memiliki kemampuan bermain yang standar. Akan tetapi, pada game ini kemampuan tersebut berkembang dan disesuaikan dengan kemampuan pemain.
Free Download PES 2017 PC Game
Kecerdasan buatan yang canggih tersebut mampu memahami kemampuan yang dimiliki oleh pemain. Fitur kecerdasan buatan semacam ini tidak ditemukan pada permainan bergenre serupa lainnya. Hal ini membuat pertandingan menjadi lebih realistis karena pemain juga berkembang dalam menghadapi lawan dengan kemampuan tertentu.
Pemain dapat melihat karakter yang memiliki penampilan layaknya pemain sepak bola di dunia nyata. Pemain juga dapat mengendalikan arah pergerakan bola dengan cara yang lebih mudah. Beberapa animasi seperti selebrasi atau cara mengoper bola dikembangkan sesuai dengan karakter pemain aslinya.
Tidak hanya para pemain, penjaga gawang yang ada dalam Download PES 2017 rupanya juga mampu melakukan lompatan yang spektakuler untuk menyelamatkan gawang. Animasi dan grafis PES 2017 layak diacungi jempol karena tampil begitu realistis. Game dari Konami ini telah bekerja sama dengan klub sepak bola ternama dunia sehingga membuat permainan menjadi lebih berkesan.
Info
  • Developer: Konami Digital Entertainment
  • Publisher: Konami Digital Entertainment
  • Series: Pro Evolution Soccer
  • Release date: 15 September 2016
  • Genre: Sports
  • Mode: Single-player, multiplayer
  • Include: 16 Languages
Screenshots:
PES 2017 Full Version
PES 2017 PC Gameplay
Keylor Navas PES 2017

System Requirements
  • OS: Windows Vista SP2, 7 SP1, 8, 8.1, 10
  • CPU: Intel Core 2 Duo @ 1.8 GHz / AMD Athlon X2 240
  • Video Card: DirectX 9.0c, 1 GB, Pixel Shader 3.0 (GeForce 8800 / Radeon X1600 / Intel HD Graphics 3000)
  • RAM: 1 GB
  • Hard Drive: 8 GB free space
  • DirectX: Version 9.0c
  • Sound Card: DirectX 9.0c
  •  
Cara main:
  1. Mount file iso dengan PowerISO.
  2. Jalankan setup dan instal.
  3. Copy isi dari folder Crack dan paste di folder instal PES 2017.
  4. Klik kanan pada Gamenya lalu run as admin.
  5. Untuk mengubah text dan audio, atur di menu options.

Download PES 2017

sumber

Rabu, 26 Oktober 2016

The Witch (2016)

 the-witch

Jika kebanyakan horor konvensional menggantungkan dirinya pada kekuatan jeritan hasil dari parade jump scare, musik dan penampakan-penampakan mahluk jahat yang mengerikan dengan hanya menawarkan sedikit lapisan cerita yang dalam maka bersiaplah menyambut The Witch garapan sutradara debutan Robert Eggers yang ya, bisa dibilang sedikit berbeda.

Tidak butuh waktu lama buat The Witch untuk bisa langsung menarik penontonnya masuk ke dalam sebuah dunia yang dingin, kusam dan misterius. Mengambil set di New England era 1630-an, satu keluarga religius yang terdiri dari pasangan suami istri dan keempat anaknya harus terbuang dari kelompoknya karena perbedaan pandangan, mereka kemudian memilih untuk hidup menyendiri di pinggir hutan terpencil yang tanpa sepengetahuan mereka ternyata angker karena dipercaya sebagai tempat bersemayam seorang penyihir jahat.

Memang di atas kertas premisnya terdengar simpel dan generik. Tema penyihir dan kutukan memang bukan sesuatu yang asing lagi di dunia horor, lihat saja yang paling saya ingat dalam beberapa tahun terakhir ini seperti Drag Me to Hell milik Sam raimi yang mengambil pendekatan lebih jenaka, tetapi The Witch milik Eggers sendiri tidak memberi ruang sedikit pun untuk tawa, ia seakan-akan menyedot semua kebahagiaan dan menggantinya dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih depresif dari cerita rakyat Ingris lama bersama banyak gambar-gambar mengganggu yang siap menghantuimu bahkan setelah kredit akhir muncul.

Kekuatan The Witch adalah bagaimana Eggers mampu membangun dunianya dengan sangat-sangat kuat sejak menit-menit pertama ia bergulir. Pemilihan palet warna kelabu mendominasi visualnya, dikombinasikan dengan scoring garapan Mark Korven yang menyayat menghasilkan aroma suram pekat. Sementara pergerakan kameranya yang sepelan alur ceritanya sendiri menghasilkan efek ‘siksa’ tersendiri, lihat saja ketika Eggers menyorot satu pohon di hutan gelap itu, seperti tengah memperlihatkan bahwa ada ancaman besar dari dalam sana yang siap menunggu keluarga malang itu.

The Witch punya lapisan yang rumit ketimbang horor konvensional lain dan perlakukan semi art house yang pelan bersama segala dialog-dialog berdialek religi mungkin akan membuat sebagian penontonnya tak nyaman menikmatinya, tetapi ia tidak lantas menjadi absurd dan tanpa kepastian. Satu hal yang pasti bahwa teror penyihir hutan itu ada, bisa kita lihat bagaimana sosok tua mengerikan itu melakukan ritual-ritual seram di sarangnya, masalahnya keluarga William (Ralph Ineson) tidak pernah melihatnya sendiri meski mereka tahu persis ada sesuatu di dalam hutan sana yang membuat hasil panennya busuk dan membuat keluarganya menderita. Bersama istrinya, Katherine (Kate Dickie), keempat anak-anaknya, Thomasin (Anya Taylor-Joy), Caleb (Harvey Scrimshaw) dan si kembar Mercy (Ellie Grainger) dan Jonas (Lucas Dawson), William hanya bisa berlindung pada fanatisme agamanya. Tetapi teror dari hutan tampak tidak bisa dibendung. Perlahan namun pasti keluarga William mulai terpecah belah, krisis kepercayaan mulai melanda menghancurkan bersama kejadian-kejadian aneh di luar akal sehat.

Thomasin menjadi karakter yang paling menderita di sini. Dengan status sebagai anak tertua, anak perempuan pula, ia terjebak dalam situasi pelik di keluarganya. Di satu sisi Thomasin yang tengah beranjak dewasa bisa menjadi jalan keluar dari keadaan keluarganya yang mengalami kesulitan dengan menjodohkannya kepada putra keluarga lain, tetapi kita tahu Thomasin tidak menginginkan itu yang kemudian membawanya ke situasi lebih buruk lagi ketika ia mulai disalahkan atas kejadian-kejadian yang menimpa keluarganya. Yang menarik, Eggers turut menyelipkan elemen coming of age di dalamnya dengan segala pergolakan batin Thomasin dan Caleb, sesuatu yang mungkin terasa aneh untuk sebuah genre horor namun nyatanya ia mampu bersinergi dengan baik dengan plot utamanya, menjadikan The Witch sebagai horor yang tidak hanya menakutkan dengan segala aroma hitam pekat dan premis penyihirnya namun juga bagaimana elemen psikologisnya bermain dengan cantik.

Eye In The Sky (2016)

 iVKB91oDAo65vDpOttwzyHKxN2t

Senang rasanya melihat seorang Barkhad Abdi kembali bermain di sebuah film besar dan tidak berakhir menjadi sekedar aktor berlebel ‘one hit wonder’ setelah debut luar biasanya di Captain Phillips 2013 silam yang diganjar berbagai penghargaan termasuk menang di ajang BAFTA dan menjadi nominator Oscar sebagai pemeran pembantu pria terbaik. Tetapi sesungguhnya Abdi bukan satu-satunya hal menyenangkan yang bisa kamu dapatkan dalam Eye In The Sky, thriller perang produksi Inggris garapan sutradara Gavin Hood (X-Men Origins: Wolverine, Ender Game) ini, masih ada lusinan kejutan dan kesenangan yang sudah siap menunggumu di kurang lebih 102 menit ke depan.

Kisahnya berpusat pada usaha pemerintah Inggris dalam sebuah operasi  intelijen meringkus sekaligus mencegah aksi kelompok teroris kelas kakap Al-Shabaab yang tengah melakukan pertemuan rahasia di Nairobi, Kenya. Operasi yang dipimpin oleh Kolonel Katherine Powell (Helen Mirren) ini melibatkan beberapa pihak berkepentingan, dari Letnan Jendral Frank Benson (Alan Rikman) yang mewakili pemerintahan Inggris, Steve Watts (Aaron Paul), pilot drone tempur angkatan udara Amerika sampai agen rahasia Kenya, Jama Farah (Barkhad Abdi).

Di era modern saat ini perang terhadap terorisme jelas tidak terdengar asing, sudah banyak film yang bolak-balik mengangkat tema macam ini, bahkan Gavin Hood sendiri sebelumnya juga pernah membuat satu dalam Rendition, tetapi Eye In The Sky mungkin akan menjadi sedikit berbeda. Naskah bikinan Guy Hibbert mencoba bergerak dari sisi lain dari sebuah rantai komando operasi militer rahasia yang setiap pilihan dan keputusan yang diambil melibatkan banyak pihak, etika, politik dan yang paling penting, dilema moral rumit. Jadi ia tidak lantas kemudian menjadi sajian thriller perang modern dengan segala kecanggihan drone-drone intai tempurnya yang serta merta langsung main serbu saja ala Rambo yang berisik.

Setiap ketegangan berhasil dibangun dengan sangat baik, ya, seperti yang saya katakan di atas, pilihan dan keputusan berperan vital dalam menciptakan situasi super intens dengan waktu yang terus berjalan. Di atas kertas pilihannya sebenarnya mudah, tinggal lakukan atau tidak, tetapi saya senang bagaimana naskah cerdas Hibbert tidak membuatnya semudah itu. Hood dan Hibbert memperlakukan setiap karakternya dengan manusiawi, ada sebuah batasan abu-abu yang harus dilewati, ini bukan sekedar usaha memberantas atau perang kepada terorisme semata, ada rasa kemanusiaan,  ada rasa takut sekaligus cemas yang begitu besar di balik keperkasaan mereka mengendalikan kekuatan perang modern yang canggih, terlihat dari saling melempar tanggung jawab satu sama lain hanya karena tidak mau sampai disalahkan jika nantinya sampai berakhir buruk.

Ya, benturan moral, segala kode etik, protokol mengemaskan serta macam-macam konflik internal menjadi sajian utama Eye In The Sky, jujur, saya belum pernah melihat adegan  sederhana seperti momen ketika menunggu seorang bocah perempuan Nairobi  berjualan roti bisa disajikan dengan begitu mendebarkan sekaligus emosional atau bagaimana ketika para petinggi-petinggi saling adu argumen tentang prosedur pelaksanaan operasi yang tak jarang membuat kita tertawa getir. Sementara jajaran cast-nya juga bermain  gemilang dalam menggerakkan naskah dan penyutradaraannya. Kita tahu lah kualitas aktris senior macam Helen Mirren yang sekali lagi tampil mengesankan membawakan peran Kolonel Katherine Powell yang tegas, penuh wibawa namun di saat bersamaan juga sama tidak berdayanya ketika dihadapkan pada sebuah situasi yang sulit. Sementara mendiang aktor Alan Rikman juga tampil sama hebatnya sebagai petinggi militer Inggris Frank Benson di salah satu film terakhirnya. Saya senang ketika Hood berhasil membagi setiap perannya dengan porsi yang sama pentingnya, baik Mirren, Rikman, Aaron Paul sampai Barkhad Abdi bergantian menampilkan penampilan terbaik mereka.

The Huntsman: Winter’s War (2016)

The-Huntsman-Winters-War-Wallpaper-20

The Huntsman: Winter’s War adalah sebuah kasus yang lucu, kenapa? Ya, untuk sebuah sekuel sekaligus prekuel dari Snow White and the Huntsman yang merupakan adaptasi kisah si Putih Salju alias Snow White ia nyaris tidak memunculkan tokoh sentral dari dongeng legendaris asal Jerman milik Grimm bersaudara itu, bahkan di judulnya saja namanya tidak lagi nongol. Absennya karakter sentral Snow White yang dimainkan oleh Kristen Stewart di film pertamanya bukan tanpa alasan. Adalah skandal kasus perselingkuhan yang dilakukan sutradara Rupert Sanders dan Stewart yang kemudian mengacaukan segalanya.

Sejatinya Sanders dan Stewart sudah diproyeksikan untuk kembali ke sekuelnya namun terpaksa batal karena kasus memalukan tersebut. Jadi ada sebuah perjudian hebat yang kemudian dilakukan Universal dengan tetap melanjutkan proyek sekuel Snow White meski tanpa mengikutsertakan   Kristen Stewart dan Rupert Sanders, sebagai gantinya, naskahnya kemudian dirombak total, meminggirkan tokoh Snow White dan lebih memusatkan pada cerita sang pemburu a.k.a The Huntsman dan kehidupannya sebelum dan sesudah dirinya bertemu dengan dengan si Putih Salju.

Alkisah jauh sebelum kematiannya  di tangan Snow White, ratu Ravenna (Charlize Theron) adalah istri dari seorang raja yang kemudian tega dibunuhnya sendiri guna mengapai kekuasaan lebih besar. Tetapi rupanya hidupnya masih belum tenang ketika cermin ajaib memberi tahu bahwa kecantikannya terancam oleh kehadiran bayi perempuan adiknya sendiri, Freya (Emily Blunt). Ravenna kemudian membunuh bayi Freya dengan menjebak adik iparnya alias suami Freya, membuat Freya sangat marah sampai-sampai ia lepas kendali dan membunuh suaminya sendiri. Dari sini Freya berduka kemudian memilih untuk pergi ke utara, membangun kerajaannya sendiri dengan melatih anak-anak dari penjuru negeri untuk dijadikan pasukan huntsman nya, termasuk di dalamnya dua yang terbaik, Eric (Chris Hemsworth) dan Sara (Jessica Chastain) yang juga kebetulan saling jatuh cinta.

Ya, Universal tahu bahwa kehilangan tokoh sentral dari dogeng abadi itu merupakan pukulan telak, bahkan menggantikan naskahnya dengan memusatkan kisahnya pada tokoh sang pemburu tampan saja tidak lah cukup, beruntung The Huntsman: Winter’s War kedatangan nama-nama besar yang mampu menjadikan magnet besar buat penontonnya untuk masih mau datang dan menontonnya. Ya, casting ‘bintang limanya’ bisa dibilang menjadi satu-satunya yang bisa diandalkan oleh The Huntsman: Winter’s War karena jujur saja naskah garapan Craig Mazin dan Evan Spiliotopoul yang sedikti banyak langsung mengingatkan saya pada Frozen-nya Disney tidak bisa dibilang bagus. Ya, mungkin bukan sepenuhnya salah Mazin dan Spiliotopoul, mungkin ini semua lagi-lagi salah Stewart dan Sanders karena skandal affair mereka kisahnya terpaksa harus dirombak sedemikian rupa dari rencana awal dengan segala paksaan sana-sini yang malah membuat semuanya menjadi berantakan.

Garis waktunya berada pada era sebelum dan sedu Snow White and the Huntsman dan sesudahnya, menjadi lucu dan aneh ketika di dalamnya para karakternya sering menyebut-nyebut Snow White tanpa pernah memperlihatkan sosok sang putri cantik tersebut yang dikabarkan tengah sakit karena cermin ajaib yang di dalamnya masih bersemayam jiwa gelap Ravenna. Jadi selama 114 menit durasinya, The Huntsman: Winter’s War memusatkan segalanya pada sepak terjang sang Eric sang pemburu dalam usaha menghancurkan cermin ajaib agar tidak sampai jatuh ke tangan yang salah dan juga kisah cintanya dengan istrinya, Sara.

Kombinasi konsep dongeng modifikasi nanggung, petualangan yang tidak terlalu greget, romansa gombal dan penyutradaraan ‘lembek’ dari seorang debutan macam Cedric Nicolas-Troyan yang sebelumnya bertindak sebagai pengawas spesial efek di film pertamanya memang menjadi luka-luka besar buat The Huntsman: Winter’s War. Ya, ia bisa saja bertambah buruk jika tidak dibantu oleh pesona jajaran pemainnya yang tidak hanya bermodalkan nama-nama besar semata namun juga bermain cukup bagus. Hemsworth mungkin hanya mengulangi peran lamanya sebagai Eric, the Hunstman yang charming dan tangguh, ia ditemani oleh Jessica Chastain sebagai Sara yang juga tampil oke meski karakternya tidak disokong oleh cerita yang kuat. Tetapi kalau mau jujur, saya pribadi lebih terpesona dengan Emily Blunt sebagai Freya si ratu es dengan karakterisasi dan background cerita yang lebih kompleks plus bonusnya, dandanan dan pemilihan kostum yang sama kerennya. Sementara meski hanya tampil sebentar di awal dan akhir film, Charlize Theron kembali mengulangi performa mengerikan seperti di film pertamanya sebagai Ravenna yang kejam.

The Jungle Book (2016)

jungle-book-2016-posters-mowgli-baloo

Novelis asal Inggris Rudyard Kipling mungkin akan terus tersenyum lebar di dalam kuburnya. Sebelumnya ia tidak pernah menyangka bahwa ketika pertama kali membuat sebuah kisah tentang bocah manusia yang dibesarkan serigala di hutan India 1894 silam ternyata bisa begitu sangat populer di masa depan, bahkan setelah 122 tahun kemudian, The Jungle Book masih menjadi salah satu kisah abadi yang selalu diceritakan kembali dan kembali, menyaingi ketenaran Tarzan yang punya konsep serupa. Tetapi Kipling sebenarnya juga patut berterima kasih pada Walt Disney yang sudah menjadikan The Jungle Book franchise abadi melalui berbagai macam adaptasi, mulai animasi rilisan 1967 yang begitu populer (sekuelnya dibuat 2003 silam),  serial televisi, video game dan tentu saja versi live action-nya yang sebelum kemunculan versi terbarunya tahun ini sudah ada dua pendahulunya dalam Rudyard Kipling’s The Jungle Book (1994) dan The Jungle Book: Mowgli’s Story (1998).
 
Seperti yang saya katakan di atas,  tidak peduli di era mana kamu berada, The Jungle Book itu abadi termasuk bikinan John Favreau ini yang masih menghadirkan kisah yang sama, cerita tetang Mowgli (Neel Sethi) bocah manusia yang diselamatkan Bagheera (Ben Kingsley) si macan kumbang, di besarkan oleh sekawanan serigala pimpimpan Akela (Giancarlo Esposito) dan Raksha (Lupita Nyong’o), bersahabat dengan beruang bernama Baloo (Bill Muray) yang kemudian harus berhadapan dengan Shere Khan (Idris Elba) si macan Bengal yang jahat.

Ya, secara keseluruhan kisahnya masih sama seperti animasi 1967 dan versi Rudyard Kipling sendiri  jadi ini bisa dibilang pekerjaan mudah untuk penulis naskah Justin Marks yang mungkin hanya sedikit melalukan modifikasi. Jika ada yang menonjol di The Jungle Book versi terbaru ini mungkin terlihat dari sisi teknisnya yang tentu saja melampaui para pendahulunya. Ya, berbicara soal kualitas teknis, Jon Favreau benar-benar dimanjakan dengan perkembangan teknologi CGI, 3D photography dan motion capture yang semakin canggih. Dunia artifisial  The Jungle Book sukses digambarkan dengan sangat cantik dan detil oleh tangan-tangan hebat dari Moving Picture Company (MPC) dan Weta Digital,  baik itu karakter para hewan yang digambarkan begitu hidup (hanya kalah dari Life of Pi) atau hanya sekedar vegetasi dari pohon-pohon besar dan fauna hutan hujan India yang eksotis. Semua kebesaran spesial efek itu dibungkus oleh sinematografi cakep Bil Pope yang mampu menerjemahkan visi penyutradaraan enerjik dan penuh humor Favreau menjadi sebuah kesatuan tak terpisahkan dalam usaha untuk menghadirkan sebuah konsep petualangan keluarga klasik dalam eksekusi yang lebih modern.

Narasinya sederhana dan bersahabat tanpa substansi macam-macam, humornya lucu dan enak dinikmati semua umur, petualangannya seru dan mendebarkan, sisi emosionalnya juga cukup mengena namun jika ada satu hal yang paling menonjol dari The Jungle Book selain visualnya yang ciamik itu adalah jajaran cast pengisi suaranya. Bukan hanya karena diisi oleh nama-nama besar saja namun bagaimana mereka memberi jiwa pada karakter-karakternya dengan sangat baik, lihat saja bagaimana Baloo bisa terasa sangat bersahabat dalam suara Bill Murray, suara lembut Lupita Nyong’o membentuk sisi keibuan dari Raksha, nada bijaksana dari Bagheera-nya Beng Kingsley, Christopher Walken dengan King Louie yang tamak, suara menggoda nan seksi dari Scarlett Johansson berwujud Kaa yang sayang hanya tampil sebentar sampai ancaman besar dari sosok harimau Bengal yang di alih suarakan Idris Elba.

Captain America: Civil War (2016)

Captain-America-and-Iron-Man-face-off-in-Civil-War

Bukan hanya sekedar berlabel sekuel kedua Captain America dan film ke-13 dari Marvel Cinematic Universe (MCU), Captain America: Civil War jauh lebih besar dari itu ketika dalam materi promosinya ia tidak sekedar mencoba membawa kisah sang Kapten lebih jauh lagi sebagai pembuka fase ke-3 MCU  namun menawarkan lebih banyak kehadiran pahlawan super ‘baru’ sebagai penawar kekecewaan yang mungkin sempat kamu rasakan dalam The Avengers: Age of Ultron.

Memulai segalanya sebagai awal dari fase ketiga MCU, Captain America: Civil War membuka ceritanya dengan efek  pasca insiden Sokovia di Avengers: Age of Ultron yang memaksa para pemimpin dunia terpaksa harus mengambil keputusan dengan membatasi gerak-gerik para Earth’s Mightiest Heroes yang dalam setiap misinya tidak jarang memakan korban jiwa tak bersalah dari masyarakat sipil, terakhir ketika mereka mengejar Brock Rumlow a.k.a Crossbones (Frank Grillo) di Lagos, Nigeria. Tentu saja ini kemudian menjadi situasi rumit yang harus dihadapi para punggawa Avengers, sang pemimpin, Captain America (Chris Evans) menolak menandatangani perjanjian Sokovia, sementara Iron Man (Robert Downey Jr.)  memilih untuk ikut dengan cara pemerintah. Menjadi lebih pelik ketika Steve Rogers harus menerima kenyataan bahwa sahabat baiknya, Bucky “The Winter Soldier” Barnes (Sebastian Stan) menjadi tersangka utama di balik salah satu kejadian terorisme mematikan di Vienna, Austria. Sang kapten memilih untuk memberontak dan menyelamatkan Bucky tentu saja dengan konsekuensi besar, ia harus berhadapan dengan separuh teman-teman Avengers-nya sendiri. Sementara dari kejauhan ada sosok misterius Helmut Zemo (Daniel Bruhl) yang punya agenda tersendiri.

Jika dua seri The Avengers menghadirkan konsep good vs evil dengan membawa   banyak pahlawan super melawan teror jahat dari luar macam alien atau robot cerdas, maka Captain America: Civil War mencoba tampil lebih ekstrem. Ya, ini adalah pertarungan masif ketika di dalamnya melibatkan aksi superhero vs superhero seperti yang bolak-balik diperlihatkan dalam beberapa trailler-nya termasuk salah satu yang paling menghebohkan ketika menampilkan kehadiran sosok laba-laba merah dengan konsep yang berada dalam wilayah abu-abu. Ini adalah pertandingan besar antara tim Kapten vs tim Iron Man yang ironis siapa pun siapa pun yang menang maka dunia tetap kalah. Tetapi bukan berarti Civil War menjadi Avengers 2.1 dengan hanya mengandalkan satu lusin superhero semata, ini tetap adalah film sang Kapten dan ia tetap menjadi hati dan jiwanya.

Kita tahu Steve Rogers mungkin adalah manusia dengan kebaikan hati begitu besar dan di sini sekali lagi, seperti di dua seri pendahulunya ia kembali harus mengambil sebuah keputusan sulit di situasi yang pelik. Membawa kembali sosok Bucky setelah peristiwa di The Winter Soldier adalah langkah tepat. Bucky jelas menjadi sangat personal buat Steve Rogers, ia tidak hanya sahabat namun juga satu-satunya bagian dari masa lalunya yang masih ada apalagi di sini sang pujaan hati. Peggy Carter dikisahkan telah tutup usia. Jadi melindungi Bucky yang notabene adalah buronan paling dicari adalah sebuah keharusan bagi Steve Rogers.

Tentu saja dibutuhkan alasan kuat mengapa dua kubu superhero harus terpecah dan saling baku hantam. Sepintas mungkin yang terlihat terkesan sederhana, semata-mata hanya ada Captain America yang melindungi teman sekaligus musuh dan saya senang ternyata duo penulis naskahnya, Christopher Markus dan Stephen McFeely tidak menggampangkannya begitu saja. Benturan ideologi berbeda antara tim Kapten dan tim Iron Man dihadirkan dengan alasan yang kuat dan juga rumit. Di satu sisi Steve Rogers tidak ingin aksi kemanusiaan mereka dibatasi yang berarti ia tidak bisa beraksi setiap saat tanpa persetujuan pemerintah, baginya jatuhnya korban sipil dalam sebuah peperangan melawan kejahatan itu memang tidak bisa dihindarkan. Sementara Tony Stark menyetujui langkah pemerintah dan pemimpin dunia untuk membatasi aksi mereka pasca kejadian di Sovokia yang merenggut banyak jiwa tak berdosa ini diperkuat dalam sebuah adegan di mana Stark bertemu dengan ibu dari salah satu korban Sovokia yang menyalahkan aksi heroiknya di Age of Ultron lalu. Tidak ada yang bisa disalahkan dari keduanya, keduanya punya alasan mereka masing-masing yang membuat momen pembukaan Civil War menjadi kuat. Argumen moral tentang perbedaan dalam menyingkapi collateral damage kemudian berujung konflik horizontal kemudian menjadi tak terelakkan. Hubungan antara Steve dan Tony benar-benar mendapat ujian berat di sini, penonton akan disuguhkan sebuah  bromance antara Rogers dan Bucky sementar di tempat lain juga menjadi saksi pertentangan batin Tony Stark dengan segala masa lalu tentang nasib kedua orang tuanya.

Ya, Civil War memang punya konsep menarik ketika menawarkan benturan internal antara sesama superhero dengan segala motifnya, tetapi kalau mau jujur, dari segi penceritaan ia hanya sedikit lebih baik dari Age of Ultron dan masih jauh berada di bawah salah satu seri terbaik MCU; Captain America: The Winter Soldier yang begitu intens dan solid. Setelah first act yang cukup kuat Civil War kehilangan konsistensi dalam upayanya penceritaannya dan kemudian menderita banyak di sepertiga akhir yang kebanting telak setelah momentum puncak dalam pertarungan luar biasa di landasan pesawat terbang meski harus diakui juga itu sebuah akhir yang cukup emosional. Ya, beberapa kejutan berupa kemunculan para anggota baru Avengers macam Black Panther (Chadwick Boseman) dan yang paling ditunggu, Spider-Man (Tom Holland) sedikit banyak mampu membiaskan kondisi plotnya yang agak kacau termasuk kehadiran villain misterius Helmut Zemo  yang dimainkan Daniel Bruhl yang sayangnya berakhir dengan motif terlalu simpel.

Berbicara soal adegan di airport tadi, Civil War di bawah arahan Anthony Russo dan Joe Russo yang kembali dipercaya setelah pekerjaan bagus mereka di The Winter Soldier sukses menghadirkan sekuen pertarungan terbaik sejauh ini dalam sejarah adaptasi superhero layar lebar. Setiap set-pieces dihadirkan duo Russo dengan fantastis, humor, aksi dan spesial efek melebur menjadi sebuah kesatuan kesenangan yang diharapkan tidak pernah berakhir, setiap karakter yang terlibat mendapatkan sinarnya masing-masing. Melihat bagaimana Spider-Man “baru” bergabung dengan penuh gaya menghajar Falcon dan Bucky itu tak terlukiskan dengan kata-kata, terkaman garang Black Panther memberi asupan segar sampai puncaknya aksi Ant-Man bersama kejutan besar jelas adalah mimpi basah yang akhirnya benar-benar terwujud tidak hanya buat para penggemar komik namun siapa saja yang mencintai film superhero. Tidak diragukan lagi, momen itu akan selalu dikenang oleh peontonnya selama bertahun-tahun kemudian.

Spider-Man jelas adalah salah satu daya tarik terbesar buat Civil War setelah Marvel menegaskan rumor yang beredar dalam sebuah trailer yang sempat menghebohkan beberapa bulan sebelum filmnya dirilis. Menariknya, Civil War bukan sekedar ajang come back sekelebatan buat Spidey untuk sekedar mencuri perisai si Kapten setelah Sony memutuskan untuk sekali lagi me-reboot salah satu franchise favoritnya itu namun menjadi luar biasa ketika duo Russo memberi porsi cerita tersendiri buat Peter Parker baru dalam wujud Tom Holland dengan segala pesona bocah ABG yang luar biasa cerewet bersama kehadiran bibi May yang ehmm….jauh lebih cant, eh, muda. Tetapi tidak hanya Spidey yang mendapatkan kesempatan untuk tampil debut, T’Challa a.k.a Black Panther yang dimainkan Chadwick Boseman pun turut mencuri perhatian bersama kemunculannya yang elegan. Popularitasnya yang harus diakui masih kalah dengan Spider-Man malah menghadirkan sisi misterius tersendiri yang membuat penonton awam tertarik untuk mengenalnya lebih jauh, apalagi ia mampu tampil mengesankan di sini dengan kostum keren dan adegan aksi yang memukau.

10 Cloverfield Lane (2016)

10-cloverfield-lane-second-trailer-0

Meski punya konsep tentang invasi alien yang menarik dan dipuja-puji oleh para kritikus, faktanya Cloverfield garapan Matt Reeves 2008 silam bukan jenis film yang mudah dinikmati karena penyajian ala found footage-nya yang membuat separuh penontonnya pusing dan mual-mual karena efek shaky kameranya yang begitu ‘mentah’. Tetapi jika bisa selamat melewati  teknis dan editing ‘kasarnya’ yang memabukan, kamu mungkin akan sepakat seperti saya bahwa Cloverfield memang adalah salah satu thriller fiksi ilmiah kecil yang jenius dan paling mendebarkan yang pernah ada.

Bahkan setelah rilisnya Cloverfield pembicaraan soal sekuelnya sudah muncul di permukaan meski kenyataannya hanya sekedar menjadi omong-omong semata. Sanking antusiasnya mengharapkan seri lanjutan Cloverfield, sampai-sampai banyak penonton yang berspekulasi bahwa Super 8-nya J.J Abrams adalah sekuel Cloverfield, tentu saja kemudian dibantah mentah-mentah oleh sutradara Star Wars: The Force Awakens itu. Tetapi penantian panjang itu berakhir sudah setelah di awal tahun ini Paramount Pictures mengumumkan judul resminya, 10 Cloverfield Lane yang dibarengi dengan trailer dan marketing viral ala Cloverfield yang mengusik rasa penasaran.

Tetapi kenyataannya, 10 Cloverfield Lane bukanlah sekuel Cloverfield, bahkan J.J Abrams yang kembali duduk di bangku produsernya pun menegaskan demikian meski ia tidak menampik bahwa film garapan sutradara debutan Dan Trachtenberg ini berbagi DNA yang sama termasuk dunia alternatif yang sama dengan Cloverfield-nya Reeves. Mungkin lebih tepat menyebutnya sebagai spin-off atau sidequel mengingat narasinya yang bukan seperti lanjutan namun bekerja sebagai pondasi yang juga berjalan beriringan dengan peristiwa yang terjadi dalam Cloverfield.

Jadi tidak ada penampakan kaiju seperti di film pertamanya. Tembok-tembok besar pencakar langit New York yang porak poranda digantikan dengan pemandangan pinggir kota yang sunyi, memperlihatkan sosok Mary Elizabeth Winstead dalam wujud Michelle tengah mengendarai mobilnya, pergi jauh dari kehidupan lamanya, meninggalkan kekasihnya, Ben (Bradley Cooper) yang memohon-mohon untuk kembali lewat pengeras suara iPhone-nya. Tetapi jauh sebelum ia sampai di tempat tujuan yang entah di mana, mobil Michelle mengalami kecelakaan hebat yang juga menjadi salah satu  opening credit paling keren yang pernah ada.

Dari sini cerita dimulai. Singkatnya, Michelle kemudian diselamatkan oleh Howard (John Goodman) dan dibawa ke bunker bawah tanahnya. Howard menjelaskan bahwa ada serangan misterius mematikan yang tengah menghancurkan dunia, membuat udara di luar sana tercemar oleh limbah beracun mematikan. Michelle tidak sendiri di sana, ada tetangga Howard, Emmet (John Gallagher, Jr.) yang juga beruntung bisa berada di bunker yang mungkin paling nyaman di dunia itu. Ya, bunker Howard mungkin sangat nyaman, aman dan hangat, jauh dari ancaman mengerikan dari luar, tetapi siapa sangka teror malah datang dari dalam yang kemudian memaksa Michelle harus memutar otak agar bisa keluar dari sana.

10 Cloverfield Lane memang meminjam universe dan premis dasar tentang kiamat alien dari abangnya, Cloverfield sebagai pondasi ceritanya, tetapi jujur saja ini seperti dua film yang benar-benar berbeda. Kita mengenal Cloverfield dengan gaya mocku horornya yang mencekam dan memabukan, di sini, di 10 Cloverfield Lane, Dan Trachtenberg melakukan pendekatan lebih bersahabat dengan membuang jauh-jauh pengunaan shaky cam-nya, kembali ke sudut pandang orang ketiga, memodifikasi konsep sci-finya menjadi thriller home invasioan ruang sempit yang mencekam. Ya, 10 Cloverfield Lane memang kehilangan penyajian yang membuat Cloverfield selalu diingat tetapi bukan berarti ia lantas kehilangan taji dan ciri khasnya sendiri.

Saya suka bagaimana Trachtenberg mengolah naskah buatan Josh Campbell dan Matt Stuecken dengan sangat berkelas, mengalihkan perhatian kita sejenak dari dunia luar Cloverfield yang tidak jelas nasibnya, memfokuskan segalanya ke bunker nyaman milik Howard yang dipenuhi dengan banyak pertanyaan, misteri dan ketidakpastian dan juga tekanan tingkat tinggi yang dibangun perlahan namun dengan pasti akan mencekikmu nanti bersama atmosfer klaustrofobik menyesakan yang sangat efektif menggedor jantungmu sampai akhir nanti. Saya suka bagaimana Trachtenberg membangun segalanya dengan solid sejak awal. Membuka filmnya dengan opening yang keren, menghadirkan misterinya yang langsung menyentil rasa penasaranmu dan yang paling utama adalah bagaimana dengan jenius ia memaksimalkan sumber dayanya yang sangat terbatas, perlu diketahui, bujet 10 Cloverfield Lane ini lebih kecil ketimbang Cloverfield yang sebenarnya juga sudah sangat minim itu, tetapi sekali lagi Trachtenberg membuktikan bahwa biaya produksi bukan segalanya.

Satu hal lain yang menonjol dalam 10 Cloverfield Lane selain kualitas narasi dan penyutradaraan yang ‘menyimpang’ adalah casting-nya yang sempurna. Ia hanya punya tiga orang pemain utama, dan semua bermain fantastis. Kudos terutama patut diberikan kepada aktor senior John Goodman dalam salah satu penampilan terbaiknya. Berperan sebagai Howard sang penyelamat, Goodman bisa menghadirkan sebuah kompleksitas karakter yang menarik. Di satu sisi ia menimbulkan kecurigaan dengan segala tindakan pencegahan yang sedikit berlebihan, tetapi ia punya alasan bagus untuk itu dan jawaban buat semua pertanyaan, tetapi di sisi lain susah untuk tidak menaruh curiga kepadanya meski terlihat lembut dan sangat peduli, karakter Howard bisa menjadi sangat menyeramkan. Sementara Mary Elizabeth Winstead sukses menjadi heroin tangguh yang manusiawi meski di thrid act-nya ia tampak terlalu hebat. Secara keseluruhan Winstead mampu memadukan kekuatan emosi, rasa was-was dan kecerdasan berpikir yang berhasil di bawakannya dengan baik, relasinya bersama John Gallagher, Jr. memberikan sisi emosional tersendiri, terutama ketika Trachtenberg memberi sesi curhat intim buat keduanya guna memberi kedekatan lebih kepada penontonnya yang tentu saja menghasilkan efek peduli yang lebih kuat.

Kung Fu Panda 3 (2016)

 1280x720-sb6

Dibanding Pixar, Dreamworks bisa dibilang lebih sukses ketika berurusan dengan sekuel-sekuel animasinya tanpa kehilangan pesonanya, lihat Shrek yang masih sukses meski sudah menyentuh empat seri lalu juga ada wara laba Madagascar juga mencapai tahap trilogi dan tentu saja franchise Kung Fu Panda yang akhirnya menelurkan seri ketiganya setelah lima tahun absen. Ya, berbicara soal Kung Fu Panda berarti kita akan berbicara soal animasi yang seru, lucu dan keren bersama begitu banyak hewan-hewan yang mampu tampil imut dan garang di saat bersamaan. Jarang ada animasi barat yang sarat dengan segala pernak-pernik oriental, baik budaya termasuk bela dirinya yang mampu digarap dengan keseimbangan sempurna antara humor dan aksi, dan Kung Fu Panda berhasil melakukannya dengan sangat baik, jadi tidak heran jika ia menjadi salah satu animasi yang paling diantisipasi di setiap kemunculan seri terbarunya, baik itu animasi pendek maupun film panjangnya.

Jujur, Kung Fu Panda 3 sebenarnya tidak menawarkan sebuah pola yang baru. Ia masih dalam jalur penceritaan yang sama dengan para pendahulunya, Ada konflik baru, tantangan baru dan tentu saja musuh baru serta bagaimana Po berjibaku dengan dirinya sendiri untuk menjadi sosok pendekar yang lebih baik. Ya, menarik memang jika berbicara soal Po si panda gendut ini, bagaimana tim penulisnya mampu mengeksplorasi karakter dan latar belakang cerita hidupnya yang secara tidak langsung sudah membentuk benang merah di setiap serinya. Seri pertamanya Po belajar menjadi pahlawan baru, seri keduanya bagaimana ia mempertajam kemampuannya dan di seri ketiganya ini secara garis besar adalah bagaimana ia menjadi guru bagi Furious Five yang juga sahabat-sahabatnya, namun sekali lagi benang merah dari masa lalu Po kembali datang dalam wujud panda bernama Li Shan (Bryan Cranston) yang tidak lain tidak bukan adalah ayah kandung Po yang kemudian mengajaknya pulang ke desa rahasia para panda. Sementara di alam baka, musuh lama Grand Master Oogway (Randall Duk Kim), Kai (J. K. Simmons) bangkit kembali dari alam kematian setelah berhasil mencuri chi dari arwah-arwah pendekar hebat, termasuk Master Oogway sendiri.

Seperti yang saya katakan di atas, kekuatan utama dari Kung Fu Panda sejak kemunculan perdananya 2008 silam  adalah perpaduan olahan humor kocak dari dialog sampai fisik, aksi martial arts spektakuler dan pemilihan karakter yang kuat dan kombinasi itu yang lagi-lagi kita dapatkan di seri ketiganya ini  yang kembali dipegang Jennifer Yuh Nelson bersama Alessandro Carloni terlepas dari narasinya yang sedikit lemah dan terkesan mengulang kembali pakem di seri sebelumnya. Kualitas animasinya masih sama bagusnya dengan yang sudah-sudah, baik itu CGI maupun gambaran tangan, termasuk di dalamnya detail karakter maupun lingkungannya, keduanya ditambah dengan  scoring Hans Zimmer yang menjadi perpaduan apik dalam menggambarkan perjalanan Po yang untuk ke sekian kalinya lagi-lagi haris mencari jati dirinya.
Jika ada satu hal lain yang saya suka tentang Kung Fu Panda selain koreografi dan humornya, itu adalah kualitas voice over dari para pengisi suaranya. Hampir semua aktor dan aktris pengisi suara dari dua seri sebelumnya kembali meneruskan pekerjaan bagus mereka. Jack Black masih menjadi daya tarik utama Kung Fu Panda 3, ia menjadi jiwa dan raga buat karakter Po dengan suara sempurna dan tentu saja dengan segala guyonannya yang hampir semua didominasinya. Sayang penyakit lama Kung Fu Panda masih kambuh ketika ia tidak benar-benar bisa memaksimalkan nama-nama besar macam Angelina Jolie, Lucy Liu, Seth Rogen, David Cross sampai Jackie Chan yang terkesan sekedar hanya menjual nama besar dengan dialog yang mungkin tidak mencapai separuh halaman. Yang menarik adalah bagaimana pengaruh besar Angelina Jolie yang sampai-sampai ia bisa melibatkan anak-anaknya untuk turut mengisi suara para panda kecil di sini, dari Pax , Knox Jolie-Pitt, Zahara sampai Shiloh Jolie-Pitt. Tentu saja sekuel baru tentu ada karakter baru, kali ini Kung Fu Panda 3 turut menghadirkan J.K Simmons sebagai Kai si kerbau, villain utama yang garang, Kate Hudson yang kebagian peran kecil sebagai panda betina Mei Mei dan Jean-Claude Van Damme dalam wujud si Master Croc yang nyaris tanpa dialog.

The Mermaid (2016)

20160226154534_1718

The Mermaid datang ke bioskop Indonesia dengan modal penuh kepercayaan diri tingkat tinggi, tidak hanya karena ia menjadi film besutan sutradara sekaligus aktor, produser sekaligus komedian legendaris Hong Kong, Stephen Chow namun juga membawa status perkasa sebagai film terlaris Cina sepanjang masa dengan keberhasilannya menggondol lebih dari setengah miliar Dolar, bahkan sejauh ini di 2016 ia hanya kalah dari Deadpool sebagai film dengan berpenghasilan terbesar. Jika menilik dari track record Chow sebagai sutradara yang pernah menghasilkan film-film mega hit macam Shaolin Soccer, Kung Fu Hustle sampai CJ7, kesuksesan The Mermaid  sebenarnya tidaklah sampai terlalu mengejutkan, toh, Chow memang punya sentuhan emas dalam film-film yang dihasilkannya, meski ia tidak melulu harus bermain di setiap film yang ditukanginya, sebut saja misalnya Journey to the West: Conquering the Demons dan dalam The Mermaid pun Chow memilih untuk duduk di belakang layar.

Memadukan satir tentang isu lingkungan hidup dalam bungkus komedi dan romansa berlatar dongeng klasik putri duyung, The Mermaid memfokuskan kisahnya pada rencana reklamasi Green Gulf; sebuah lokasi suaka alam yang dilakukan oleh pengusaha sukses, Liu Xuan (Deng Chao) bersama patner bisnisnya, Ruolan (Kitty Zhang Yuqi). Mereka memasang sonar khusus untuk mencegah lumba-lumba kembali ke sana, tanpa pernah disadari tindakan yang mereka lakukan ternyata juga merusak lingkungan kehidupan para manusia duyung yang hidup bersembunyi di sana. Demi menjaga kelangsungan hidup mereka, pimpinan para merpeople; Octopus (Show Luo) menugaskan anggotanya yang cantik, Shan (Lin Yun) untuk menggoda dan menjebak Li Xuan masuk perangkap kemudian membunuhnya. Namun yang terjadi malah keduanya jatuh cinta.

Ya, ini klasik, cerita tentang putri duyung yang jatuh cinta pada manusia adalah dongeng lama yang kali ini coba dimodernisasi oleh Stephen Chow bersama kawan-kawan seperjuangannya macam Kelvin Lee, Ho Miu-kei, Lu Zhengyu, Fung Chih-chiang, Ivy Kong, Chan Hing-ka, Tsang Kan-cheung  dalam bentuk komedi romantis. Ya, memang bukan barang baru, tetapi tetap saja konsep fantasi macam ini bisa jadi sajian menarik jika dikelola dengan benar, sayang saya tidak menyukai apa yang dilakukan Chow kali ini. Mengapa? Pertama, ia tidak punya kekuatan bercerita yang solid, ya, saya tahu ini komedi dan tak perlu lah segala narasi yang serius, tetapi ia bisa melakukannya di Shaolin Soccer dan Kung Fu Hustle, itu adalah perpaduan antara keseriusan dan komedi yang sempurna meski harus diakui kualitas CGI nya memang tidak terlalu bagus. Sementara untuk The Mermaid bisa dibilang berantakan secara keseluruhan.

Dimulai dengan footage-footage ‘mentah’ tentang kerusakan lingkungan, Chow seperti tengah melakukan kampanye tentang lingkungan hidup. Setelah itu ia memulai ceritanya dengan canggung dengan banyak akward moment. Ya, memang dalam perjalanannya plotnya memang menjadi lebih baik namun bukan berarti secara keseluruhan filmnya juga menjadi lebih baik. Kedua, karakter-karakternya lemah, selemah kualitas narasinya. Untuk sebuah romcom, The Mermaid hanya terlalu mendominasi di “com” nya bersama segala guyonan khas Chow yang absurd, bodoh dan over, beberapa memang berhasil menusuk syaraf tawamu seperti adegan percobaan pembunuhan atau momen di kantor polisi itu, tetapi sebagian lagi terasa garing.

Sementara unsur romansanya dibentuk secara paksa dan kasar, transisi untuk membangun rasa cinta terasa kelewat cepat, hanya melalui acara makan ayam panggang dan bersenang-senang beberapa jam di taman bermain, seakan-akan Chow tidak terlalu memedulikan bagian ini meski sebenarnya sangat penting untuk membangun ikatan emosi, bahkan kalau mau jujur, porsi cinta secuil yang ada di Kung Fu Hustle dengan gadis bisu penjual permen itu jauh lebih mengena. Dan terakhir soal CGI. Ya, kita tahu Chow senang bermain-main dengan efek komputer untuk mendukung narasi dan aksi-aksinya, dan tentu saja berbicara soal kualitasnya sudah sepantasnya kita tidak membandingkannya dengan apa yang dilakukan Hollywood, itu terlalu jauh, masalahnya kualitas CGI The Mermaid itu buruk, sangat buruk bahkan untuk sekedar dibandingkan dengan Shaolin Soccer atau Kung Fu Hustle sekalipun yang sebenarnya sudah masuk kategori ‘cukup’ itu.

The Divergent Series: Allegiant (2016)

 2016_the_divergent_series_allegiant-2560x1440

The Hunger Games, The Divergent, Maze Runner dan kawan-kawannya, ya, ada begitu banyak adaptasi sci-fi young adult berseliweran di layar lebar akhir-akhir ini dengan kandungan tema dan cerita yang beda-beda tipis satu sama lain, cerita tentang sosok muda terpilih penyelamat umat manusia dari kehancuran dengan set dunia distopia dan segala variasinya dari pemerintahan otoriter, pembagian kelompok manusia sampai penggunaan labirin raksasa untuk mencari manusia-manusia terpilih, tetapi sekali lagi, mereka semua sama saja. Untuk kasus The Divergent mungkin ia adalah yang paling lemah dari tiga franchise besar YA di atas, ia tidak punya maze raksasa yang mengerikan, ia tidak punya Jennifer Lawrence yang memesona, ya, tidak ada  sesuatu yang spesial sebenarnya di cerita The Divergent yang sampai-sampai memaksa otak tua saya bekerja lebih keras untuk mengingat apa yang terjadi di seri sebelumnya: Insurgent.

Dalam Allegiant, Tris (Shailene Woodley), kekasihnya Four (Theo James) dan kawan-kawannya untuk pertama kalinya berhasil melewati tembok besar yang mengurung Chicago. Di luar sana ia menemukan kehancuran luar biasa akibat perang masa lalu dan juga kejutan besar berupa komunitas berteknologi canggih yang mengawasi setiap pergerakannya. Dari sini Tris harus dihadapi dengan pilihan sulit untuk berpihak kepada siapa? Apakah kelompok pemberontak di dalam tembok pimpinan Evelyn Johnson-Eaton (Naomi Watts) atau faksi luar tembok yang punya agenda tersembunyi tersendiri.

“Saya enjoy kok nontonnya” Kata penonton yang mengaku tidak mengikuti novelnya, khususnya novel ketiga The Divergent ini. Buat saya susah untuk menikmati Allegiant, sekedar informasi saya juga bukan pembaca novel Veronica Roth ini. Allegiant bisa dibilang adalah seri terburuk dari saga YA yang sebenarnya juga tidak pernah bagus-bagus amat dari kemunculan pertamanya 2014 silam. Ya, harus diakui secara skala, Allegiant jauh lebih besar dari dua pendahulunya, dengan set dunia lebih besar dan lebih banyak manusia yang terlibat. Tetapi lebih besar bukan berarti lebih baik. Allegiant menderita banyak di narasinya yang kacau balau, berantakan atau apalah istilah lain yang bisa kamu berikan. Komentar dari penonton yang sudah membaca novelnya mengatakan bahwa narasi Allegiant versi live action itu ‘lancang’, ia seperti mencoba berjalan sendiri dengan banyak melakukan modifikasi cerita sana-sini yang sayangnya tidak digarap matang, efeknya  malah membuat narasi dua seri pertamanya seperti menjadi bagian yang tidak nyambung. Belum lagi saya menyebut beberapa kebodohan sana-sini seperti salah satu yang paling kelihatan adalah beberapa keputusan Tris yang konyol ketika selalu melibatkan karakter Peter Hayes-nya Miles Teller yang sudah terbukti bolak-balik menusuk dari belakang atau menaruh kepercayaan berlebih kepada David yang jelas-jelas adalah bad guy, saya masih belum menyebut drama cinta antara Tris dan Four (Theo James ) yang….ah, sudahlah……

Tentu saja dengan skala lebih besar ada rentetan aksi yang lebih besar pula di Allegiant bersama segala kosmetik CGI-nya, masalahnya seberapa besar usaha sutradara Robert Schwentke untuk memaksimalkan tensinya,  sektor ini juga berakhir sama payahnya dengan kualitas cerita dan karakternya, sama-sama tidak menarik dan kacau, meski harus diakui kali ini ada lebih banyak teknologi canggih baru yang belum pernah ada di seri-seri sebelumnya tetapi lagi-lagi semua terlihat palsu dan plastik, coba saja lihat gelembung kuning itu, meh!

Last Shift (2015)

photo_02

Dalam dunia horor tidak ada itu istilah tempat paling aman, bahkan bangunan tangguh seperti kantor polisi pun bisa didapuk sebagai salah satu tempat paling angker, seperti misalnya yang terjadi dalam horor indie; Last Shift garapan sutradara Dread, Anthony DiBlasi ini.

Malam itu, polwan Jessica Loren (Juliana Harkavy) yang gugup baru saja memulai debutnya sebagai seorang polisi demi melanjutkan perjuangan sang ayah yang tewas dalam tugas. Tugasnya sebenarnya terbilang mudah, sangat mudah malah. Ia hanya diperintahkan untuk menunggu sebuah kantor polisi yang telah nyaris kosong dan pemidahan barang terakhir ke gedung baru dilakukan malam itu di saat ia berjaga. Masalahnya Jessica yang malang tidak pernah mengetahui apa yang bakal dihadapinya nanti. Sesuatu yang jahat, sangat jahat sudah menantinya di sana.

Last Shift sebenarnya punya konsep horor haunted house usang, menjadi menarik ketika DiBlasi mencoba melakukan penyegaran dengan sedikit memodifikasinya di sana-sini seperti yang jelas terlihat ketika ia memindahkan TKP-nya yang biasanya didominasi rumah-rumah  atau tempat tinggal ke kantor polisi. Ya, sedikit perubahan set namun hasilnya bisa sangat efektif karena bagaimana kemudian DiBlasi juga berhasil memadukannya dengan kombinasi serangan psikologis, ancaman supranatural dan teror klaustrofobik yang hadir dari setiap ruang sempit di kantor polisi tersebut.

Tidak banyak mengumbar basa-basi, Last Shift langsung bergerak cepat menuju ke pokok permasalahannya, memperlihatkan bagaimana polwan kita bertugas di malam pertamanya, bagaimana panggilan telepon misterius dari seorang gadis yang ketakutan itu seharusnya sudah secara otomatis teralihkan ke kantor baru kemudian memecah heningnya malam. Dari sini teror pun dimulai. Jessica tentu saja tidak pernah menyangka apa yang akan ia hadapi di sana. Awalnya segala kegaduhan yang terjadi dikarenakan ada gelandangan aneh yang menyusup, namun perlahan tensi keganjilan mulai meningkat.

DiBlasi sukses menghadirkan sebuah pengalaman berbeda menonton horor rumah hantu. Secara keseluruhan Last Shift punya kadar kengerian dan ketegangan yang digarap dengan sangat baik. Aroma sesak bercampur misteri pekat kemudian menyelimuti 90 menit durasinya bersama pergerakan kamera yang pintar dan scoring eerie yang menyayat. Aktivitas paranormal jahat perlahan namun pasti menunjukkan jati dirinya tanpa malu-malu meski pada beberapa bagian terkesan repetitif dan babak ketiga yang  terasa terlalu diobral, namun hebatnya, ia tidak pernah kehilangan momentumnya dan beberapa kejutan mengerikan akan membuatmu merinding disko. Entah kebetulan atau tidak, beberapa adegan seramnya terlihat seperti terinspirasi dari J-horror legendaris macam The Ring dan Ju-On yang dimodikasi sedemikian rupa.

Tentu saja sebagai sebuah horor ruang sempit tidak hanya dibutuhkan penyutradaraan dan naskah kuat namun juga casting yang prima, dan aktris yang pernah hadir di dua episode The Walking Dead, Juliana Harkavy tidak hanya punya modal paras cantik yang enak untuk dilihat namun juga bagaimana kemampuannya mengisi karakter Jessica Loren dengan baik menjadikan nilai lebih buat Last Shift. DiBlasi dan cowriter-nya, Scott Poiley tidak semata-mata hanya menjadikan karakter Jessica Loren sebagai objek ‘bully’ kosong dari para penunggu gedung, namun mengaitkan narasinya langsung ke tokoh utamanya mampu memberikan sebuah motif kuat dari mengapa ia memilih menjadi polisi menggantikan mendiang sang ayah yang juga menjadi alasan mengapa ia ‘betah’ berlama-lama di sana.

Gods of Egypt (2016)

 Gods_of_Egypt_HD_Screencaps-5
 
Gods of Egypt sebenarnya sudah dengan sangat gamblang dalam setiap trailernya menunjukkan bahwa dirinya bukanlah jenis film yang pantas kamu anggap serius, apalagi bahan untuk mendalami mitologi Mesir kuno. Tidak ada ceritanya dalam lembaran buku sejarah mana pun dewa-dewa Mesir hidup berdampingan dengan manusia, memiliki darah emas dengan fisik lebih besar dan mampu bertransformasi menjadi binatang besi layaknya robot-robot Transformers. Ya, secara kualitas di atas kertas Gods of Egypt itu buruk, ia punya naskah buruk, akting buruk, eksekusi buruk dan spesial efek buruk. Tetapi terkadang jika kamu sudah menurunkan harapanmu sampai titik yang terendah jauh-jauh hari, Gods of Egypt bisa menyenangkan untuk ditonton untuk sekedar melepas penat, ya, paling tidak, ia lebih enjoyable ketimbang koleganya sesama film aksi petualangan fantasi mitologi macam Clash of The Titans dan sekuelnya, Wrath of the Titans
 
Semua dewa-dewi Mesir yang ditampilkan di sini memang ada dalam buku-buku sejarah yang pernah kamu baca, dari Dewa matahari; Ra, Osiris, Horus, Set, Thoth sampai Anubis penguasa alam baka, tetapi dunia Gods of Egypt garapan Alex Proyas (The Crow, Dark City, I, Robot, Knowing) ini bisa dibilang sedikit berbeda ketika menggunakan set dunia alternatif Mesir kuno yang diberi sentuhan modern. Dikisahkan Horus (Nikolaj Coster-Waldau), si penguasa udara tengah bersiap untuk dilantik menjadi raja Mesir baru menggantikan ayahnya, Osiris (Bryan Brown) namun siapa sangka di tengah kemeriahan pesta besar peralihan kekuasaan itu, Set (Gerard Butler) adik Osiris datang dengan agendanya sendiri; menghadirkan kekacauan luar biasa guna merebut singgasana sang calon raja baru. Hasilnya, Osiris terbunuh, sementara Horus kalah dalam sebuah pertarungan, tidak hanya kehilangan posisinya sebagai raja, ia juga harus merelakan kedua matanya di ambil paksa Set dan menerima hukuman diasingkan. Dari sini, siapa sangka nasib Mesir dan para dewa ternyata bergantung pada sosok manusia bernama Bek (Brenton Thwaits).

Jujur, premis yang ditawarkan Gods of Egypt memang jauh dari mitologinya, namun susah untuk menyangkal bahwa modifikasi elemen Shakespearean klasik dengan segala perebutan kekuasaan antar anggota keluarga kerajaan para dewa-dewi yang tersaji dalam ranah fantasi ini menarik. Sayang konsep hanya sebatas konsep, karena di lapangan duo penulisnya, Matt Sazama dan Burk Sharpless gagal menghadirkan sebuah kedalaman cerita yang cukup untuk membuat penontonnya bisa terikat dan peduli dengan nasib para karakternya. Ya, mengecewakan memang melihat sebuah potensi menarik terbuang percuma begitu saja dengan segala presentasi yang serba kacau, bahkan spesial efek vaganza yang menjadi daya tarik utamanya selain dua aktor utamanya yang terlihat cakep menggunakan pedang dan sandal juga jauh dari luar biasa. Bayangkan, dengan bujet yang menyentuh 140 juta Dolar, kualitas CGI Gods of Egypt hanya sedikit lebih baik dari sinetron laga naga Indosiar, bahkan CGI dari video game next gen saja masih jauh lebih keren. Oke, mungkin saja kamu bisa mengesampingkan kualitas cerita mediokernya, toh, kita tahu bahwa Gods of Egypt diciptakan bukan buat bersaing mendapatkan penghargaan Oscar buat naskah terbaik 2017 nanti, masalahnya, adegan aksi yang diharapkan ternyata juga tidak terlalu perkasa. Kamu bisa memasukkan Gods of Egypt dalam kategori film tanpa otak yang berisik, di satu sisi melihat segala kehebohan dan kekacauan yang dihasilkan bisa menjadi sebuah tontonan menghibur berskala besar namun di sisi lain ia tidak jarang terlihat murahan dan konyol, tak jarang kita menertawakan segala kebodohan narasi dan karakternya, belum lagi beberapa visual efeknya yang kasar, seperti proses transformasi yang buruk dan pertarungan yang jauh dari kata mengesankan, ya, beruntung ia masih punya cukup stok pemanis yang efektif dari misalnya Courtney Eaton sebagai Zaha yang cantik atau Chadwick Boseman yang mampu menghadirkan eksotisnya dewi Thoth, ya, setidaknya buat kaum adam yang menonton.